KEARIFAN LOKAL SUMBER INOVASI DALAM MEWARNAI TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI DI LAHAN RAWA LEBAK

Show simple item record

dc.contributor.author Isdijanto Ar-Riza, Nurul Fauziati, Hidayat Dj. Noor, Balittra
dc.date.accessioned 2018-12-18T08:01:31Z
dc.date.available 2018-12-18T08:01:31Z
dc.date.issued 2007
dc.identifier.isbn 978-979-8253-64-5
dc.identifier.uri http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6297
dc.description Indonesia adalah negara yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani utamanya petani padi baik pada lahan irigasi, tadah hujan, lahan kering, lahan rawa pasang surut dan rawa lebak. Namun sampai sekarang 60 % produksi nasional masih dipasok dari lahan-Iahan subur di Pulau Jawa yang notabene adalah lahan irigasi. . Sedangkan lahan-Iahan di luar Jawa terutama lahan rawa lebak masih dipandang sebagai lahan marjinal, sehingga perhatian masih sangat kurang yang beraikbat pada produksi maupun kontribusnya masih kurang. Kedepan, nampaknya produksi beras nasional tidak akan cukup hanya dipasok dari lahan-Iahan subur saja, mengingat perkembangan penduduk yang masih besar 1,5%, sementara pertanian pada tahun 2006 baru mencapai 0,89% untuk Pulau Jawa dan 1,91% untuk Luar Jawa (Krisna Murti, 2006). Sehingga upaya peningkatan produksi sebesar dua juta ton dalam program P2BN tentu akan sulit dicapai tanpa mengikutkan sertakan lahan rawa lebak yang punya potensi sangat besar, tetapi pemanfatannya belum optimal (Alihamsyah dan Ar-Riza, 2004). Hal tersebut akan mejadi semakin nampak jika dikaitkan dengan berbagai kendala/masalah yang dihadapi dalam tahuntahun terakhir. Menurut Pasaribu, (2007), sedikitya ada sembi Ian masalah yang dihadapi: (1) Degradasi lahan dan air, luas lahan yang rusak diperkirakan sudah mencapai luas dua juta hektar akibat dari berbagai sebab, diantaranya karena salah kelola, terlanda pencemar lingkungan baik oleh penggunaan kimia pertanian yang berlebih atau buangan limbah industri, (2) Alih fungsi lahan, tingkat kecepatannya sangat merisaukan 150.000ha/th, sementara kemampuan mencetak sawah hanya 5000- 6000 haIth, (3) Fragmentasi lahan pertanian, sebagai akibat sistem budaya membagi waris termasuk luasan sawah yang sudah sempit menjadi semakin terbagi-bagi, (4) Krisis infrastruktur, infra struktur merupakan komponen sistem pertanian yang amat vital untuk mendukung keberhasilan sistem pertanian yang dilaksanakan, utamanya adalah jaringan irigasi yang saat kini diperkirakan sekitar 45% jaringan yang ada dilahan irigasi pada kondisi rusak dan 68-70% jaringan saluaran air yang ada di lahan pasang surut juga rusak. Sementara program pembangunan jaringan baru maupun rehabilitasi sampai kini masih terkendala, (5) Variabilitas Iklim, pada dekade terakhir ini telah terjadi perubahan iklim yang signifikan yang variabilitasnya cukup, .Qesar, sehingga dapat mengakibatkan terjadinya cekaman kekeringan disuatu wilayah dan justru kebanjiran di wilayah lainnya. Cekaman lingkungan akibat perubahan iklim yang melanda wilayah pertanian akibatnya tidak hanya dapat menurunkan produktivitas pertanian, tetapi juga Kearifan Lokal kerusakan baik lahan maupun sistem pertaniannya. Selain tidak jarang memieu timbulnya eksplosi organisme pengganggu tanaman (OPT), sehingga jika tidak diantisipasi dengan baik akan berpotensi menimbulkan gangguan stabilitas hasil yang serius, (6) Krisis SOM pertanian, untuk menghela pembanqunan pertanian seperti yang diinginkan dalam program pembangunan pertanian tentu diperlukan tenaga pertanian yang handal, sementara sekitar 77% tenaga pertanian sudah pada kondisi usia tua, (7) Krisis sarana produksi, pemanfaatan teknologi masih jauh panggang dari api, adalah salah sanr' kenyataan yang tidak dapat dipungkiri dan memprihatinkan. Adanya kenyataan baliwa penggunaan bibit unggul baru, baru meneapai angka 31 % suatu angka yang masih rendah, disampinq itu penyebaran pupuk bersubsidi tidak/belum dapat menjangkau seluruh petani, (8) Krisis pembiayaan, petani pada umumnya belum mampu menerapkan teknologi bertani maju karena terbentur pembiayaan, sementara untuk sektor ini masih relatif keeil dan upaya pengayaan modal petani masih harus dilakukan terus menerus, (9) Kualitas produksi, pada era globalisasi yang tidak akan bisa dieegah maka masalah kualitas produksi akan menjadi ukuran yang harus dipenuhi agar produk pertanian kita mampu bersaing, oleh karena itu upaya kearah peningkatan kualitas perlu diprogramkan dengan baik. en_US
dc.publisher Balittra en_US
dc.subject KEARIFAN LOKAL TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI LAHAN RAWA LEBAK en_US
dc.title KEARIFAN LOKAL SUMBER INOVASI DALAM MEWARNAI TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI DI LAHAN RAWA LEBAK en_US
dc.type Article en_US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search Repositori


Browse

My Account