Show simple item record

dc.contributoren-US
dc.creatorWidawati, Sri; Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jln. Raya Jakarta-Bogor Km. 46, Cibinong Science Center, Jawa Barat, Indonesia
dc.creatorSuliasih, Suliasih; Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jln. Raya Jakarta-Bogor Km. 46, Cibinong Science Center, Jawa Barat, Indonesia
dc.creatorMuharam, Agus; Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jln. Tentara Pelajar No. 10, Bogor, Jawa Barat, Indonesia, 16114
dc.date2016-09-30
dc.date.accessioned2018-05-02T06:25:06Z
dc.date.available2018-05-02T06:25:06Z
dc.date.issued2016-09-30
dc.identifierhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3249
dc.identifier10.21082/jhort.v25n3.2015.p222-228
dc.identifier.urihttp://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/802
dc.descriptionPemanfaatan pupuk hayati merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan pembudidayaan tanaman yang ramah lingkungan. Penelitian bertujuan mengetahui ketahanan bakteri pelarut fosfat dan bakteri pengikat nitrogen nonsimbiosis terhadap salinitas dan peranannya dalam menyediakan P dan N untuk pertumbuhan tanaman bayam. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium dan Rumah Kaca Mikrobiologi, LIPI Cibinong, Bogor, Jawa Barat, sejak bulan Februari sampai dengan Desember 2013. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama, yaitu plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dalam pupuk organik hayati yang terdiri atas: A, B, C, D (A+B), E (A+C), F (B+C), G (A+B+C), H (ABC+TSP+ KCl+ Urea+kompos), I (TSP+KCl+Urea+ABC), dan J (kompos+ABC), serta kontrol (K1 = kompos, K2 = tanpa pupuk, K3 = TSP+KCl+Urea). Faktor kedua, penyiraman yaitu, (1) air laut dan (2) air tawar. Tanaman bayam (Amaranthus sp.) ditumbuhkan dalam media tanah menggunakan pot di dalam rumah kaca. Peubah yang diamati mencakup tinggi tanaman, berat segar bayam, pH tanah, salinitas tanah, populasi bakteri, PME-ase tanah, dan P tersedia dalam media tanah, pada 7 dan 28 hari setelah tanam (HST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa air laut dengan kadar garam 30 dS/m berpengaruh nyata terhadap populasi bakteri, produksi enzim PME-ase, P-tersedia, tinggi, dan berat segar tanaman bayam. Semua bakteri tahan terhadap kondisi salin dan bakteri Azotobacter lebih tahan salin daripada Azospirillum. Masing-masing isolat yang terkandung dalam inokulan B, H, dan J mampu bertahan pada salinitas sebesar 2,03; 4,0; dan 4,0 dS/m, dengan populasi bakteri sebesar 27,88 dan 79 x 105sel g/tanah, mampu memproduksi PME-ase sebesar 0,60; 0,62; dan 0,55 mg pnitrofenol/ml, P tersedia sebesar 5,96; 8,95; dan 7,30 ppm serta berdampak positif terhadap tinggi tanaman (14,47; 21,50; dan 25,83 cm) dan berat segar tanaman bayam (12,50; 79,56; dan 102,63 g/pot). Aplikasi bakteri tersebut pada lahan-lahan salin akan bermanfaat untuk pembudidayaan sayuran.en-US
dc.formatapplication/pdf
dc.languageeng
dc.publisherIndonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.relationhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3249/2784
dc.rightsCopyright (c) 2016 Indonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.rightshttp://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0en-US
dc.source2502-5120
dc.source0853-7097
dc.sourceJurnal Hortikultura; Vol 25, No 3 (2015): September 2015; 222-228en-US
dc.titlePengaruh Air Laut terhadap Populasi Bakteri Biofertilizer, P Tersedia dalam Tanah, dan Pertumbuhan Bayam (Amaranthus sp.)en-US
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/article
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/publishedVersion
dc.typePeer-reviewed Articleen-US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record