Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
PENGARUH KADAR AIR DAN KEMASAN TERHADAP VIABILITAS BENIH JAMBU METE
(PUSAT PENELITIAN TANAMAN INDUSTRI, 1986-01) R.A. SUWIGNYO
Penelitian menguji pengaruh kadar air benih dan jenis kemasan terhadap viabilitas benih jambu mete selama penyimpanan. Benih dengan kadar air 9,63% menunjukkan viabilitas lebih baik dibandingkan kadar air 12,23% dan 17,94%. Kemasan plastik memberikan hasil yang lebih baik terhadap daya berkecambah, tinggi bibit, dan berat kering bibit dibandingkan kemasan lainnya.
Item
HASIL PERCOBAAN ENAM VARIETAS LADA DI BANGKA
(PUSAT PENELITIAN TANAMAN INDUSTRI, 1988) HENDRIK KAAT dan ZAINAL MAHMUD
Penelitian membandingkan hasil enam varietas lada, yaitu Lampung Daun Lebar, Lampung Daun Kecil, Bangka, Jambi, Cunuk, dan Kuching. Hasil menunjukkan bahwa Lampung Daun Lebar memiliki produksi yang nyata lebih tinggi dibandingkan Lampung Daun Kecil, Jambi, Cunuk, dan Bangka, tetapi tidak berbeda nyata dengan varietas Kuching.
Item
PENGARUH BEBERAPA MACAM BIAK RHIZOBIUM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KEGIATAN PENAMBATAN NITROGEN PADA INDIGOFERA ARRECTA
(PUSAT PENELITIAN TANAMAN INDUSTRI, 1986-01) TITIK K. PRANA, S. ABDULKADIR dan H. JULISTIONO
Penelitian mempelajari pengaruh beberapa biak Rhizobium terhadap pertumbuhan dan penambatan nitrogen pada Indigofera arrecta. Biak No. 85, AR, dan HIR memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan tanaman kontrol. Semua tanaman yang diinokulasi mampu membentuk bintil akar, sedangkan jumlah bintil tidak menunjukkan pengaruh yang berarti terhadap pertumbuhan tanaman sampai umur enam minggu.
Item
PENGARUH TINGKAT DAN JANGKA WAKTU LENGAS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KAPAS
(PUSAT PENELITIAN TANAMAN INDUSTRI, 1986-01) SOENARDI
Penelitian menguji pengaruh kadar lengas tanah dan lamanya tanaman berada pada kondisi tersebut terhadap pertumbuhan dan produksi kapas. Kadar lengas yang digunakan adalah 100%, 75%, dan 50% kapasitas lapangan dengan jangka waktu 60–140 hari. Hasil tertinggi diperoleh pada kadar lengas 100% selama 140 hari, sedangkan hasil terendah pada kadar lengas 50% selama 60 hari.
Item
Peranan Penelitian Sosial Ekonomi dalam Pengembangan Industri Gula
(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-03-01) Susmiadi, Ali; Kuntohartono, Tonny
Memuruknya situasi gula nasional hingga puncaknya pada tahun 1981 dengan lonjakan impor mencapai 0,83 juta ton atau 46 persen dari kebutuhan konsumsi mendorong pemerintah menerapkan dua kebijakan strategis sejak tahun 1975. Kebijakan tersebut meliputi pengembangan Sistem Tebu Rakyat (melalui pola TRI di Jawa-Lampung serta PIR di Kalimantan Selatan) dan peningkatan kapasitas pabrik gula melalui rehabilitasi di Jawa serta pembangunan pabrik baru di luar Jawa. Upaya ini bertujuan mencapai swasembada, mengurangi ketergantungan internasional, menaikkan pendapatan petani, memeratakan pembangunan, dan memperluas kesempatan kerja. Meskipun produksi gula nasional melonjak lebih dari dua kali lipat dengan laju rata-rata 8,7 persen per tahun dan sempat mengantarkan Indonesia pada swasembada tahun 1984–1986, evaluasi menunjukkan adanya kendala mendasar. Peningkatan produksi total murni didorong oleh perluasan areal tanam akibat meningkatnya kebutuhan bahan baku, sementara produktivitas lahan justru merosot sekitar 3,0 persen per tahun. Penurunan produktivitas ini menghambat upaya peningkatan pendapatan petani secara relatif maupun absolut. Selain itu, pembangunan industri gula baru di luar Jawa berjalan lambat sehingga konsentrasi industri tetap berada di Jawa, dengan kontribusi luar Jawa yang baru mencapai sekitar 15 persen akibat rendahnya produktivitas. Secara keseluruhan, berbagai tujuan strategis tersebut belum sepenuhnya tercapai karena pelaksanaan di lapangan dihadapkan pada kompleksitas masalah sosial-ekonomi di samping berbagai kendala teknis.