Gambaran Darah pada Kasus Distokia, Retensi Plasenta dan Anestrus pada Sapi Betina Peranakan Fresian Holstein (PFH) di Kecamatan Cibodas, Kabupaten Lembang

dc.contributor.authorRetnawati, Dwi Walid
dc.contributor.authorYanuartono, Yanuartono
dc.contributor.authorBudiyanto, Agung
dc.contributor.otherPusat Pelatihan Pertanian, BPPSDMP, Kementerian Pertanianen_US
dc.date.accessioned2021-04-29T15:33:59Z
dc.date.available2021-04-29T15:33:59Z
dc.date.issued2020-12-03
dc.description.abstractGangguan reproduksi mempunyai kontribusi yang besar dalam meningkatkan penurunan populasi dan produksi susu, hal ini disebabkan oleh rendahnya status kesehatan hewan maupun kesehatan reproduksinya. Gangguan reproduksi yang sering terjadi di peternak saat ini adalah distokia, retensi plasenta, anestrus. Beberapa aspek penyebab gangguan reproduksi antara lain dipengaruhi oleh genetik, nutrisi, seleksi, kondisi fisiologis. Kondisi fisiologis dapat dilihat atau ditentukan dari pemeriksaan hematologi. Pemeriksaan hematologi yang sering digunakan untuk mengukur derajat kesehatan hewan adalah jumlah sel darah merah, hemoglobin, hematokrit. Penelitian dilaksanakan di kawasan Koperasi Peternakan Sapi Bandung Utara (KPSBU), Kampung Areng, Kecamatan Cibodas, Kabupaten Lembang Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan sapi betina jenis Peranakan (PFH), mengalami gangguan reproduksi berupa distokia, retensi plasenta, sedang kasus anestrus, sapi tidak mengalami estrus postpartus lebih dari 3 bulan, umur 3 sampai 10 tahun. Sapi dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 yaitu 7 ekor sapi mengalami distokia, kelompok 2 yaitu 7 ekor mengalami retensi plasenta, kelompok 3 yaitu 7 ekor mengalami anestrus, kelompok 4 yaitu 7 ekor sapi yang tidak mengalami distokia dan retensi plasenta, dan kelompok 5 yaitu 7 ekor sapi yaitu dengan siklus estrus normal. Hasil pemeriksaan darah sapi jenis PFH kasus distokia tersaji dalam Tabel 1. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 1 yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 5.67 0.81 x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 9.31 1.17 g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 21.8 4.55 %. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 4 yaitu yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 7.19 0.44 x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 11.23 0.51 g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 30.16 3.23 %. Hasil analisis menunjukkan sapi yang mengalami kasus distokia dan sapi kontrol memberikan perbedaan nyata terhadap rata-rata jumlah eritrosit, hemoglobin dan hematokrit (p<0.05). Hasil pemeriksaan darah sapi jenis PFH kasus retensi plasenta tersaji dalam Tabel 2. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 2 yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 10.22 9.53 x10 /μl., rata-rata nilai hemoglobin sebesar 10.26 0.8 g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 24.71 3.35 %. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 4 yaitu yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 7.19 0.44 x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 11.23 0.51 g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 30.16 3.23 %. Hasil uji statistik pada sapi yang mengalami kasus retensi plasenta dan sapi kontrol yang tidak mengalami retensi plasenta memberikan perbedaan nyata atau signifikan terhadap rata-rata hemoglobin dan hematokrit (p<0.05) sedangkan pada nilai rata-rata jumlah eritrosit tidak memberikan perbedaan nyata atau tidak signifikan (P>0.05). Hasil pemeriksaan darah sapi jenis PFH kasus retensi plasenta tersaji dalam Tabel 3. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 3 yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 13.17 19.78. x10 /μl., rata-rata nilai hemoglobin sebesar 9.24 0.53 g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 21.03 2.27 %. Hasil penilitian ini menunjukkan kelompok 5 yaitu yaitu rata-rata nilai eritrosit sebesar 6.06 0.49 x 10 /μl, rata-rata nilai hemoglobin sebesar 9.23 0.62 g/dl, rata-rata nilai hemtokrit sebesar 20.9 2.47 %. Hasil uji statistik pada sapi yang mengalami kasus anestrus dan sapi kontrol tidak memberikan perbedaan nyata atau tidak signifikan terhadap rata-rata jumlah eritrosit, nilai hemoglobin dan nilai hematokrit (P>0.05). Kesimpulan pada penelitian ini yaitu hematologi (jumlah eritrosit, nilai hemoglobin dan nilai hematokrit) pada kasus distokia dan retensi plasenta mengalami penurunan sedangkan pada kasus anestrus mengalami kenaikan terhadap sapi kontrol.en_US
dc.identifier.issn2774-4922
dc.identifier.issn2579-7417
dc.identifier.urihttps://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/12739
dc.language.isoiden_US
dc.publisherJurnal AgroSainTa: Widyaiswara Mandiri Membangun Bangsaen_US
dc.relation.ispartofseriesJurnal AgroSainta;Vol. 4. No.2
dc.subjectdistokiaen_US
dc.subjectretensi plasentaen_US
dc.subjectanestrusen_US
dc.subjecteritrositen_US
dc.subjecthemoglobinen_US
dc.titleGambaran Darah pada Kasus Distokia, Retensi Plasenta dan Anestrus pada Sapi Betina Peranakan Fresian Holstein (PFH) di Kecamatan Cibodas, Kabupaten Lembangen_US
dc.typeArticleen_US
Files
Original bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
5-Article Text-25-1-10-20201109.pdf
Size:
139.26 KB
Format:
Adobe Portable Document Format
Description:
License bundle
Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed upon to submission
Description: