Prosiding Seminar Nasional Pertanian Lahan Rawa

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 108
  • Item
    BAHAN TUMBUHAN SEBAGAI AGENSIA PENGENDALI HAMA TANAMAN RAMAH LINGKUNGAN
    (Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) A.N.Ardiwinata; S.Asikin
  • Item
    PERUBAHAN KARAKTERISTIK KIMIA TANAH SAWAH PADA SISTEM SURJAN DAN TUKUNGAN DI LAHAN PASANG SURUT SULFAT MASAM
    (Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Muhammad; Eni Maftu'ah
    Peningkatan pemanfaatan lahan sulfat masam untuk pertanian dapat dilakukan dengan penataan lahan yang spesifik melalui sistem surjan dan tukungan. Proses pembuatan surjan dan tukungan harus dilakukan dengan hati-hati, agar senyawa pirit tidak teroksidasi Oksidasi senyawa pirit akan menyebabkan tanah menjadi lebih masam, logam dan basa melarut sehingga kualitas tanah menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat kimia tanah sawah pada sistem surjan dan tukungan serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman padi, di lahan sulfat masam potensial. Penelitian dilaksanakan di lahan pasang surut sulfat masam KP Belandean, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Perlakuan terdiri dari 2 sistem penataan lahan yaitu sistem surjan dan tukungan serta 3 macam jarak antara surjan/tukungan yaitu 9m, 11m dan 14m. Lahan diantara surjan/tukungan digunakan sebagai sawah. Pengambilan sampel tanah sawah dilakukan secara periodik setiap 2 minggu sekali sampai panen yaitu sebanyak 5 kali. Tanah diambil secara komposit pada setiap perlakuan dengan 3 ulangan. Analisis tanah yang dilakukan adalah pH, Fe, Al dan Sulfat. Parameter pengamatan tanaman padi yang diukur yaitu tinggi tanaman, anakan produktif dan hasil padi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penambahan dimensi surjan dan tukungan mempengaruhi sifat kimia tanah sawah. pH tanah turun hingga 3,3, sedangkan Fe meningkat hingga 1.600 ppm, sulfat meningkat hingga 1.100 ppm pada 8 MST. Akan tetapi setelah 10 MST terjadi peningkatan kualitas kimia tanah der.gan meningkatnya pH hingga 3,7, konsentrasi Fe turun hingga kurang dari 600 ppm dan sulfat turun hingga kurang dari 1000 ppm, sedangkan Al polanya berlawanan dengan pH. Konsentrasi Fe pada tanah sawah sistem surjan lebih tinggi daripada sistem tukungan. Pengaruh sistem surjan dan tukungan terhadap pertumbuhan dan hasil padi tidak menunjukkan perbedaan yang nyata
  • Item
    POTENSI PENGEMBANGAN TANAMAN PADI LAHAN PASANG SURUT DI KABUPATEN BULUNGAN
    (Balai Pengunjian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Nurbani; Sriwulan P. Rahayu; Dhyani Nastiti.P
    Kabupaten Bulungan mempunyai luas wilayah 18.010,50 kmĀ² dengan jumlah penduduk sebesar 40.398 jiwa terdiri atas 30.072 laki-laki dan 10.326 perempuan. Pola hujan termasuk ke dalam pola A (pola curah hujan tunggal), B (curah hujan bulanan sedikit berfluktuasi), dan C (pola curah hujan ganda), termasuk kedalam zona iklim A (daerah beriklim hujan tropis). Lahan pasang surut di kabupaten Bulungan termasuk katagori tipe luapan A dan B utamanya yang dekat dengan daerah aliran sungai, sedangkan yang lebih atas umumnya telah mengarah ke tipe luapan C dan D. Penggunaan lahan pertanian terutama untuk lahan sawah seluas 6.354 ha terdiri atas irigasi setengah teknis 30 ha, irigasi sederhana 90 ha, irigasi desa/non PU 637 ha, tadah hujan 3.235 ha, dan pasang surut 2.862 ha. Dari luas lahan sawah 6.354 ha pada tahun 2005 hanya 3.349 ha ditanami padi sawah, sehingga masih ada 3.005 ha lahan sawah yang tidak dimanfaatkan. Sistem budidaya yang dilakukan petani umumnya masih secara tradisional, penanaman padi dilakukan 1 - 2 kali setahun tergantung pada tipe luapan. Padi yang ditanam adalah varietas IR 64 dan pada umumnya petani menanam varietas lokal. Benih padi umumnya masih menggunakan produksi sendiri ataupun hasil tukar dengan petani lain, sehingga kemurnian dan kualitas rendah akibatnya hasil yang diperoleh belum optimal. Dengan kondisi demikian maka produksi gabah yang dihasilkan masih rendah yaitu 19,19 ku/ha. Untuk peningkatan produktivitas perlu perbaikan tata air, pengolahan tanah, pemupukan dan ameliorasi. Untuk meningkatkan produksi padi di wilayah ini, ekstensifikasi lahan masih bisa dilakukan perlu didukung oleh kebijakan pemerintah melalui program transmigrasi
  • Item
    PENGELOLAAN PENGGUNAAN LAHAN BERDASARKAN TIPOLOGI LUAPAN PASANG SURUT SEBAGAI OPSI MITIGASI EMISI GAS CH4 DAN N2O
    (Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Abdul Hadi; Zuraida Titin Mariyana; Petrus Londong
    This research aimed at assessing the emissions of methane (CH4) and nitrous oxide (NO) from tidal swampy area of Kalimantan cultivated to rice and responsible soil and soil- water properties. The study was carried out at tidal swampy area of South Kalimantan representing different hydrological zones. The area was delineated based on the tidal influence into zone A (area inundated by tidal water on every tide), zone B (area inundated at high tide), zone C/D (area where the hydrology is influenced by tidal movement but the area is never inundated by tidal water). Temporal and seasonal CH, and N2O emissions from each zone was then determined by chamber method at late dry season of year 2006 including hybrid rice varieties. The emissions in each zone were compared and be used to justify the affectivity of tidal swamp typology as mitigation option in reducing greenhouse gas emissions. Soil and soil-water properties were also determined in order to elucidate the factor(s) affecting gas emissions. The results showed that the CH, and N2O emissions were influenced by the swamp land typology. The stronger tidal influences the higher CH emissions were observed (i.e., zone A>zone B>zone C>zone D). There were correlations between soil physical properties and CH, emission but not the N2O emissions. Emission indexes (ratio of total emission to the grain yield) was the highest in zone A, followed by zone D and zone B. The lowest emission index was in zone C. Taking also the economical aspect into consideration, it was concluded that tidal zone B can be developed for further enlargement of paddy area in Indonesia
  • Item
    MITIGASI EMISI GAS METAN PADA TANAH GAMBUT DENGAN VARIETAS PADI
    (Balai Pengujian Standar Instrumen Pertanian Lahan Rawa, 2007) Prihasto Setyanto; Helena Lina Susilawati
    Luas lahan gambut di Indonesia diperkirakan mencapai 18,5 juta hektar di mana 50% atau 9,46 juta hektar lahan tersebut potensial dikembangkan sebagai areal pertanian. Diperkirakan baru sekitar 3,6 juta hektar tanah gambut yang sudah direklamasi untuk keperluan tersebut. Lahan gambut adalah areal yang sangat kaya akan sumber karbon yang bersifat stabil mengingat pH tanahnya yang rendah sehingga memperlambat proses dekomposisi bahan organik secara anaerobik. Pengembangan untuk pertanian diduga akan merubah ekosistim gambut sehingga dekomposisi secara anaerobik berlangsung optimal dan melepaskan emisi gas metan (CH,) dalam jumlah yang sangat besar. Gas CH, adalah salah satu gas rumah kaca di atmosfir bumi yang dapat memantulkan kembali sinar infra merah (sinar dengan efek panas). Penumpukan gas tersebut di atmosfir akan mengarah kepada pemanasan global yang selanjutnya dapat merubah sistim iklim bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi teknologi mitigasi emisi gas CH, dari tanah gambut dengan penanaman varietas padi yang adaptif untuk tanah pasang surut. Penelitian dilaksanakan pada MK 2006 di Kebun Percobaan Balai Penelitian Lingkungan Pertanian (Balingtan) dengan menempatkan tanah gambut dari Kecamatan Gambut, Kalimantan Selatan, pada mikroplot berukuran 1,5 m x 1,5 m dengan kedalaman 0,5 m. Mikroplot tersebut dilapisi plastik dan ditanami padi varietas Punggur, Tenggulang, Banyuasin dan Batanghari. Gas CH, diambil dengan menggunakan boks yang terbuat dari pleksiglas, dan konsentrasi gas CH, dalam boks diukur dengan kromatografi gas yang terhubung dengan alat otomatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Punggur meng-emisi CH, tertinggi yaitu 183.0 kg/ha/musim dibanding varietas Banyuasin, Tenggulang dan Batanghari. Emisi CH, dari ketiga varietas tersebut berturut-turut sebesar 179,2, 124,1 dan 104.0 kg/ha dan tidak ada perbedaan nyata terhadap produksi padi (berkisar antara 3,3 -4,0 tha). Varietas padi Batanghari sangat ideal untuk dikembangkan di lahan gambut selain emisi gas CH, yang dihasilkan rendah juga hasil padi tidak berbeda nyata dengan varietas padi lainnya