Show simple item record

dc.contributorPuslitbangbunen-US
dc.creatorWAHYUDI, AGUS; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Jl. Tentara Pelajar No. 3, Bogor
dc.creatorWULANDARI, SUCI; Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Jl. Tentara Pelajar No. 3, Bogor
dc.creatorARDANA, I KETUT; Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Jl. Tentara Pelajar No. 1, Bogor
dc.date2005-03-28
dc.date.accessioned2018-05-24T01:41:18Z
dc.date.available2018-05-24T01:41:18Z
dc.date.issued2005-03-28
dc.identifierhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jptip/article/view/2918
dc.identifier10.21082/littri.v11n1.2005.%p
dc.identifier.urihttp://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/1726
dc.descriptionABSTRAKLahan usahatani yang sempit merupakan faktor utama penyebabkemiskinan di wilayah pedesaan. Reformasi agraria dengan redistribusilahan sering dianggap sebagai jalan efektif untuk mengatasi kemiskinan.Pengalaman di beberapa negara ternyata tidak selalu demikian. Mengingatbahwa wilayah usahatani mete merupakan wilayah yang memiliki tingkatkemiskinan yang tinggi maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisispola pengaruh penambahan lahan usahatani mete terhadap peningkatanpandapatan petani di dua wilayah dengan kondisi agribisnis yang berbeda.Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni-Juli 2002 di Propinsi SulawesiTenggara sebagai salah satu sentra produksi mete yang dapat dijadikangambaran kondisi Indonesia. Kabupaten Buton mewakili kondisi agribisnisyang belum berkembang dan Kendari mewakili yang berkembang (duakabupaten yang terbesar populasi rumah tangga mete). Pengambilancontoh acak sederhana digunakan untuk menarik contoh responden dengansatuan contoh usahatani mete, masing-masing 156 dan 136 untuk Butondan Kendari. Data dianalisis melalui regresi, dengan variabel independenluas lahan usahatani (L) dan variabel dependen pendapatan usahatani (I),diperoleh fungsi derivatifnya terhadap L untuk Buton ∂I B /∂L B  =131.925L B 2 – 502.858L B –510.069 (penambahan pendapatan positif mulai4,6 ha); dan Kendari ∂I K /∂L K = -20.967L K 2 +21.0694L K –113.550 (penam-bahan pendapatan positif mulai 0,6 ha dan cenderung menurun setelah 5ha). Hasil ini menunjukkan bahwa efektifitas penambahan lahan usahataniterhadap pendapatan petani ternyata berbeda pada wilayah yang kondisiagribisnisnya berbeda. Pada wilayah yang belum berkembang (sepertiButon), penambahan lahan kurang efektif dapat meningkatkan pendapatanuntuk melampaui garis kemiskinan, dan penambahan baru efektif lebihbesar dari 5 ha. Sedangkan pada wilayah yang sudah berkembang (sepertiKendari) penambahan lahan sudah efektif dengan penambahan 1,5 ha.Pengembangan agribisnis tersebut antara lain melalui pengembangan polatanam dan industri hilir (pengolahan sederhana) sangat efektif untukmeningkatkan pendapatan petani yang memiliki lahan sempit, danefektifitas ini akan semakin meningkat bila ditunjang dengan peningkatanakses pasar melalui perbaikan infrastruktur.Kata kunci : Mete, Anacardium occidentale L, lahan usahatani, pendapatanpetani, kemiskinan, agribisnisABSTRACTEffectiveness of farm land addition to additional incomeSmall farm is the main factor that causes poverty incidence in ruralarea. Land reform through land redistribution is often taken for granted asan effective way to alleviate poverty. However, experiences in somecountries do not always prove it. Since cashew farm areas generallycoincide with high poverty incidence, hence this research aimed to analyzeeffectiveness of farm land addition to the additional income in two areaswith different condition of agribusiness. The District of Buton is asrepresentative of underdeveloped agribusiness and Kendari Districtrepresents the developed one, both districts have the largest cashewpopulation in the Province of Southeast Sulawesi, as one of the maincashew area in Indonesia. Data were collected in June-July 2002. Thesimple random sampling was used to determine respondents and cashewfarm as unit of sample, and the sample size was 156 and 136 unitsrespectively for Buton and Kendari. Data were analyzed with regressionanalysis, where cashew farm land size (L) was used as independentvariable and farmer’s income (I) as dependent variable. The derivativefunction to L obtained is ∂I B /∂L B = 131.925L B 2 –502.858L B –510.069(Buton) (additional income will be positive, larger than 4.6 ha); and∂I K /∂L K = -20.967L K 2 +21.0694L K –113.550 (Kendari) (additional incomewill be positive, larger than 0.6 ha). The result showed that theeffectiveness of land addition to increase farmer’s income was proveddifferent in different agribusiness conditions. In underdeveloped area (likeButon), the land addition was less effective to increase income over thepoverty line and it would be effective if the addition was larger than 5 ha.While in developed area (like Kendari), the addition of land was effectiveby adding 1.5 ha. Developing agribusiness condition could be conductedby developing cropping system and forwarding home industry(processing). The development will be more effective if it is supported byimproving market access through improvement of infrastructure.Key words : Cashew, Anacardium occidentale L, farm land, farmer’sincome, poverty, agribusinessen-US
dc.formatapplication/pdf
dc.languageeng
dc.publisherPusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunanen-US
dc.relationhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jptip/article/view/2918/2545
dc.rightsCopyright (c) 2015 Jurnal Penelitian Tanaman Industrien-US
dc.source2528-6870
dc.source0853-8212
dc.sourceJurnal Penelitian Tanaman Industri; Vol 11, No 1 (2005): Maret 2005; 37-43en-US
dc.titleEFEKTIFITAS PENAMBAHAN LAHAN USAHATANI METE DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PETANIen-US
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/article
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/publishedVersion
dc.typePeer-reviewed Articleen-US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record