Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Pengembangan Biogas Berbasis Kotoran Ternak dalam Rangka Pemberdayaan Potensi Sumber Daya Peternakan Sapi Perah di Jawa Barat
(IAARD Press, 2015-11-10) Agustian, Adang
Secara umum pada kegiatan usaha ternak sapi perah, kotoran ternak seringkali dipandang sebagai limbah dari usaha peternakan yang sulit penanganannya. Oleh karena itu, terdapatnya upaya pengolahan limbah kotoran ternak yang diproses menjadi biogas, selain akan memperoleh keuntungan dalam hal bisnis usaha peternakan juga menimbulkan dampak positif bagi lingkungan. Penelitian ini ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan biogas di Provinsi Jawa Barat dan menganalisis peran pengembangan biogas bagi ekonomi
peternak sapi perah. Kajian dilakukan di Provinsi Jawa Barat, yaitu di sentra peternakan sapi perah Kabupaten Bandung dan Garut pada tahun 2014. Contoh kajian meliputi peternak sapi perah yang melakukan pengolahan kotoran ternak menjadi biogas dan instansi/lembaga terkait penelitian. Hasil kajian diperoleh intisari: 1) pengembangan biogas di Jawa Barat sangat potensial, mengingat potensi limbah berupa kotoran ternak sapi perah cukup besar; 2) implementasi program pengembangan biogas di Jawa Barat selama kurun waktu
2006−2013 telah dilaksanakan di 12 kabupaten dengan jumlah digester mencapai 2.038 unit; 3) pada kegiatan pengelolaan biogas dari kotoran ternak peternak dapat mengoptimalkan pemanfaatan kotoran ternak, yaitu sebagai sumber energi alternatif, sementara sebelumnya pemanfaatannya masih terbatas untuk pupuk dan kerap dianggap menjadi faktor polusi lingkungan; 4) prospek pengembangan biogas berbahan baku kotoran ternak sapi perah di Jawa Barat akan sangat tergantung dari beberapa faktor, seperti masa kelola (pelihara) sapi perah, kelembagaan peternak sapi perah dan introduksi teknologi pengolahan biogas. Untuk pengembangan biogas diperlukan kebijakan, antara lain pengembangannya agar lebih terkoordinasi antarinstansi, pengembangan biogas bersinergi dengan pengembangan ternak sapi, dan perlunya bantuan digester dan peralatan pendukungnya.
Item
Penulis: Muhammad Akmal Agustira, R. Amalia, R. Nurkhoiry [PDF: 315-324] Peran Koperasi Tebu dalam Upaya Pemberdayaan Petani Tebu di Jawa Timur
(IAARD Press, 2015-11-10) Ariningsih, Ening
Jawa Timur merupakan penghasil gula tebu terbesar di Indonesia. Sekitar 85% dari lahan tebu yang ada di Jawa Timur merupakan lahan perkebunan tebu rakyat, yang didominasi oleh petani dengan penguasaan lahan kurang dari 1 hektar dengan keterbatasan akses terhadap sarana produksi maupun pemasaran. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis peran koperasi dalam upaya pemberdayaan petani tebu rakyat. Analisis dilakukan secara deskriptif berdasarkan pengamatan terutama pada koperasi-koperasi tebu primer yang tergabung pada KUB Rosan Kencana sebagai koperasi sekundernya dengan didukung oleh literatur-literatur penunjang yang relevan. Pengambilan data dilakukan pada bulan Oktober-November 2012. Hasil kajian menunjukkan bahwa koperasi tebu rakyat mempunyai potensi sangat besar dalam menunjang pemberdayaan petani tebu melalui pengembangan agribisnis tebu dengan cara: (1) memberdayakan petani melalui kegiatan-kegiatan petani/anggota dalam budi daya tanaman tebu (on farm); (2) berperan secara aktif membantu petani/anggota dalam upayanya meningkatkan kualitas budi daya tanaman tebu; dan (3) memfasilitasi petani/anggota dalam pelatihan-pelatihan, permodalan, pengadaan saprodi, alsintan, dan hal-hal yang diperlukan dalam menunjang kegiatan budi daya tanaman tebu dan pemasarannya.; dan (4) berperan sebagai “jembatan” antara petani, pabrik gula, dan pemerintah. Peningkatan peran koperasi dapat dilakukan melalui: (1) penguatan internal koperasi meliputi penguatan kepemimpinan dan manajemen koperasi, (2) penguatan keterkaitan dengan lembaga penunjang dan PG, dan (3) perluasan usaha koperasi dalam mendukung agribisnis tebu rakyat dalam kerangka pemberdayaan petani tebu.
Item
Program Sawit untuk Rakyat (Prowitra) Sebagai Upaya Peningkatan Produktivitas, Pemberdayaan, Keberlanjutan, dan Kesejahteraan Pekebun Kelapa Sawit Rakyat
(IAARD Press, 2015-11-10) Agustira, Muhammad Akmal; Nurkhoiry, R.; Amalia, R.
Perkembangan kelapa sawit rakyat di Indonesia berkembang begitu cepat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, perkembangan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas. Produktivitas perkebunan sawit Indonesia hanya mencapai 3,19 ton/ha dari potensinya yang mencapai 8−9 ton/ha. Pusat Penelitian Kelapa Sawit sebagai pusat unggulan iptek melakukan Program Sawit Rakyat (Prowitra) dalam upaya peningkatan produktivitas, pemberdayaan, keberlanjutan, dan kesejahteraan pekebun kelapa sawit. Kegiatan Prowitra telah
dilakukan di sembilan provinsi di Sumatera. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kondisi perkebunan rakyat dan kendala pekebun rakyat mencapai produktivitas kelapa sawit, serta peranan Prowitra dalam membantu upaya peningkatan produktivitas, pemberdayaan, keberlanjutan, dan kesejahteraan perkebunan rakyat. Metode yang digunakan adalah participatory rural appraisal (PRA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa terdapat empat permasalahan utama pada perkebunan rakyat, yaitu penggunaan
benih palsu, kurangnya penerapan best management practice (BMP), lemahnya kelembagaan perkebunan rakyat, dan terhambatnya replanting. Untuk itu, Prowitra melakukan empat program kegiatan, yaitu sosialisasi dan peningkatan akses benih unggul, penerapan BMP secara terpadu dan berkelanjutan, penguatan kelembagaan, dan pembinaan replanting. Kunci sukses pelaksanaan Prowitra adalah mengetahui apa yang menjadi permasalahan dan kebutuhan pekebun rakyat. Di samping itu, peran penguatan kelembagaan
perkebunan rakyat sangat berperan penting dalam pengefektifan diseminasi teknologi, pemberdayaan pekebun, serta peningkatan produktivitas dan kesejahteraan pekebun rakyat.
Item
Cara Pintar Pilih Susu Yang Baik
(Pertanian Press, 2025) Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan
Susu mentah (raw milk) adalah susu yang diperah dari ambing sapi sehat tanpa dikurangi atau ditambah apapun dan belum diperlakukan apapun kecuali pendinginan. Mengenali susu murni asli dapat dilakukan dengan mengenali cirinya. Hindari susu mentah yang telah dicampur dan diaduk, serta penambahan bahan lain, seperti dicampur air, skim milk, atau santan. Terdapat tips penanganan dan penyimpanan susu mentah pada peternakan dan pengumpul, serta pada konsumen. Susu harus didinginkan sesegera mungkin (4–10 °C), jangan disimpan dalam ruang yang berbau dan kotor, tampung dengan wadah yang bersih, seperti stainless steel, tidak menggunakan wadah plastik, dan wadah yang mudah berkarat. Sedangkan unutk konsumsi rumahan segera panaskan susu sampai mendidih, jika susu yang dipanaskan tidak langsung dikonsumsi harus disimpan dalam lemari pendingin maksimum 2 hari. Susu yang sudah menunjukkan perubahan fisik
(bau, pecah, menggumpal, berlendir, berubah warna) tidak boleh dikonsumsi.
Item
Metoda Analisa Ekonomi Produksi, Konsumsi, Pendapatan dan Alokasi Tenaga Kerja Keluarga Tani
(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1988-09-01) Simatupang, Pantjar
Tulisan ini merupakan landasan teoritis dari analisa yang dilakukan pada berbagai tulisan dalam prosiding ini. Sudah barang tentu kerangka teoritis yang disusun dalam tulisan ini mungkin tidak merangkum secara lengkap seluruh alur pikiran masing-masing penulis. Ini adalah wajar karena tulisan-tulisan dalam prosiding ini cukup banyak dan terpisah-pisah.
Sesungguhnya kegiatan produksi, konsumsi dan alokasi tenaga kerja keluarga tani adalah saling berhubungan apabila keluarga tani dapat dipandang satu unit ekonomi. Dalam keadaan seperti ini alat analisa yang lebih tepat adalah model keluarga tani (Barnum dan Squire, 1979, Singh et al.,1986). Namun, agar analisa lebih luas dan mendalam maka pembahasan dilakukan secara terpisah-pisah. Dengan demikian banyak peneliti (kelompok peneliti) dapat dilibatkan.
Menurut topik yang dibahas makalah-makalah dalam prosiding ini dapat dikelompokkan menjadi analisa ekonomi produksi, konsumsi, pendapatan dan ketenagakerjaan. Oleh karena itu metoda analisa yang dirumuskan dalam tulisan inipun disesuaikan dengan ragam permasalahan yang ditulis dalam makalah-makalah tersebut. Sekali lagi penulis hanya mencoba menafsirkan kerangka pemikiran para penulis makalah dengan resiko bahwa hal itu bisa saja berbeda dengan apa yang mereka pikirkan.
Di samping untuk mencoba menyusun kerangka teoritis dari analisa yang dipergunakan para penulis prosiding ini, tulisan ini juga dimaksudkan sebagai usaha bertukar pikiran dengan para pembaca. Tulisan ini terutama ditujukan untuk para peneliti dan pemikir ekonomi pertanian secara luas dengan harapan bermanfaat untuk meningkatkan minat penelitian ekonomi pertanian kuantitatif.