Kemitraan Usaha Perkebunan: Perubahan Struktur yang Belum Lengkap

Show simple item record

dc.contributor en-US
dc.creator Fadjar, Undang
dc.date 2016-08-18
dc.date.accessioned 2018-06-04T08:02:09Z
dc.date.available 2018-06-04T08:02:09Z
dc.date.issued 2016-08-18
dc.identifier http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/fae/article/view/4053
dc.identifier 10.21082/fae.v24n1.2006.46-60
dc.identifier.uri http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5338
dc.description EnglishDevelopment of estate crops sub-sector in Indonesia aims to achieve realistic growth and equality.  However, the policy is not easily implemented due to the latent problems of the gap between estate crop companies and smallholders. Integrating estate companies and smallholders is still debatable.  However, actual reality shows that synergy of both estate companies and smallholders are really needed to overcome structural constraints at global and local levels.  Partnership in estate crops between the companies and the smallholders has not been successfully overall gap, but empowering both smallholders and companies will lessen the gap. All parties need to conduct rational discussion to improve self correction and capital social. It is expected to enhance partnership structure, such as improved business opportunities in order to advance the smallholders.   IndonesianPembangunan sub-sektor perkebunan di Indonesia ditujukan untuk mencapai pertumbuhan dan pemerataan. Namun demikian, hal ini tidaklah mudah karena akan berhadapan dengan persoalan laten peninggalan masa kolonial, yaitu ketimpangan antara perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Sampai saat ini masih terjadi perdebatan tentang upaya untuk mengintegrasikan usaha perkebunan besar dengan perkebunan rakyat. Akan tetapi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sinergi antara keduanya semakin dibutuhkan, terutama untuk membangun kekuatan bersama dalam menghadapi hambatan struktural pada aras global serta untuk mengatasi kesenjangan pada aras lokal. Meskipun pelaksanaan program kemitraan usaha perkebunan belum dapat mengatasi ketimpangan secara maksimal, namun dengan memberdayakan petani mitra dan juga perusahaan mitra menjadi masyarakat perkebunan yang komunikatif; kelemahan tersebut dapat diperbaiki. Untuk itu, semua pihak perlu mengembangkan perbincangan yang rasional yang membawa pencerahan, refleksi diri, dan pengembangan modal sosial. Lebih lanjut hal ini dapat diharapkan akan membuahkan konsensus bersama di antara komponen yang bermitra untuk melakukan perbaikan struktur kemitraan. Dalam hal ini, struktur kemitraan yang diharapkan adalah sebuah struktur yang mampu memperbesar peluang dan manfaat usaha, sehingga dapat mendistribusikan peluang dan manfaat usaha serta aset produksi kepada petani kecil. en-US
dc.format application/pdf
dc.language eng
dc.publisher Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian en-US
dc.relation http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/fae/article/view/4053/3382
dc.rights Copyright (c) 2016 Forum Penelitian Agro Ekonomi en-US
dc.source 2580-2674
dc.source 0216-4361
dc.source Forum penelitian Agro Ekonomi; Vol 24, No 1 (2006): Forum Penelitian Agro Ekonomi; 46-60 en-US
dc.title Kemitraan Usaha Perkebunan: Perubahan Struktur yang Belum Lengkap en-US
dc.type info:eu-repo/semantics/article
dc.type info:eu-repo/semantics/publishedVersion


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search Repositori


Browse

My Account