Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Recent Submissions
Item
Pemanfaatan Limbah Padi untuk Pakan
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Budi Tangendjaja
Efisiensi produksi peternakan sangat tergantung kepada ketersedian pakan (makanan
ternak) sepanjang tahun. Di daerah-daerah tertentu pada musim kering, sering dijumpai
kekurangan pakan ketika rumput yang hijau tidak tersedia. Hal ini merupakan masalah
untuk ternak-ternak memamah biak (ruminansia) karena makanan utamanya adalah rumput.
Bagi ternak non-ruminansia seperti ayam, itik, dan babi, masalahnya tidak terlalu besar
karena makanan utamanya biasanya biji-bijian.
Limbah padi merupakan hasil sampingan yang diperoleh dari pemanenan sampai
pengolahannya menjadi beras. Limbah padi yang paling utama adalah jerami padi, dedak,
dan sekam. Jerami padi dan dedak mempunyai potensi yang sangat besar untuk penyediaan
bahan pakan ternak, baik ternak yang memamah biak seperti sapi, kerbau, domba, dan
kambing, maupun yang tidak memamah biak. Salah satu keuntungan utama dari limbah
padi adalah tidak bersaing dengan makanan manusia.
Item
Pemanfaatan Limbah Padi untuk Industri
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Budi Tangendjaja
Pemanfaatan limbah padi di Indonesia sudah banyak dilakukan, terutama untuk bidang
pertanian, seperti dedak padi untuk makanan ternak, sekam padi untuk alas kandang ayam
(litter), dan jerami padi untuk makanan ternak ruminansia atau media penanaman jamur.
Pemanfaatannya untuk bidang industri masih terbatas, padahal beberapa sifat yang ada
dalam limbah tersebut, baik sifat fisik ataupun kimia, dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk
bidang industri. Beberapa kendala yang umum dijumpai dalam memanfaatkan limbah padi
adalah sifatnya yang kamba (bulky) dan tersebar di berbagai tempat. Hal ini mengakibatkan
mahalnya biaya transportasi dan pengumpulan. Sebagai contoh, biaya pengumpulan jerami
cukup mahal dibandingkan nilai yang ada pada jerami itu sendiri. Pemanfaatan minyak
dalam dedak padi menghadapi kendala lamanya pengumpulan dari penggilingan padi yang
berskala kecil dan tersebar di desa-desa. Lamanya pengumpulan ini mengakibatkan proses
hidrolisis minyak sulit untuk dicegah dan dedak padi menjadi tidak layak lagi untuk diekstrak
minyaknya sebagai minyak makan.
Meskipun masih dijumpai banyak kendala tetapi potensi pemanfaatan limbah padi masih
sangat besar. Masih banyak penelitian yang harus dikerjakan agar dapat diciptakan
teknologi yang mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Item
Penanganan Pascapanen Padi
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Soemardi; Ridwan Thahir
Penerapan teknologi prapanen saja ternyata belum cukup untuk mendukung upaya
pencapaian sasaran kecukupan pangan, peningkatan pendapatan petani, dan pemerataan
kesempatan kerja. Upaya tersebut harus didukung oleh pengamanan produksi melalui
penerapan teknologi pascapanen. Usaha penyelamatan hasil padi untuk memenuhi
kebutuhan pangan nasional dapat dilakukan antara lain dengan meningkatkan kemampuan
petani untuk memanen, merawat, mengeringkan, menyimpan, dan memberaskan, serta
meningkatkan mutu hasil panen maupun hasil olahan.
Teknologi pascapanen dapat mengamankan hasil panen dan mengolah hasil menjadi
komoditas bermutu, siap dikonsumsi, selain dapat pula meningkatkan daya guna hasil
maupun limbah hasil olahan. Petani melaksanakan proses pengamanan produksi pada tahap
paling rawan, yakni panen, perawatan dan pengeringan. Upaya ini lebih banyak ditujukan
untuk menyelamatkan hasil panen dari kerusakan daripada mengurangi susut maupun
meningkatkan mutu karena masih terbatasnya kemampuan petani, baik dalam penguasaan
teknologi, penyediaan sarana, maupun permodalan.
Item
Mutu Beras
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Djoko S. Damardjati; Endang Y. Purwani
Secara umum, mutu beras dapat dikategorikan atas 4 kelompok yaitu (i) mutu giling,
(ii) mutu rasa dan mutu tanak, (iii) mutu gizi, dan (iv) standar spesifik untuk penampakan
dan kemurnian biji (30). Sedangkan dalam program pemuliaan padi, komponen dari mutu
beras dapat dikelompokkan atas (i) rendemen giling, (ii) penampakan, bentuk, dan ukuran
biji, dan (iii) sifat-sifat tanak dan rasa nasi (17). Semua kategori tersebut penting digunakan
bersama-sama dalam penetapan kriteria beras yang sesuai dengan tujuan penggunaannya.
Walaupun demikian, pada akhirnya penggolongan kriteria mutu beras harus mempunyai
hubungan langsung dengan penerimaan konsumen akhir. Karena beras di konsumsi sebagian
besar dalam bentuk nasi, maka penetapan kriteria mutu beras didasarkan atas pola konsumsi
tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh ahli kimia, teknologi, dan gizi diharapkan dapat
menentukan kriteria mutu beras yang dihubungkan dengan sifat fisik, kimia, dan fisikokimia
beras, dalam mengidentifikasi sifat dan mutu beras yang dikehendaki konsumen untuk
menunjang para pemulia tanaman merakit varietas padi baru. Data tentang sifat dan mutu
beras diperlukan pula untuk menentukan metode pengeringan, penyimpanan, prosesing, dan
pemasaran beras serta metode pengolahan dalam teknologi pangan.
Item
Penyakit Virus dan Mikoplasma Padi
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 1991) Nasir Saleh; D.M. Tantera
Di Indonesia terdapat beberapa penyakitvirus pada padi yaitu penyakit-penyakit tungro,
kerdil rumput, dan kerdil hampa. Di samping itu, masih terdapat dua penyakit padi yang
disebabkan oleh mikoplasma (mycoplasma-like organism/MLO) yaitu kerdil kuning dan
daun oranye. Di antara penyakit-penyakit tersebut, tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa
sering menimbulkan kerugian yang besar.
Dalam tulisan ini akan dikemukakan mengenai gejala, penyebab, daerah penyebaran,
bioekologi, penularan virus, tanaman inang, dan vektornya, serta usaha pengendalian virus
tungro, kerdil rumput, dan kerdil hampa. Untuk penyakit kerdil kuning dan penyakit daun
oranye akan dibahas sekilas mengenai gejala, penyebab, dan penularan oleh vektornya.