Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Developing Rice Varieties Tolerant to Abiotic Stresses Through Marker Assisted Backcrossing
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) Mackill, David J.; Septiningsih, Endang; Pamplona, Alvaro M.; Sanchez, Darlene L.; Labios, Romeo V.; Heuer, SIgrid; Ismail, Abdelbagi M.
Abstrak
Perubahan iklim global memicu peningkatan intensitas cekaman abiotik seperti kekeringan, salinitas, dan rendaman banjir, yang secara signifikan mengancam produktivitas padi dan ketahanan pangan global. Pemuliaan tanaman konvensional sering kali membutuhkan waktu lama dan kurang akurat dalam memindahkan sifat toleransi multicekaman tanpa membawa sifat buruk dari tetua donor. Penelitian ini membahas pemanfaatan metode silang balik berbantuan markah molekuler (Marker-Assisted Backcrossing / MABC) untuk mempercepat integrasi Quantitative Trait Loci (QTL) atau gen potensial (seperti Sub1 untuk toleransi rendaman, QTL kekeringan, dan SalT untuk salinitas) ke dalam varietas padi unggul lokal (elite mega-varieties). Melalui seleksi depan (foreground selection) dan seleksi latar belakang (background selection), MABC berhasil memulihkan genom tetua penerima hingga lebih dari 90% hanya dalam 2 hingga 3 generasi silang balik. Hasil evaluasi fenotipe menunjukkan bahwa galur padi hasil piramidisasi gen (MABC) menunjukkan tingkat kelangsungan hidup dan stabilitas hasil panen yang tinggi di bawah tekanan cekaman lingkungan tanpa menurunkan potensi hasil pada kondisi normal. Strategi MABC terbukti menjadi alat yang efisien, presisi, dan cepat dalam merakit varietas super masa depan yang adaptif terhadap perubahan iklim.
Abstract
Global climate change drives the increasing intensity of abiotic stresses, such as drought, salinity, and submergence, posing a significant threat to rice productivity and global food security. Conventional crop breeding often requires a long time and lacks precision in transferring multi-stress tolerance traits without introducing linkage drag from donor parents. This study discusses the utilization of Marker-Assisted Backcrossing (MABC) to accelerate the integration of major Quantitative Trait Loci (QTLs) or target genes (such as Sub1 for submergence, drought QTLs, and SalT for salinity) into elite mega-varieties. By employing foreground and background selections, MABC successfully recovers more than 90% of the recurrent parent genome within only 2 to 3 backcross generations. Phenotypic evaluations demonstrate that the gene-pyramided lines generated via MABC exhibit high survival rates and yield stability under environmental stresses while maintaining original yield potential under non-stress conditions. The MABC strategy is proven to be an efficient, precise, and high-throughput tool for developing climate-resilient super rice varieties for the future.
Item
Towards Enhanced and Sustained Rice Productivity in Flood-Prone Areas of South and Southeast Asia (Menuju Peningkatan dan Keberlanjutan Produktivitas Padi di Wilayah Rawan Banjir di Asia Selatan dan Asia Tenggara)
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) Ismail, Abdelbagi M.; Vergara, Georgina; Mackil, David J.
Abstrak
Padi merupakan tanaman utama di sebagian besar wilayah tadah hujan dan rawan banjir di Asia Selatan dan Asia Tenggara, yang menjadi sumber pangan bagi jutaan keluarga petani subsisten. Produktivitas padi di ekosistem ini tergolong rendah karena belum tersedianya varietas unggul yang toleran terhadap cekaman abiotik yang umum terjadi. Kondisi hidrologis di wilayah ini sangat berat dan sulit diprediksi, sehingga sering terjadi banjir berulang dan terkadang cekaman kekurangan air. Kendala utama dalam ekosistem ini meliputi pertumbuhan awal tanaman yang buruk pada area tanam benih langsung, tingkat kelangsungan hidup yang rendah saat terjadi perendaman pada padi sistem pindah tanam, serta hasil panen yang rendah di area dengan genangan air diam dan air dalam. Pemahaman kita mengenai kendala dan tantangan yang dihadapi petani di wilayah-wilayah ini terus berkembang, dan prospek peningkatan produktivitas pun semakin terbuka lebar. Upaya pengembangan harus difokuskan pada penciptaan dan penyebaran varietas unggul tangguh yang menggabungkan toleransi terhadap berbagai cekaman utama, disertai dengan strategi pengelolaan tanaman dan hara yang tepat. Penggabungan gen toleransi rendaman *Sub1* dengan toleransi terhadap banjir saat perkecambahan serta toleransi terhadap banjir parsial jangka panjang akan menghasilkan varietas dengan daya adaptasi luas yang dapat ditanam oleh petani di wilayah yang sangat luas. Pilihan strategi pengelolaan mencakup peningkatan kesehatan bibit di persemaian melalui pengaturan kepadatan benih dan pengelolaan hara yang tepat, penanganan serta pengelolaan air dan hara yang baik saat pindah tanam, serta pengelolaan hara pascabanjir yang tepat untuk mendukung pemulihan tanaman, pembentukan anakan, dan peningkatan hasil panen. Di sebagian besar wilayah tadah hujan dan rawan banjir, terdapat potensi besar untuk pertanian musim kemarau; potensi ini dapat dimanfaatkan jika tersedia modal awal dan infrastruktur yang memadai, serta akses bagi petani terhadap varietas dan strategi pengelolaan yang tepat.
Abstract
Rice is the major crop in most rainfed and flood prone environments of South and Southeast Asia providing food for millions of subsistence farming families. Rice productivity in these ecosystems is quite low because of the unavailability of high-yielding varieties tolerant of prevailing abiotic stresses. Hydrological conditions are particularly harsh and unpredictable, leading to recurrent floods and sometimes, water deficit stress. Major constraints in these ecosystems include poor initial crop establishment in direct seeded areas, poor survival upon submergence in transplanted rice, and poor yield in stagnant flood and deepwater areas. Our understanding of the constraints and challenges facing farmers in these areas is progressively advancing, and prospects for increasing productivity are becoming increasingly dissemble. These scenarios should mainly focus on the development and deployment of resilient high yielding varieties combing tolerance of the most prevailing stresses, accompanied with their proper crop and nutrient management strategies. Combining the submergence tolerance gene Sub I with tolerance to flooding during germination as well as to longer-term partial flooding will result in varieties that are widely adapted and could subsequently be grown by farmers in vast areas. Management options should then include improving seedling health in the nursery through proper seed rate and nutrient management, proper handling and water and nutrient management upon transplanting, and proper post-flood nutrient management to enhance recovery, tillering and yield. In most of rainfed and flood-prone areas, great potential exists for dry season farming, which could be exploited given initial capital and infrastructure, and proper varieties and management strategies were made accessible to farmers.
Item
Fenomena Perubahan Iklim dan Dampaknya Terhadap Ketahanan Pangan di Indonesla
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) Susandi, Arml; Tamamadin, Mamad; Nurlela, Irma
Abstrak
Pertanian merupakan sector yang paling penting bagi nusyarakat In- donesia. Akan tetapi, fenomena perubahan iklim akan selalu menyebabkan degradasi produksi panennya. Temperatur yang terus mengalami kenaikan menyebabkan melernahnya pertumbuhan padi. Selain itu, pergeseran musim juga akan mengakibatkan para petani sulit menentukan waktu mulainya penanarnan padi. Dalarn peneli tian ini, akan rnencoba mengestjmasi seberapa besar pengaruh pembahan iklim terhadap penurunan produksi panen petani, dengan asurnsi sebagai implikasi dari kenaikan ternperatur dan pergeseran awal musim hujan. Selanjutnya, juga akan diproyeksi besarnya perubahan produksi pertanian yang terjadi di rnasa depan. Metode yang dilakukan adalah kajian korelasi antara perubahan temperatur dengan crop pro. duction serta korelasi antara perubahan curah hujan dan crop production, dengan studi kasus di wilayah Sentra produksi pangan di Indonesia. Hasil penelitian berupa peta spasial proyeksi perubahan hasil produksi pertanian untuk tahun 2010, 2020. dan 2030. Proyeksi tersebut menunjukkan adanya penurunan produksi padi yang berbanding terbalik dengam perubahan temperatur, terutarna di daerah sentra produksi padi.
Abstract
The Phenomena of the Climate Changes and Its Impact on The Food Security in Indonesia. The agriculture sector provides the roost important contribution to the economy of the people of Indonesia. Unfortunately, the changes in climate many time caused a considerable yield degradation of their farming. The continuous increase of temperature may weaken the growth of the rice plants. Other than this, the shift in the planting season makes the farmers difficult to determine the start of the cropping season of the rice plants. The experiment tried to estimate the effect of changes in climate on the yield of rice as resulted from the changes in temperature and the shifting of the rainy season. The experiment will also predict the changes in the agricultural production due to these above-mentioned factors. In this experiment, a correlation between the changes of temperature and the crop production, and between the changes of the rainfall and the crop production, was applied. The result of the experiment was a spatial map projecting the changes of the agricultural production during the year of 2010, 2020, and 2030. The projection indicated that the changes in rice yield were negatively correlated to temperature changes, especially which occurred in the production center of the rice crop.
Item
Antisipasi Perubahan Iklim, Inovasi Teknologi dan Arah Penelitian Padi di Indonesia
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) Las, Irsal; E. Surmaini; A. Ruskandar
Abstrak
Dampak potensial dari perubahan iklim terhadap sektor pertanian adalah menurunnya produksi dan produktivitas pertanian sebagai akibat dari peningkatan Suhu udara, peningkatan permukaan air laut, perubahan pola hujan, dan peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrim. Penurunan produksi tentu Saja berpengaruh langsung terhadap tingkat kesejahteraan petani, yang merupakan kelompok masyarakat yang kurang sejahtera dan paling rentan terhadap perubahan iklim. Di sisi lain lahan pertanian di Indoensia merupakan sumber utama emisi gas metana. Berbagai hasil penelitian menyebutkan total emisi CH. dari lahan padi sawah di Indonesia bervariasi antara 2,2-6,2 juta ton CH/tahun atau setara dengan 46,2-130 juta ton Coze. Konsorsium penelitian dan pengembangan Perubahan Iklim Sektor Pertanian (KP31) pada tahun 2008 melakukan penghitungan ulang emisi menyatakan bahwa pelepasan CH, dari Jahan sawahdi Indonesia ke atmosfer adalah 1 ,72 Juta ton atau setara dengan 39,63 juta ton Coze. Namun disisi lain sektor pertanian juga merupakan penyedia cadangan karbon yang tidak dapat diabaikan. Cadangan karbon dari sektor pertanian meliputi tanah gambut dan lahan perkebunan, Cadangan karbon gambut Indonesia diperkirakan sekitar 40 Gt. Tanaman perkebunan merupakan penambat (seques- ter) karbon terbesar di antara berbagai jenis komoditas pertanian. Peluang peningkatan rosot karbon adalah dengan konversi hutan primer dan alang alang atau semak belukar menjadi lahan Perkebunan. Untuk menetapkan strategi penanggulangan perubahan iklim, termasuk strategi dan arah penelitian padi, perlu kajian dan analisis yang komprehensif untuk mengetahui dan memahami dampak pembahan iklim terhadap sistem produksi secara kuantitatif. Ada dua pendekatan untuk menigkatkan kelenturan (resilience) pertanian terhadap perubahan iklim, yaitu mitigasi dan adaptasi. Teknologi mitigasi bertujuan untuk mengurangi emisi Gas Rumah Kaca dari lahan pertanian khususnya pada lahan pertanaman padi sawah, antara lain: (a) penggunaan varietas yang rendah emisi, seperti Ciherang, Cisantana, Tukad Balian, Way Apo Buru, Batanghari, dan Tenggulang, (b) penggunaan pupuk urea tabletjprill dan pupuk A, dan (c) penerapan teknologi tanpa Oleah tanah, dan irigasi interrnitten. Teknologi adapatasi bertujuan untuk meningkatan kemampuan penyesuaian dengan perubahan iklim, antara lain dengan pengembangan teknologi varietas unggul toleran salinitas, kekeringan, dan rendaman.
Abstract
Potential impact of climate change on the agricultural sector is declining agricultural production and productivity as a result of the increased temperature, increased sea surface water, changes in rainfall patterns, and increased frequency of extreme climate events. Decline of production, directly affect the welfare of farmers, which is less prosperous and the most vulnerable to climate change. On the other hand, Ricefield in Indonesia is the main source of gas emission methane. Research results indicate that total CH, emissions from rice paddy field in Indonesia vaned between million tons, equivalent CH4/year with 46,2-130 million tonnes Coze. Consortium of Research and Development of Agriculture Sector on Climate Change (KP31) in the year 2008 to the recalculate CH4 emissions from rice field is I .72 million tons, equivalent to 39.53 million tons of Coze. However, the other agriculture sub sector is a potential carbon sequester that cannot be ignored. Carbon stock from agricultural land especially from peatland and plantation. Peat land in Indonesia reserves estimated at 40 Gt carbon Plantation crops is also a sequester carbon. Opportunities carbon sink is increased with the conversion of primary forest and imperata or shrub land into plantations. To define a strategy for climate change, including strategy and direction of rice re. search, it is necessary to study and comprehensive analysis to identify and understand the impact of climate change on the production system is quantitative. There are two approaches to increase resilience of agriculture to climate change, including mitigation and adaptation. Mitigation technology aims to reduce emissions from greenhouse gasses from agricultural land, especially on paddy fields, among others: (a) use a variety of low-emissions, such as Ciherang, Cisantana, Tukad Balian, Wäy Apo Buru, Batanghari, and Tenggulang, (b) the use of fertilizer such as urea tablet (prill) and 4, and (c) the application of technology without olah land, and irrigation intermittent Adaptation aims to increasing the ability to adjust to climate change, among others, with the development varieties that tolerant to salinity, drought, and flood.
Item
Developments In Natural Resource Management to Support Rice Food Security
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2009-07-24) Singleton, Grant; Gummert, Martin; Palis , Florencia
Abstrak
Irrigated Rice Research Consortium (IRRC) dari IRRI telah terlibat dalam penelitian kolaboratif dengan Indonesia selama 11 tahun terakhir. Cakupan penelitian meliputi pengelolaan hara spesifik lokasi, pembentukan tanaman, penanganan pascapanen, pengendalian gulma, dan pengendalian hama tikus. Sifat kerja sama ini telah menunjukkan perubahan nyata selama satu dekade terakhir, yang mencakup: (i) Pengembangan teori penelitian baru (misalnya, pengelolaan hama berbasis ekologi); (ii) Studi mengenai cara petani beradaptasi dan adopsi teknologi baru yang menyertainya; (iii) Peningkatan kesadaran akan teknologi yang memberikan manfaat lingkungan; dan (iv) Fokus yang lebih kuat pada dimensi sosial yang memengaruhi adopsi teknologi. Secara keseluruhan, kemajuan-kemajuan ini telah memberikan pengaruh besar terhadap kebijakan nasional mengenai produksi padi di agroekosistem lahan sawah irigasi dan lahan tadah hujan yang kondusif. Kapasitas penelitian dan penyuluhan di Indonesia juga telah diperkuat; hasil kerja sama antara IRRC dan berbagai lembaga di Indonesia selama 10 tahun terakhir sungguh mengesankan. Kemitraan ini telah berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan produksi padi yang berkelanjutan di Indonesia. Namun, kami tidak berpuas diri dengan pencapaian tersebut; terdapat sejumlah proyek penelitian kolaboratif yang sedang dalam tahap awal pengembangan, khususnya terkait penggunaan air yang lebih efisien. Masa depan penelitian mengenai pengelolaan sumber daya alam untuk sistem pertanaman berbasis padi menyimpan potensi besar. Kami berharap kemitraan ini akan semakin menonjol di tingkat nasional, dengan penekanan lebih besar pada produksi padi yang berkelanjutan secara lingkungan, terutama di wilayah dataran rendah tempat padi dibudidayakan secara intensif.
Abstract
The Irrigated Rice Research Consortium (IRRC) of IRRI has been involved in collaborative research with Indonesia for the past 11 years. Research includes sites specific nutrient management, crop establishment, post-harvest management, weed management, and rodent management. The nature of the collaboration has shown marked changes over the past decade, these include: (i) Development of new research theories (e.g. ecologically based management of pests); (ii) Studies of how farmers adapt and subsequent adoption new technologies; (iii) An increase awareness of technologies that provide environmental benefits; and, (iv) A stronger focus on the social dimensions that influence adoption of technologies. Together these advances have had a major influence on national policies for rice production in the lowland irrigated and favourable rainfed agroecosystems. There also has been a strengthening of the research and extension capacities of Indonesian the results of the collaboration between IRRC and Indonesian institutions over the past 10 years are impressive. The partnerships have contributed significantly to the sustainable growth of rice production in Indonesia. However, we are not resting on these achievements; there are a number of collaborative research projects at an early stage of development, particularly on more efficient use of water. The future of research on natural resource management of rice-based cropping systems holds much promise. Indeed, we expect these partnerships to gain higher profile at a national level with a greater emphasis being placed on environmentally sustainable production of rice, particularly where it is grown intensively in the lowlands.