Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Analisis Usaha Ternak Itik Alabio di Kalimantan Selatan
(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) Santoso, Budi
Tentu, berikut adalah penyajian ringkasan materi usahatani itik Alabio di Kalimantan Selatan dalam bentuk paragraf mengalir tanpa poin-poin: Kebijakan pemerintah di bidang peternakan berfokus pada peningkatan produksi hasil ternak dan populasi ternak nasional untuk memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat sekaligus menyumbang devisa negara. Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi geografis yang sangat mendukung sebagai sentra pengembangan peternakan, yang ditandai oleh ketersediaan padang alang-alang seluas sekitar 600.000 hektar untuk ternak ruminansia serta kawasan rawa-rawa seluas 500.000 hektar yang sangat ideal bagi usaha peternakan itik. Salah satu komoditas unggulan lokal yang banyak dikembangkan adalah itik Alabio. Meskipun sistem pemeliharaannya mulai bergeser ke model perkandangan, lingkungan rawa-rawa tetap dimanfaatkan secara optimal oleh para peternak sebagai sumber pakan alami seperti ikan kecil, siput air, dan udang. Kendati demikian, keberlanjutan usaha ternak itik Alabio saat ini berhadapan dengan persaingan ketat dari ayam ras yang dinilai lebih unggul dalam efisiensi produksi telur maupun daging. Tantangan ini semakin diperberat oleh kelangkaan bahan pakan tradisional yang murah seperti sagu, sehingga memaksa peternak beralih ke dedak halus dengan biaya operasional yang jauh lebih tinggi. Berlandaskan dinamika ekonomi dan tantangan pakan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk menganalisis pola usaha ternak itik Alabio di daerah penelitian, mengkaji struktur biaya dan pendapatannya, mengevaluasi kontribusinya terhadap penyerapan kesempatan kerja pedesaan, serta mengidentifikasi berbagai faktor produksi yang memengaruhi tingkat output usahatani tersebut.
Item
Keragaan Teknologi dan Pendapatan Usahatani Padi pada berbagai Tipe Lahan di Lampung
(Pusat Penelitian Agro Ekonomi, 1989-08-01) Hendiarto
Dalam rangka mencukupi kebutuhan makanan pokok, pemerintah telah melaksanakan berbagai usaha untuk meningkatkan produksi beras. Usaha-usaha yang telah dilaksanakan diantaranya adalah ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian dalam usahatani. Usaha-usaha tersebut telah membuahkan hasil yang menggembirakan, yakni tercapainya swasembada beras mulai tahun 1984. Untuk mempertahankan keadaan swasembada beras pada tahun-tahun berikutnya, maka laju pertumbuhan produksi padi harus mencapai 2,5 persen per tahun, bila laju pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 2,15 persen per tahun. Program pembangunan pertanian tidak terlepas dari usaha peningkatan kesejahteraan petani. Cara untuk meningkatkan taraf hidup petani diantaranya adalah dengan meningkatkan produktivitas lahan pertanian dan dengan meningkatkan frekuensi tanam. Dengan dibangunnya jaringan irigasi, sawah yang semula hanya dapat ditanami padi satu kali dalam setahun diharapkan bisa menjadi dua kali dalam setahun. Dalam tulisan ini dibahas bagaimana keragaan dan pendapatan usahatani padi di sawah beririgasi dibandingkan dengan sawah tadah hujan di Propinsi Lampung pada musim tanam 1987 dan 1987/1988.
Item
Perkecambahan Benih sebagai Suatu Sistem 109-116
(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Melati
Proses perkecambahan benih merupakan suatu rangkaian kompleks dari perubahan-perubahan morfologi, fisiologi dan biokimia. Proses perkecambahan dapat dianggap sebagai suatu sistem. Untuk mempermudah mempelajari sistem tersebut dapat dilakukan melalui aliran proses perkecambahan yang akhirnya membentuk suatu model perkecambahan. Faktor-faktor yang terlibat dalam perkecambahan benih saling berhubungan satu sama lain, baik itu faktor dalam maupun faktor luar. Model perkecambahan dapat diduga melalui tingkat kemasakan benih, ukuran benih, air, suhu, O2 dan cahaya. Tulisan ini menguraikan perkecambahan benih sebagai suatu sistem yang saling terkait dan membuat model perkecambahan benih berdasarkan bobot benih dan kaitannya dengan viabilitas dan vigor benih. Berdasarkan studi kasus pada benih tanaman jarak didapatkan adanya hubungan yang erat dan bersifat positif antara bobot biji jarak dengan tinggi kecambah, daya berkecambah, indeks vigor dan bobot segar kecambah. Terdapat hubungan erat satu sama lain yang saling mempengaruhi satu sama lain dalam suatu sistem. Semakin berat bobot biji Jarak, maka semakin semakin tinggi viabilitas dan vigor benih. Kata kunci: Sistem, faktor dalam, faktor luar, model perkecambahan, bobot benih
Item
Keragaan Hasil dan Pola Panen Pala di Kebun Percobaan Cicurug 101-108
(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Nurliani Bermawie, Wawan Lukman, Nur Laela Wahyuni Meilawati dan Susi Purwiyanti
Pala merupakan salah satu tanaman rempah asli Indonesia yang berbuah sepanjang tahun, namun volume dan pola panen tanaman pala bervariasi. Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan variasi panen adalah kondisi iklim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi hasil dan pola panen pala dikaitkan dengan kondisi iklim. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode observasi pada 39 aksesi pala yang ditanam tahun 1994, di Kebun Percobaan (KP) Cicurug, Sukabumi (550 mdpl). Pengamatan dilakukan pada produksi buah masak petik setiap bulan dan diakumulasikan per tahun, pada setiap tanaman per aksesi, selama sepuluh tahun (2005-2014). Untuk melihat keeratan hubungan antara kondisi iklim dan produksi buah maka dilakukan analisis korelasi. Hasil observasi selama 10 tahun (2005-2014), panen tertinggi terjadi pada tahun 2011 mencapai 373.788 butir dan terendah pada tahun 2005 hanya 26.456 butir. Pola panen di KP. Cicurug setiap tahunnya dapat dibagi menjadi 3 yaitu musim panen Januari-Maret, April-September dan Oktober-Desember. Juni adalah bulan panen buah tertinggi (26.134,8 butir). Fluktuasi panen per bulan dan per tahun tidak terkait dengan curah hujan dan jumlah hari hari hujan, namun lebih cenderung disebabkan adanya pola fluktuasi tanaman, yang apabila setelah mencapai puncak akan menurun selama 2-3 tahun tahun sampai dengan titik terendah kemudian naik lagi mencapai puncak panen berikutnya. Kata kunci: Myristica spp., pola panen, produksi buah, iklim
Item
Perbanyakan Benih Tanaman Obat Bidara Upas (Merremia mammosa) 87-92
(Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2015-04-01) Tias Arlianti dan Sitti Fatimah Syahid
Tanaman bidara upas merupakan salah satu jenis tanaman obat yang dikategorikan sebagai obat langka. Bidara upas memiliki banyak khasiat diantaranya sebagai immunomodulator, antikanker, obat demam dan anti radang. Upaya penyediaan benih untuk mendukung perbanyakan tanaman diperlukan karena keberadaan jenis ini sudah mulai sulit ditemukan. Bidara upas dapat diperbanyak secara konvensional dengan menggunakan umbi dan setek batang, sedangkan secara kultur jaringan menggunakan tunas aksilar. Perbanyakan dengan umbi merupakan cara terbaik dibandingkan dengan setek maupun kultur jaringan. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengoptimalkan perbanyakan dengan setek dan kultur jaringan. Kata kunci: Merremia mammosa, perbanyakan benih, setek, umbi, kultur jaringan