Show simple item record

dc.contributoren-US
dc.creatorDiningsih, Erniawati; Balai Penelitian Tanaman Hias, Jln. Raya Ciherang PO BOX 8 SDL, Ciherang, Cianjur, Jawa Barat, Indonesia 43253
dc.creatorSuastika, Gede; Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Jln. Kamper, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
dc.creatorDamayanti, Tri Asmira; Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Jln. Kamper, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
dc.creatorSusanto, S; Institut Pertanian Bogor, Kampus IPB Dramaga, Jln. Meranti, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680
dc.date2016-09-30
dc.date.accessioned2018-05-02T06:24:46Z
dc.date.available2018-05-02T06:24:46Z
dc.date.issued2016-09-30
dc.identifierhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3250
dc.identifier10.21082/jhort.v25n3.2015.p229-237
dc.identifier.urihttp://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/688
dc.descriptionCarnation mottle virus (CarMV) merupakan salah satu virus penting pada tanaman anyelir dan semua kultivar anyelir yang ditanam di Jawa Barat terinfeksi oleh virus ini.  Penelitian bertujuan mendapatkan metode eliminasi CarMV yang efektif untuk membebaskan planlet anyelir dari virus. Inisiasi eksplant terinfeksi dilakukan pada media MSO dan perbanyakan planlet dilakukan pada media perbanyakan MS yang mengandung 1,0 ppm BA dan 0,5 ppm kinetin (MSZ). Metode eliminasi CarMV yang diuji terdiri atas perlakuan 2-thiourasil dan amantadin dengan konsentrasi masing-masing 0, 5, 10, 15, 20, 25, dan 30 ppm, dan ribavirin 5 ppm sebagai pembanding.  Tunas apikal planlet ditanam pada media perlakuan (MSZA).  Setelah tunas tumbuh, meristem terminal diambil 0,5 mm untuk ditanam pada media MSZ.  Kultur meristem terminal dari planlet pada perlakuan 2- thiourasil menghasilkan planlet bebas virus sebesar 0 – 57%.  Konsentrasi 2-thiourasil 25 ppm menghasilkan persentase planlet bebas virus tertinggi, namun perlakuan tersebut toksik pada tanaman.  Perlakuan amantadin menghasilkan 25,0 – 54,55% planlet bebas virus. Di antara perlakuan yang diuji, perlakuan antiviral amantadin dengan konsentrasi 5 – 30 ppm lebih optimal menghasilkan planlet anyelir bebas CarMV dan tidak toksik terhadap tanaman. Perlakuan amantadin 5 – 20 ppm mampu menghambat virus lebih tinggi dibandingkan perlakuan 2-thiourasil pada konsentrasi yang sama. Amantadin 5 – 30 ppm menghasilkan tingkat penghambatan virus sebesar 42,94 – 59,57%, sedangkan 2-thiourasil sebesar -8,18 – 63,03%. Senyawa 2-thiourasil dan amantadin berpotensi sebagai agen antiviral untuk mendapatkan tanaman anyelir bebas CarMV.en-US
dc.formatapplication/pdf
dc.languageeng
dc.publisherIndonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.relationhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3250/2785
dc.rightsCopyright (c) 2016 Indonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.rightshttp://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0en-US
dc.source2502-5120
dc.source0853-7097
dc.sourceJurnal Hortikultura; Vol 25, No 3 (2015): September 2015; 229-237en-US
dc.titleEliminasi Carnation Mottle Virus Menggunakan Senyawa Antiviral pada Kultur Jaringan Anyelir (Dianthus caryophyllus L.)en-US
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/article
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/publishedVersion
dc.typePeer-reviewed Articleen-US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record