Potensi Pemanfaatan Kearifan Lokal untuk Menahan Konversi Lahan Sawah ke Nonsawah

Show simple item record

dc.contributor en-US
dc.creator Septanti, Kartika Sari; Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
dc.creator Saptana, nFN; Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian
dc.date 2020-07-21
dc.date.accessioned 2020-11-06T02:27:19Z
dc.date.available 2020-11-06T02:27:19Z
dc.identifier http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/fae/article/view/11704
dc.identifier 10.21082/fae.v37n1.2019.59-75
dc.identifier.uri http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/10411
dc.description Lowland conversion to non-agriculture use improves along with economic growth. Various attempts have been exerted by the government to reduce lowland conversion. Local wisdoms throughout the regions in the country are potential to control lowland conversion. This paper aims to explore the role of local wisdoms in Indonesia and other countries in controlling lowland conversion. Some local wisdoms in Indonesia potentials for lowland conversion control are : tunggu tubang, mundang biniak, oloran sawah, Suku Samin, Buyut Cili, tradisi Ngarot, Kasepuhan Sinar Resmi, Suku Baduy, Subak, Suku Dayak, and pangale hutan. Some measures to take for empowering those local wisdoms, are: (i) incorporating local wisdoms into school education curriculum; (ii) developing a community-based natural resource management system, namely increasing participation of local people in land resource management. AbstrakKonversi lahan sawah ke nonsawah marak terjadi seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan laju konversi lahan sawah ke nonsawah, namun belum menunjukkan hasil yang optimal. Indonesia memiliki kekayaan kearifan lokal yang tersebar di seluruh nusantara yang berpotensi menghambat tingginya laju konversi lahan sawah ke nonsawah. Tulisan ini membahas kearifan lokal di Indonesia serta di beberapa negara yang telah dan akan dikembangkan untuk mempertahankan lahan sawah. Beberapa contoh kearifan lokal di Indonesia antara lain: tunggu tubang, mundang biniak, oloran sawah, Suku Samin, Buyut Cili, tradisi Ngarot, Kasepuhan Sinar Resmi, Suku Baduy, Subak, Suku Dayak, dan pangale hutan. Tantangan kearifan lokal pada masa depan semakin berat karena adanya pertumbuhan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, serta perubahan sosial masyarakat yang mendesak lunturnya nilai-nilai kearifan lokal. Beberapa strategi untuk mempertahankan kearifan lokal dapat dilakukan dengan cara: (1) memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan;  (2) mengembangkan sistem pengelolaan sumber daya alam berbasis komunitas, yaitu peningkatan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan sumber daya lahan. en-US
dc.format application/pdf
dc.language eng
dc.publisher Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian en-US
dc.relation http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/fae/article/view/11704/9234
dc.rights Copyright (c) 2020 Forum penelitian Agro Ekonomi en-US
dc.rights http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 en-US
dc.source Forum penelitian Agro Ekonomi; Vol 37, No 1 (2019): Forum Penelitian Agro Ekonomi; 59-75 en-US
dc.source 2580-2674
dc.source 0216-4361
dc.subject land; conversion; non paddy field; local wisdom; lahan sawah; konversi; nonsawah; kearifan lokal en-US
dc.title Potensi Pemanfaatan Kearifan Lokal untuk Menahan Konversi Lahan Sawah ke Nonsawah en-US
dc.type info:eu-repo/semantics/article
dc.type info:eu-repo/semantics/publishedVersion
dc.type en-US


Files in this item

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search Repositori


Browse

My Account