Leaflet

Browse

Recent Submissions

Now showing 1 - 5 of 1510
  • Item
    Pengembangan Sistem Panen Hujan Dan Aliran Permukaan Sebagai Sumber Irigasi Alternatif Kebun Kelapa Sawit
    (Balai penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2009-10-01) Budi Kartiwa
    Salah satu faktor yang menjadi pembatas dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit adalah faktor keterbatasan air yang erat kaitannya dengan jumlah dan distribusi curah hujan pada suatu wilayah. Curah hujan yang rendah atau distribusi curah hujan yang tidak merata menyebabkan terjadinya defisit air atau kekeringan fisiologis yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman. Untuk menjaga kesinambungan produksi dan produktivitas diperlukan upaya penyediaan air irigasi untuk menjamin kebutuhan air kelapa sawit pada periode cekaman air yang umumnya terjadi pada musim kemarau. Salah satu upaya penyediaan air irigasi untuk kebun kelapa sawit adalah dengan pemanenan air hujan dan aliran permukaan. Prinsip dasar sistem panen hujan adalah upaya untuk mengumpulkan dan menampung air yang berasal dari curah hujan dan aliran permukaan untuk dimanfaatkan sebagai sumber irigasi. Berdasarkan survei identifikasi potensi sumberdaya air di Kebun Sawit PT Astra Agro Lestari di Kec. Pangkalan Banteng, Kab. Kotawaringin Barat pada bulan Februari 2009, jenis bangunan panen hujan yang dapat dikembangkan di wilayah yang disebut Bukit Tengkorak adalah “embung” yang memanfaatkan cekungan alami diantara lahan pengembangan kebun kelapa sawit dengan bentuk wilayah bergelombang.
  • Item
    Mengatasi Keong Mas Dengan Pengelolaan Air
    (Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2009-08-01) Pramudia, Aris
    Dalam dua tahun terakhir ini, beberapa surat kabar mengemukakan tentang gangguan hama keong mas yang menyerang tanaman padi yang masih muda mulai dari Sumatera, Jawa hingga Papua. Sejumlah petani di Kecamatan Palas, Lampung Selatan harus mengulang tanam hingga beberapa kali karena padinya diserang hama keong mas pada musim tanam rendeng akhir tahun 2008 (Lampung Pos, 15-12-2008). Di Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh, petani diperkirakan sempat tidak menikmati hasil panen karena setelah tiga hari terendam banjir bandang, puluhan ribu hektar tanaman padi mereka digerogoti keong mas (Gatra.com, 01-12-2000). Memasuki musim tanam pertama 2008, hama keong mas menyerang 31 ha tanaman padi di beberapa Kecamatan di Kabupaten Purworejo, dan mengancam 3.126 ha sawah lainnya di tiga kecamatan yang menjadi langganan hama keong mas, di antaranya Kecamatan Purwodadi, Ngombol, Bagelen dan Bayan (Radar Yogya, 17 -12-2008). Begitu juga di Pekalongan, sedikitnya sekitar 80 hektare lahan sawah produktif di wilayah Pekalongan, Jawa Tengah, terancam serangan hama keong mas (Kompas.com, 30-11-2008). Serangan hama keong mas juga mengganggu upaya percepatan tanam di musim tanam gadu yang dilakukan petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Cirebon (Pikiran Rakyat online, 22-04-2009). Masih ada lagi berita dari daerah Klaten, Pati dan kota-kota lainnya. Tak hanya di Pulau Sumatera dan Jawa yang dikenal sebagai lumbung padi nasional, keong mas (Pomacea canaliculata) atau keong murbei pun bermasalah di Manokwari, Papua. Meskipun hidup leluasa di rawa dan danau, keong mas identik dengan hama yang menyerang hamparan padi muda.
  • Item
    Kegiatan Ketahanan Iklim Inti Dalam Adaptasi Perubahan Iklim Dari Sektor Pertanian
    (Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, 2021-11-01) Hervani, Anggi
    Daya dukung iklim memberi andil besar terhadap keberhasilan usaha pertanian. Kendala kekurangan air terutama pada saat musim kering yang berlangsung lama merupakan kendala yang muncul karena perubahan iklim. Pengetahuan petani terhadap pola tanam yang masih mengandalkan kebiasaan dan naluri menjadikan usaha tani seringkali menghadapi perisa kekurangan iar (Syahbuddin et al, 2007). Proyeksi Iklim Indonesia berdasarkan skenario RCP4.5 menunjukan kenaikan suhu mencapai 1.5C pada tahun 2100, dan menggunakan skenarion RCP8.5 mencapai 3.5C. Hal ini akan berdampak pada terjadinya perubahan pola curah hujan. Ekstrem variability akan lebih gi apapun skenarionya. Kemudian, kejadian iklim ekstrem kering dan basah akan lebih sering berpeluang di atas normal. Sehingga, peningkatan musim kemarau dan beberapa wilayah mengalami penurunan intensitas curah hujan. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya potensi kekeringan dan meningkatkan potensi penurunan ketersediaan air. Peningkatan musim kemarau ekstrim akan berdampak pada perubahan fisiologis tanaman padi sehingga berimbas akan meningkatkan potensi penurunan produksi padi. Variabilitas iklim di Indonsesia ditandai dengan telah meningkatnya suhu selama beberapa dekade dan diperkirakan akan terus meningkat. Indikator terjadinya perubahan iklim juga ditandai dengan adanya indikasi peningkatan level permukaan laut hingga tahun 2100 (IPCC 2007) yang mengakibatkan dataran rendah di sepanjang pantai akan beresiko mengalami bencana banjir yang lebih gi (PEACE 2007). Selain itu, terjadi perubahan dalam musim hujan dan musim kemarau dimana curah hujan pada musim hujan di wilayah bagian selatan Indonesia meningkat sementara curah hujan dimasa kemarau di wilayah bagian utara meningkat (Boer dan Faqih 2004, Naylor et al. 2007). Kondisi perubahan iklim di atas menegaskan penya kapasitas beradaptasi terhadap perubahan iklim bagi petani dalam upaya untuk mempertahankan produksi pangan terkiat pemenuhan kebutuhan pangan penduduk Indonesia dan mendukung program Indonsesia sebagai lumbung pangan dunia.
  • Item
    Sistem Irigasi Berbasis Android
    (Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, 2019-10-25) Balitklimat
    Pemberian air irigasi di lahan pertanian maupun perkebunan bertujuan agar pemenuhan kebutuhan air pada masa pertumbuhan tanaman dapat berjalan dengan maksimal. Kenyataan di lapangan, air irigasi diberikan secara tidak terkendali sehingga terjadi ketidaksesuaian suplai air pada kebutuhan tanaman dan berakibat pemborosan air.
  • Item
    Cara Pembuatan Arang Sekam
    (BPTP Yogyakarta, 2018) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta