Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Varietas Unggul Sebagai Upaya Menekan Impor Kedelai
(Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Aneka Kacang, 2026-02-13) Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Aneka Kacang
Item
Kolaborasi Swasta, Pemerintah, dan Pemda dalam Pengembangan Sentra Pemberdayaan Petani
(IAARD Press, 2015-11-10) Pratomo (Direktur Eksekutif Yayasan Obor Tani)
Item
Peran Penting Pemanfaatan Pengetahuan Tasit dalam Rangka Pemberdayaan dan Peningkatan Kesejahteraan Petani
(IAARD Press, 2015-11-10) Milindri, Askaria
Dunia petani bukanlah tanpa bentuk (amorphous), tanpa struktur, melainkan suatu dunia teratur dengan bentuk-bentuk organisasi dan pengetahuan khas. Kealpaan terhadap fakta ini menyebabkan para pengambil kebijakan tidak mampu menembus rintangan pola-pola kehidupan petani, termasuk peningkatan kesejahteraan petani. Kepemilikan modal pengetahuan dan proses pembelajaran merupakan langkah awal peningkatan kesejahteraan petani. Kajian terhadap pengetahuan menyatakan bahwa pengetahuan diciptakan, dibagikan, dan dipindahkan lebih banyak menggunakan pengetahuan tasit (pengetahuan bawaan dari leluhur, tahu bagaimana melakukan sesuatu, pengalaman individual, atau soft skill) antarpersonal daripada menggunakan pengetahuan eksplisit (pengetahuan tersistematis, pengetahuan formal, hard skill, pengetahuan yang terdapat pada buku teks, atau panduan formal). Pengetahuan eksplisit mencerminkan sentralisasi, pembakuan pengetahuan, dan tanpa memperhatikan latar belakang petani (seperti budaya daerah, nilai, norma/aturan, kondisi geografis, kelembagaan, dan perubahan perilaku). Itulah sebabnya orientasi pada pengetahuan eksplisit saja bagi para petani tidaklah cukup karena petani pun juga sudah memiliki pengetahuan sebelumnya mengenai dunia mereka. Oleh sebab itu, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan pengetahuan tasit petani dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan petani. Metode penelitian yang digunakan adalah systematic review dengan teknik kualitatif (metasintesis) dalam mensintesis atau merangkum dari berbagai hasil penelitian terkait tujuan yang diteliti. Pendekatan sosiologi pengetahuan juga digunakan dalam menjelaskan penelitian ini.
Item
Budi Daya Kelapa Sawit
(Pertanian Press, 2025) Direktorat Jenderal Perkebunan
Tanaman kelapa sawit (Elaeis guinensis Jacq) adalah tanaman yang tergolong famili palmae yang menghasilkan minyak. Teknis budi daya tanaman sawit ysng dijelaskan dalam leaflet ini meliputi faktor lahan dan agroklimat yang sesuai untuk tanaman sawit, pemilihan benih unggul dan penanganan benih tanaman, penanaman benih, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama dan penyaklit, serta penentuan waktu panen dan sistem panen.
Item
Penanganan Pascapanen Tanaman Olahan Karet
(Pertanian Press, 2025) Direktorat Jenderal Perkebunan
Tanaman karet merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan strategis. Getah yang dihasilkan dari pohon karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Pada umumnya hasil dari perkebunan rakyat adalah bahan olah karet (bokar) berupa lateks kebun, lum, slab dan sit angin/asap dengan mutu yang masih bervariasi. Bahan olah karet diperoleh dari hasil penyadapan tanaman karet umur 5 tahun ke atas, dengan lilit batang lebih besar dari 45 cm, posisi batang sadap berada 1 meter di atas pertautan okulasi, dan alat sadap yang memadai. Pelaksanaan penyadapan memperhatikan waktu penyadapan pada pagi hari sebelum matahari terbit. Aturan teknis penyadapan terdiri dari: irisan sadap membentuk spiral dari kiri atas ke kanan bawah, panjang irisan sadap setengah spiral (1/2 S), tebal penyadapan kulit tiap kali sadap 1,5–2,0 mm, kedalaman sadap berada pada jarak 2–2,5 mm dari kambium, dan frekuensi penyadapan. Selanjutnya dilakukan pemeliharaan dan pemulihan kulit bagian batang, seperti mengoleskan minyak sawit mentah atau bahan pemulih kulit, memberi pupuk K (KCI atau ZK) 2 x dosisi anjuran. Penyadapan dapat kembali dilakukan setelah 5–6 tahun ketika ketebalan kulit sesudah mencapai sedikitnya 7 mm.