Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Pengaruh status penguasaan lahan dan adopsi teknologi terhadap produksi padi sawah di provinsi sentra padi di Indonesia
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2025-12-31) Ariani, Mewa; Tarigan, Herlina; Suhartini, Sri Hastuti; Ariningsih, Ening; Sumedi; Savitri, Sheila; Suryani, Erma; Mardianto, Sudi; Sunarsih
Hasil Sensus Pertanian 2023 menunjukkan peningkatan jumlah petani gurem yang mendorong adopsi strategi adaptif berupa penguasaan lahan nonpemilikan. Status penguasaan lahan ini memengaruhi keputusan penggunaan input dan teknologi yang berpotensi menurunkan produksi padi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh status penguasaan lahan dan adopsi teknologi terhadap produksi padi sawah. Survei dilakukan pada tahun 2021 di sepuluh provinsi sentra produksi padi di Jawa dan luar Jawa, mencakup 20 kabupaten dan 39 kecamatan dengan total responden 1.950 petani. Responden dipilih berdasarkan proporsi status penguasaan lahan. Data dianalisis secara deskriptif dan regresi linier berganda menggunakan fungsi produksi Cobb-Douglas. Hasil kajian menunjukkan bahwa tidak semua petani pemilik menggarap lahannya karena keterbatasan modal dan tenaga kerja. Lahan milik tersebut dikuasakan kepada kerabat atau orang kepercayaan dalam satu desa melalui mekanisme sewa, sakap, atau gadai. Mayoritas petani telah mengadopsi benih ungggul bersertifikat, pupuk kimia, dan alat mesin pertanian, namun sistem tanam masih didominasi sistem tegel. Hasil regresi menunjukkan benih dan pupuk secara signifikan dan positif memengaruhi produksi padi, sedangkan penguasaan lahan sewa dan gadai menunjukkan pengaruh sebaliknya. Dari hasil kajian ini direkomendasikan untuk pencapaian swasembada beras, volume bantuan benih dan pupuk bersubsidi per hektare perlu ditingkatkan dan cakupan jumlah petani penerima bantuan diperluas, terutama di luar Jawa. Selain itu, perlu dilakukan penyuluhan kepada petani bukan pemilik lahan untuk meningkatkan pemahaman mereka mengenai pentingnya penggunaan teknologi usaha tani padi secara tepat untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatannya.
Item
Pemanfaatan Teknik Markah Molekuler Untuk Perbaikan Varietas Padi
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Susanto, Untung; Sutrisno; Aswidinnoor, Hajrial
Pendahuluan
Pemuliaan tanaman bersama dengan teknik produksi lainnya telah berperan dalam peningkatan produksi pangan dunia. Varietas IR64 yang dilepas pada tahun 1984 merupakan salah satu mega variety dan telah banyak dijadikan tetua dalam program pemuliaan; untuk perbaikan sifat ketahanan terhadap hama/penyakit, toleransi terhadap cekaman lingkungan abiotik, dan potensi hasil.
Pemuliaan tanaman menerapkan prinsip-prinsip genetika untuk perbaikan varietas tanaman dalam pengaplikasian disiplin ilmu agronomi, botani, genetika, sitogenetika, genetika molekuler, fisiologi, patologi, entomologi, biokimia, dan statistik. Seiring dengan perkembangan ilmu-ilmu pendukung tersebut, teknik pemuliaan tanaman pun berkembang dan memberikan harapan untuk keberhasilan dan efisiensi yang tinggi.
Salah satu momentum penting dalam penelitian tanaman padi adalah selesainya sekuensing genom tanaman padi, khususnya varietas Nipponbare subspesies Japonika dan kultivar 93-11 subspesies Indika. Data sekuen tersebut dapat diakses oleh publik dan tersedia di beberapa website, di antaranya http://www.ncbi.nlm.nih.gov, http://www. gramene.org, dan http://www.ebi.ac.uk. Kemajuan penelitian genomik tanaman padi tersebut memberikan terobosan dalam biologi molekuler, yang pada gılırannya memberikan terobosan pula dalam ilmu pemuliaan tanaman.
Selain sekuensing genom tanaman padi, tonggak penting dalam penelitian padi adalah ditemukannya markah molekuler berbasis DNA, seperti RFLP (restriction fragment length polymorphism), AFLP (amplified fragment length polymorphism), SSR (simple sequence repeated), dan SNP (single nucleotide polymorphism). Di antara markah molekuler tersebut, SSR banyak dipakai karena sifatnya yang relatif praktis (PCR base), akurat, tingkat polymorphicnya tinggi, memungkinkan multiplex (pengamatan beberapa markah sekaligus), dan sebarannya merata di seluruh bagian genom padi.
Item
Menelisik masa depan kakao berkelanjutan: menjembatani kesenjangan kesediaan membayar konsumen di Indonesia
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2025-12-31) Yuda, Wednes Aria; Guritno, Adi Djoko; Suyantohadi, Atris
Keberlanjutan agribisnis kakao di Indonesia mengalami hambatan karena kurangnya kesediaan konsumen untuk membayar lebih untuk produk cokelat berkelanjutan. Willingness to Pay (WTP) menjadi penting untuk menentukan sejauh mana pasar lokal mau mendukung keberlanjutan yang terhubung dengan kesejahteraan petani kakao di sisi hulu dan kualitas kakao premium. Penelitian ini bertujuan mengungkap faktor penyebab keengganan tersebut dan implikasinya terhadap kebijakan pertanian. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 340 konsumen dan dianalisis dengan model regresi logistik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kesadaran lingkungan, persepsi manfaat, dan harga secara signifikan mempengaruhi penentu utama WTP dengan rata-rata Rp11.228 dengan median Rp12.500. Generasi muda (usia 18−24 tahun) menunjukkan WTP tertinggi sebesar Rp12.114, yang sebagian besar dipengaruhi oleh promosi di media sosial. Faktor utama penentu WTP adalah kesadaran lingkungan, persepsi manfaat sosial kepada petani, dan sensitivitas harga. Temuan ini menegaskan adanya attitude behavior gap, di mana kesadaran tidak selalu terwujud dalam perilaku pembelian. Dari hasil penelitian ini direkomendasikan perlunya penerapan kebijakan terpadu berupa kampanye digital untuk meningkatkan kesadaran, penyediaan subsidi bagi petani kakao berkelanjutan, dan penerapan sertifikasi berbasis blockchain untuk menciptakan rantai pasok dokumen yang jelas guna mengatasi masalah kepercayaan konsumen atas klaim keberlanjutan.
DOI: https://doi.org/10.21082/akp.v23n2.2025.177-194
Item
Pengelolaan kebun induk untuk mengurangi biaya produksi benih kelapa hibrida
(PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN INDUSTRI, 1988-08) Novarianto h., h. tampake, t. rompas dan z. mahmud
Tanaman kelapa merupakan komoditi sosial kedua setelah padi, karena melibatkan lebih dari tiga juta keluarga petanih yang tersebar di berbagai daerah. Masalah utama yang dihadapi petani kelapa adalah rendahnya produktifitas tanaman Kehadapier petata dan perlu ditingkatkan melalui peremajaan dengan kelapa Phibrida Genjah x Dalam. Untuk memproduksi benih kelapa hibrida Genjah Dalam dilakukan dengan sistim kebun induk. Ada dua tipe kebun induk yang digunakan, yakni sistim blok terpisah (persilangan buatan) dan sistim blok campuran (persilangan alami). Sistim blok terpisah yakni tetua jantan Secara terpisah sehingga memerlukan persilangan buatan. Sistim blok campuran, tetua jantan dan betina berada dalam satu
Item
Keragaan pengusahaan nilam di indonesia
(PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TANAMAN INDUSTRI, 1988-08) ludi maulidi
Keragaan pengusahaan nilam di Indonesia dibahas dalam tulisan Ini. Tujuannya adalah untuk memberikan sedikit gambaran tentang nilam dan aspek sosial ekonominya. Ditinjau dari aspek sosial, pengusahaan nilam di Indonesia menyerap tenaga kerja yang cukup besar, karena 70% dari modal yang ditanam merupakan tenaga kerja. Berdasarkan proyeksi areal tanaman nilam pada tahun 1988, maka pembudidayaan nilam akan menyediakan lapangan kerja sekitar 4.839.250 hari orang kerja per tahun atau sekitar 13.825 hari orang kerja per hari. Pengusahaan nilam di Indonesia memberikan andil yang cukup besar dalam menghasilkan devisa negara. Dari data ekspor minyak atsiri tahun 1986, minyak nilam memberikan devisa paling besar (50,11%) dari total ekspor minyak atsiri.