Show simple item record

dc.contributoren-US
dc.creatorHeni, Agustin; Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680 dan Universitas Trilogi, d/h STEKPI Jl. TMP Kalibata No. 1, Jakarta 12760
dc.creatorE.R., Palupi; Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
dc.creatorM.R., Suhartanto; Departemen Agronomi dan Hortikultura, Institut Pertanian Bogor, Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680
dc.date2016-05-12
dc.date.accessioned2018-05-02T06:25:59Z
dc.date.available2018-05-02T06:25:59Z
dc.date.issued2016-05-12
dc.identifierhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3331
dc.identifier10.21082/jhort.v24n1.2014.p32-41
dc.identifier.urihttp://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/1005
dc.descriptionPengelolaan polen merupakan salah satu faktor penting dalam sistem produksi benih hibrida. Penelitian bertujuan mempelajari pengelolaan polen untuk produksi benih hibrida melon Sunrise Meta dan Orange Meta. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tajur II, Bogor dan Laboratorium Biologi dan Biofisik Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2012 hingga Februari 2013. Penelitian terdiri atas dua percobaan dengan dua tetua jantan M13 dan M21 yang diuji terpisah. Percobaan pertama bertujuan meningkatkan produksi dan viabilitas polen, dilakukan dengan rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat perlakuan, yaitu kontrol (tanpa penambahan unsur mikro), boraks 10 kg/ha, aplikasi 200 ppm  AgNO3+1.000 ppm Na2SO4 dan kombinasi perlakuan keduanya. Pengamatan dilakukan terhadap semua bunga jantan saat P1: 22-27 HST, P2: 28-33 HST, P3: 34-39 HST, P4: 40–45 HST, dan P5: 46-51 HST. Peubah yang diamati ialah jumlah polen per antera, viabilitas polen dan jumlah bunga jantan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi boraks 10 kg/h dapat meningkatkan jumlah polen per antera M13 dan M21 namun tidak dapat meningkatkan viabilitas polen dan jumlah bunga jantannya. Jumlah polen tertinggi M13 ditemukan pada fase P4, sementara pada M21 terjadi pada fase P4 dan P5. Percobaan kedua dilakukan untuk mempelajari viabilitas polen pada bunga sehari sebelum antesis (A-1) dan saat antesis (A) serta perubahan viabilitas polen selama penyimpanan dalam ultra freezer (-80±2OC) selama 30 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa daya kecambah polen segar dari bunga antesis lebih tinggi dibandingkan dengan polen yang dipanen sehari sebelum antesis. Polen dari bunga antesis yang telah disimpan selama 30 hari memiliki daya kecambah lebih tinggi 30,34% (M13) dan 24,86% (M21) dibandingkan dengan polen yang dipanen dari bunga sehari sebelum antesis 2,4% (M13) dan 7,35% (M21). Seluruh polen yang disimpan dapat digunakan untuk produksi benih hibrida di lapangan. Polen yang disimpan tidak berkorelasi dengan seed set di lapangan.en-US
dc.formatapplication/pdf
dc.languageeng
dc.publisherIndonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.relationhttp://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/jhort/article/view/3331/2836
dc.rightsCopyright (c) 2016 Indonesian Center for Horticulture Research and Developmenten-US
dc.rightshttp://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0en-US
dc.source2502-5120
dc.source0853-7097
dc.sourceJurnal Hortikultura; Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014; 32-41en-US
dc.titlePengelolaan Polen untuk Produksi Benih Melon Hibrida Sunrise Meta dan Orange Metaen-US
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/article
dc.typeinfo:eu-repo/semantics/publishedVersion
dc.typePeer-reviewed Articleen-US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record