Pengendalian Dini Hama Kepik Coklat pada Kedelai dengan Pemanfaatan Cendawan Entomopatogen Lecanicillium lecanii

Show simple item record

dc.contributor en-US
dc.creator Prayogo, Yusmani; Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang
dc.date 2015-11-15
dc.date.accessioned 2018-06-04T07:35:30Z
dc.date.available 2018-06-04T07:35:30Z
dc.identifier http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/ippan/article/view/2599
dc.identifier.uri http://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/4276
dc.description Kepik coklat (Riptortus linearis) merupakan salah satu hama pengisap polong kedelai yang sangat penting karena serangannya dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80%. Pengendalian kepik coklat menggunakan insektisida kimia kurang efektif karena hanya mampu membunuh stadia nimfa dan imago. Lecanicillium lecanii merupakan cendawan entomopatogen yang cukup potensial digunakan sebagai agens pengendalian telur kepik coklat karena mampu menggagalkan penetasan telur (ovicidal). Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kerentanan berbagai umur telur kepik coklat terhadap infeksi cendawan L. lecanii. Penelitian dilakukan di laboratorium patologi serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor dan laboratorium biologi LIPI (Cibinong) dari bulan Juli sampai September 2008. Perlakuan adalah perbedaan umur telur kepik coklat setelah diletakkan imago, yaitu: (1) < 1 hari (baru diletakkan), (2) 1 hari, (3) 2 hari, (4) 3 hari, (5) 4 hari, (6) 5 hari, dan (7) 6 hari. Setiap unit perlakuan adalah 100 butir telur kepik coklat diletakkan di dalam cawan Petri yang berdiameter 18 cm kemudian disemprot dengan suspensi konidia L. lecanii menggunakan kerapatan konidia 107/ml. Dosis aplikasi adalah 2 ml per 100 butir telur per perlakuan per ulangan. Hasil penelitian menunjukkan, semakin tua umur telur kepik coklat semakin tahan terhadap infeksi L. lecanii. Telur yang baru diletakkan imago (umur 1 hari) sangat rentan terhadap infeksi L. lecanii, sedangkan telur yang berumur empat, lima, dan enam hari sangat tahan. Telur kepik coklat yang terinfeksi cendawan L. lecanii menjadi terlambat menetas hampir enam hari. Jika kejadian ini berlangsung di lapangan maka sangat menguntungkan bagi keselamatan polong dan biji kedelai dari serangan kepik coklat. Setiap telur kepik coklat yang tidak menetas akibat infeksi L. lecanii mampu memproduksi konidia hingga mencapai di atas 7,25 x 106/ml, yang merupakan sumber inokulum potensial untuk transmisi dan diseminasi patogen ke inang yang baru sehingga menciptakan epizooti di lapangan. Untuk menekan populasi kepik coklat hingga di bawah nilai ambang kendali dianjurkan aplikasi cendawan L. lecanii mulai umur 35 hari setelah tanam (HST) pada saat imago datang pertama kali untuk meletakkan telurnya. en-US
dc.language in
dc.publisher Puslitbang Tanaman Pangan en-US
dc.rights Copyright (c) 2015 Buletin Iptek Tanaman Pangan en-US
dc.source 1907-4263
dc.source Iptek Tanaman Pangan; Vol 6, No 1 (2011): Juni 2011 en-US
dc.title Pengendalian Dini Hama Kepik Coklat pada Kedelai dengan Pemanfaatan Cendawan Entomopatogen Lecanicillium lecanii en-US
dc.type info:eu-repo/semantics/article
dc.type info:eu-repo/semantics/publishedVersion
dc.type Peer-reviewed Article en-US


Files in this item

Files Size Format View

There are no files associated with this item.

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record

Search Repositori


Browse

My Account