Show simple item record

dc.contributoren-US
dc.creatorRosliani, Rini; Balai Penelitian Tanaman Sayuran
dc.creatorSinaga, Risma; Balai Penelitian Tanaman Sayuran
dc.creatorHilman, Yusdar; Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura
dc.creatorHidayat, Iteu Margaret; Balai Penelitian Tanaman Sayuran
dc.date2016-06-16
dc.date.accessioned2018-05-02T06:26:02Z
dc.date.available2018-05-02T06:26:02Z
dc.date.issued2016-06-16
dc.identifierhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3511
dc.identifier10.21082/jhort.v24n4.2014.p316-325
dc.identifier.urihttp://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/1028
dc.descriptionPembungaan dan pembentukan biji merupakan kendala dalam produksi benih true shallot seed (TSS) di Indonesia. Aplikasi benzilaminopurin (BAP) dan boron dapat meningkatkan pembungaan, viabilitas serbuk sari maupun produksi, dan mutu benih TSS. Teknik aplikasi BAP yang efisien belum diketahui, sementara jumlah umbel dalam satu tanaman diduga dapat menyebabkan terjadinya persaingan dalam pembentukan kapsul dan biji. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan teknik pemberian BAP dan pemeliharaan jumlah umbel yang efisien dalam meningkatkan produksi dan mutu benih TSS di dataran tinggi. Penelitian dilaksanakan di dataran tinggi Lembang (1.250 m dpl.), pada bulan Maret sampai dengan September 2013 menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama yaitu aplikasi BAP 37,5 ppm melalui (1) teknik penyiraman BAP tiga kali, (2) kombinasi teknik aplikasi BAP dengan perendaman + penyiraman dua kali, dan (3) teknik perendaman umbi bibit sebelum tanam, sedangkan faktor kedua yaitu pemeliharaan jumlah umbel per tanaman dengan perlakuan (1) pemeliharaan semua umbel, (2) pemeliharaan tiga umbel pada bunga ke-1 sampai dengan ke-3, (3) pada bunga ke-2 sampai dengan ke-4, dan (4) pada bunga ke-3 sampai dengan ke-5. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik aplikasi BAP melalui perendaman saja dan perendaman + penyiraman dua kali umur 1 dan 3 minggu setelah tanam (MST) menghasilkan produksi kapsul dan produksi TSS lebih efisien daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Teknik aplikasi BAP melalui perendaman + penyiraman dua kali umur 3 dan 5 MST 30% lebih efisien dan 60% lebih efektif dalam memproduksi TSS daripada teknik penyiraman tiga kali pada umur 1, 3, dan 5 MST. Namun daya berkecambah pada teknik perendaman + penyiraman lebih rendah daripada penyiraman tiga kali maupun perendaman saja. Pemeliharaan tiga umbel ke-1 sampai dengan ke-3 menghasilkan produksi dan mutu setara dengan pemeliharaan semua umbel. Implikasi penelitian ini adalah teknik produksi TSS yang efisien di dataran tinggi akan mudah dikembangkan oleh pengguna (petani/penangkar benih).en-US
dc.formatapplication/pdf
dc.languageeng
dc.publisherIndonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.relationhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3511/2973
dc.rightsCopyright (c) 2016 Indonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.rightshttp://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0en-US
dc.source2502-5120
dc.source0853-7097
dc.sourceJurnal Hortikultura; Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014; 316-325en-US
dc.titleTeknik Aplikasi Benzilaminopurin dan Pemeliharaan Jumlah Umbel Per Tanaman untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah (True Shallot Seed) di Dataran Tinggien-US
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/article
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/publishedVersion
dc.typePeer-reviewed Articleen-US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record