Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Traktor Kura-kura: Alat Pengolah Tanah Alternatif di Lahan Sawah dan Rawa Pasang Surut
(Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Pangan, 1995) E. Eko Ananta; Trip Alihamsyah; Inu G. Ismail
Tujuan pengolahan tanah basah adalah menciptakan kondisi lumpur yang sesuai bagi penumbuhan padi. Alar pengolah lanah yang biasa dig unakan di lahan sawah antara lain adalah bajak. garu/gelebek dan rotovator yang dirarik Oleh traktor tangan. retapi sulit beroperasi di lahan sawah dalam dan lahan rawa pasang surut. Untuk mengalasinya relah dicari alternarif dengan mengembangkan traktor kura-kura (hydrotiller). Hasil pelumpuran yang baik diperoleh dengan mengubah panjang gigi rotor dari 3 cm menjadi 7 cm. Dengan riga kali lintasan diperoleh hasil cukup baik. kapasiras kerja O, I I ha/jam dan O. 08 ha/jam, masing.masing untuk rrakrorkura.kura ukuran besar (lebar cm) dan kecil (lebar 75 cm). Persyaratan yang harus dipenuhi unruk operasi rraktor kura-kura adalah kecukupan air. Dengan harga traktOr Rp 2.250. OOO (besar) dan Rp I. 750. OOO (kecil). tingkat bunga per lahun 24% dan hari kerja pengolahan ranah 60 hari per tahun. diperoleh biaya pokok pengolahan 'anah sebesar Rp 30.873 dan Rp 31.353 per hekrar, masing -masing umuk rrakror ukuran kecil dan besar. Dengan ongkos sewa traktor sampai siap tanam Rp 60. Om per hekrar, diperoleh WC ratio 1,34 dan 1.50; IRR 43% dan 49%. Di lahan pasang surut Karang Agung Ulu. dengan harga 'rakror yang relatif lebih mahal dan hari kerja per tahun yang lebih rendah, penggunaan traktor kura-kura masih menguntungkan.
Item
Teknologi Produksi Kedelai
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013) T. Adisarwanto; Subandi; Sudaryono
Pengembangan budi daya kedelai di Indonesia menghadapi tantangan besar berupa lambatnya adopsi teknologi spesifik lokasi dan penurunan luas panen yang signifikan, meskipun permintaan biji kedelai terus meningkat sekitar 10% per tahun untuk industri pangan dan pakan. Hal ini dipicu oleh status kedelai yang umumnya hanya diposisikan sebagai tanaman penyelang, keterbatasan modal dan tenaga kerja petani, tingginya risiko kegagalan akibat organisme pengganggu tumbuhan (OPT) serta kekeringan, hingga adopsi paket teknologi yang masih parsial. Upaya peningkatan produksi dan pencapaian swasembada dapat ditempuh melalui penambahan areal panen di luar Jawa pada wilayah produksi permanen serta penerapan paket teknologi produksi spesifik agroekologi secara utuh, mulai dari penggunaan benih bermutu tinggi dan varietas unggul adaptif, pengaturan saat dan cara tanam, penggunaan mulsa jerami, pemupukan yang efisien, pengairan pada fase kritis, hingga penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) serta teknik panen yang tepat.
Item
Teknologi Pengolahan Kedelai
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013) Sri Widowati
Kedelai merupakan sumber protein nabati dan minyak bermutu tinggi yang dikonsumsi secara luas di Indonesia, dengan teknologi pengolahan yang terbagi menjadi dua kelompok utama, yaitu produk nonfermentasi dan terfermentasi. Produk olahan nonfermentasi mencakup olahan tradisional seperti tahu dan kembang tahu, hingga industri modern seperti susu kedelai, minyak kedelai, tepung, konsentrat/isolat protein, serta daging tiruan (TVP/SVP). Sementara itu, produk olahan terfermentasi meliputi pangan tradisional unggulan seperti tempe, kecap, dan tauco, serta inovasi modern berupa soyghurt dan keju kedelai (sufu). Proses pengolahan kedelai, khususnya fermentasi pada tempe, tidak hanya menginaktifkan senyawa anti-nutrisi dan menghilangkan bau langu, tetapi juga meningkatkan nilai cerna, daya serap gizi, serta kandungan senyawa bioaktif seperti isoflavon dan antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.
Item
Sumber Daya Lahan untuk Kedelai di Indonesia
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2013) A. Abdurachman Et al.
Upaya peningkatan produksi kedelai nasional guna menutupi defisit kebutuhan pangannya ditempuh melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi berbasis evaluasi potensi sumber daya lahan. Berdasarkan penilaian spasial pada skala tinjau (1:250.000) di 12 provinsi, Indonesia memiliki potensi lahan sesuai yang signifikan bagi pengembangan kedelai, yakni sekitar 3,5 juta hektar kategori potensi tinggi (P1) dan 3,7 juta hektar kategori potensi sedang (P2). Kendati demikian, sebagian besar lahan potensial tersebut—khususnya di Jawa, Bali, NAD, Lampung, dan NTB—telah dimanfaatkan untuk komoditas lain, sehingga peluang perluasan lahan baru (ekstensifikasi) lebih diprioritaskan pada optimalisasi lahan terlantar berupa semak belukar/alang-alang yang mencapai puluhan juta hektar, serta skema sistem tanam rotasi atau tumpang sari. Di sisi lain, pemanfaatan lahan di luar Jawa (seperti Pulau Sumatera) dihadapkan pada faktor pembatas utama berupa tingkat kesuburan tanah yang rendah (didominasi Inceptisols dan Ultisols), sehingga keberhasilan pengembangannya membutuhkan masukan teknologi yang cukup tinggi meliputi pemupukan, pengapuran, perbaikan drainase, serta kepastian status kepemilikan lahan.
Item
Standar Mutu Biji Kedelai
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2015) Erliana Ginting; I K. Tastra
Penerapan Standar Nasional Indonesia untuk mutu fisik biji kedelai (SNI 01-3922-1995) di tingkat petani masih menghadapi hambatan akibat belum optimalnya adopsi teknologi pascapanen mekanis serta ketiadaan insentif harga berbasis mutu. Kondisi ini menyebabkan rantai pemasaran di tingkat petani dan pedagang pengumpul cenderung mengabaikan pemisahan mutu (grading), sementara pengrajin industri olahan seperti tempe, tahu, dan kecap memiliki preferensi spesifik terhadap warna, ukuran, dan kadar protein kedelai. Oleh karena itu, pengembangan standar mutu kedelai perlu direvisi dengan mempertimbangkan sifat fisik, kimia, dan viskoelastis biji, serta memperhitungkan aspek keamanan pangan—termasuk ambang batas residu pestisida, kontaminasi aflatoksin, dan kepatuhan terhadap regulasi produk rekayasa genetik (transgenik). Upaya peningkatan mutu ini memerlukan penguatan kemitraan antara petani, penjual jasa alsintan, dan industri pengolahan melalui penerapan Good Agricultural Practices, Good Handling Practices, dan Good Manufacturing Practices yang didukung oleh kebijakan insentif harga jual.