Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Mengatasi paradoks perlindungan lahan pertanian pangan: transformasi kebijakan insentif spasial di Kabupaten Gorontalo
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2026-06-30) Indrianti, Merita Ayu; Taslim, Ivan; Gobel, Yusriyah Atikah; Djaini, Aditya; Djibran, Moh. Muchlis
Konversi lahan pertanian produktif merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan Indonesia. Meskipun lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) telah dilindungi melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009, kawasan yang dilindungi masih terus mengalami konversi sehingga menimbulkan paradoks kebijakan yang mengancam ketahanan pangan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi model kerentanan spasial untuk wilayah LP2B di Kabupaten Gorontalo. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya berfokus pada konversi lahan atau efektivitas zonasi, penelitian ini mengintegrasikan Analytic Hierarchy Process (AHP) berbasis pemangku kepentingan, penginderaan jauh, dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk mengungkap paradoks kebijakan LP2B dan mendukung intervensi kebijakan berbasis spasial. Pendekatan multimetode digunakan untuk menganalisis citra satelit Sentinel pada periode 2017–2023 menggunakan algoritma klasifikasi Random Forest. Faktor-faktor kerentanan (risiko konversi, banjir, dan kekeringan) dimodelkan secara spasial dan dibobotkan menggunakan AHP berdasarkan perspektif pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan adanya paradoks kebijakan, yaitu luas sawah total meningkat secara neto sebesar 4.158,83 ha, tetapi kawasan lindung LP2B justru mengalami kehilangan neto sebesar 23,76 ha. Risiko konversi lahan memperoleh bobot AHP tertinggi (60%). Model kerentanan komposit menunjukkan kesesuaian spasial retrospektif yang sangat tinggi, dengan seluruh kehilangan sawah pada LP2B terjadi di zona kerentanan sedang dan tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa tekanan pembangunan akibat location rent lebih kuat dibandingkan instrumen regulasi pasif yang ada serta mendukung transformasi kebijakan menuju strategi insentif aktif berbasis spasial untuk memperkuat perlindungan LP2B dan ketahanan pangan jangka panjang.
Item
Efisiensi teknis dan inefisiensi perdagangan sektor pertanian kawasan Asia Tenggara
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2026-06-30) Danendra, Daffa Ibra; Novianti, Tanti; Hidayat, Nia Kurniawati
Pertumbuhan penduduk dan peningkatan permintaan pangan menempatkan sektor pertanian kawasan Asia Tenggara pada tekanan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengendalikan tekanan lingkungan. Ketimpangan kebijakan, keterbatasan teknologi, dan liberalisasi perdagangan berpotensi memicu inefisiensi teknis dan tekanan lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi ketimpangan kebijakan pertanian berkelanjutan, mengukur efisiensi teknis sektor pertanian di kawasan Asia Tenggara, serta mengevaluasi potensi inefisiensi akibat perdagangan dengan implikasi bagi Indonesia. Berbeda dengan penelitian terdahulu yang umumnya mengkaji efisiensi teknis, perdagangan, dan ketimpangan kebijakan pertanian berkelanjutan secara terpisah, penelitian ini mengintegrasikan ketiga aspek tersebut dalam satu kerangka analisis kawasan. Pendekatan kualitatif digunakan untuk memetakan kebijakan pertanian, sedangkan efisiensi teknis diestimasi menggunakan Stochastic Frontier Analysis dengan fungsi produksi transcendental logarithmic yang memasukkan emisi sebagai salah satu variabel produksi. Hasil menunjukkan bahwa sektor pertanian kawasan Asia Tenggara masih bersifat padat karya dengan kondisi decreasing returns to scale (0,80). Rata-rata efisiensi teknis sebesar 0,81 mengindikasikan potensi peningkatan output sekitar 19% melalui perbaikan efisiensi, sedangkan impor dan ekspor terbukti menurunkan inefisiensi teknis melalui alih teknologi dan tekanan kompetitif. Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kinerja sektor pertanian kawasan Asia Tenggara memerlukan sinergi antara efisiensi teknis, perdagangan yang lebih efisien, dan kebijakan pertanian yang mendukung keberlanjutan. Implikasi kebijakan menekankan penguatan efisiensi teknis, modernisasi teknologi, serta pemanfaatan perdagangan sebagai instrumen peningkatan produktivitas pertanian berkelanjutan, khususnya bagi Indonesia.
Item
Model Kelembagaan Agribisnis Kopi di Sulawesi Barat
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2026-06-30) Pagala, Muh. Arman Yamin; Nurdiyah
Kopi merupakan salah satu komoditas strategis yang berperan penting dalam
perekonomian perdesaan di Sulawesi Barat. Namun, pengembangan agribisnis kopi masih menghadapi lemahnya koordinasi antarlembaga, keterbatasan kapasitas pengolahan, dan belum terintegrasinya subsistem agribisnis. Penelitian ini bertujuan menganalisis struktur hubungan kelembagaan dan menyusun model kelembagaan agribisnis kopi di Sulawesi Barat menggunakan Interpretative Structural Modeling (ISM) dan Matrice d'Impacts Croisés Multiplication Appliquée à un Classement (MICMAC). Model yang dihasilkan mengidentifikasi peran strategis dan saling ketergantungan antarlembaga sebagai dasar perumusan kebijakan pengembangan agribisnis kopi. Data dikumpulkan pada Februari–November 2024 melalui observasi, survei, wawancara mendalam, dan focus group discussion terhadap sembilan aktor kelembagaan yang dipilih secara purposif, didukung oleh 96 responden petani kopi. Hasil penelitian mengidentifikasi sembilan aktor kelembagaan dalam sistem agribisnis kopi. Analisis SSIM menunjukkan bahwa sebagian besar hubungan antarlembaga bersifat timbal balik, sedangkan initial reachability matrix menunjukkan 40,2% hubungan belum konsisten yang mengindikasikan lemahnya integrasi kelembagaan. Analisis MICMAC menunjukkan bahwa dinas pertanian memiliki driving power tertinggi, sedangkan perusahaan eksportir merupakan aktor independen yang berperan sebagai penggerak utama sistem. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pengembangan agribisnis kopi memerlukan penguatan koordinasi dan sinergi antarlembaga melalui model kelembagaan yang lebih terintegrasi. Oleh karena itu, kebijakan perlu diarahkan pada penguatan peran pemerintah daerah sebagai koordinator sistem, revitalisasi koperasi, pengembangan industri pengolahan kopi, dan penguatan kemitraan antarlembaga untuk mewujudkan agribisnis kopi yang lebih berdaya saing dan berkelanjutan.
Item
Volatilitas, integrasi, dan transmisi harga telur ayam ras di wilayah Sumatera
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2026-06-30) Khairunnisa, Nadia Putri; Andani, Apri; Irnad
Telur ayam ras merupakan sumber protein penting dalam konsumsi rumah tangga, tetapi harganya sering berfluktuasi sehingga berpotensi mengganggu stabilitas pasar. Kebaruan penelitian ini adalah menyajikan analisis terpadu mengenai volatilitas, integrasi pasar, transmisi harga, serta peran price maker dan price taker telur ayam ras antarprovinsi di Pulau Sumatera. Tujuan penelitian adalah menganalisis volatilitas, integrasi pasar, transmisi harga, serta peran masing-masing provinsi dalam pembentukan harga telur ayam ras di Pulau Sumatera. Analisis dilakukan menggunakan model Generalized Autoregressive Conditional Heteroskedasticity (GARCH) untuk mengukur volatilitas, Johansen Cointegration Test dan Error Correction Model (ECM) untuk menganalisis integrasi pasar, serta Vector Error Correction Model (VECM) dan Granger Causality Test untuk mengidentifikasi arah transmisi harga. Data yang digunakan berupa harga telur ayam ras bulanan di sepuluh provinsi di Pulau Sumatera selama periode 2020–2024 yang bersumber dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa volatilitas harga tergolong moderat, pasar terintegrasi dalam jangka panjang tetapi belum dalam jangka pendek, serta terdapat perbedaan peran provinsi dalam pembentukan harga. Aceh, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung berperan sebagai price makers sekaligus price takers, sedangkan Sumatera Barat, Jambi, dan Bangka Belitung cenderung bersifat independen. Secara keseluruhan, pasar telur ayam ras di Sumatera menunjukkan integrasi jangka panjang dengan struktur pembentukan harga yang tidak merata antarprovinsi. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi perumusan kebijakan stabilisasi harga dan penguatan sistem distribusi pangan regional.
Item
Keputusan petani dalam memanfaatkan kredit perbankan dan dampaknya terhadap keuntungan usaha tani tembakau Virginia di Provinsi Nusa Tenggara Barat
(2026-06-30) Ahmadi, Fadlika; Syaukat, Yusman; Tinaprilla, Netti
Subsektor perkebunan memiliki peranan penting dalam perekonomian Indonesia sebagai penyumbang devisa dan kesempatan kerja. Salah satu komoditas unggulan adalah tembakau Virginia yang daerah produsen utamanya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Permasalahan utama yang dihadapi petani tembakau Virginia di Provinsi NTB adalah keterbatasan modal yang sering kali menghambat upaya peningkatan produktivitas dan keuntungan usaha tani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam mengakses kredit perbankan serta mengukur dampak kredit terhadap keuntungan usaha tani tembakau Virginia di Provinsi NTB. Berbeda dengan sebagian besar studi terdahulu yang membahas kedua aspek tersebut secara terpisah, penelitian ini menganalisisnya dalam satu kesatuan kerangka analisis evaluasi dampak. Metode yang digunakan adalah Propensity Score Matching (PSM) dengan 144 responden, yang terdiri dari 72 petani penerima kredit dan 72 petani nonkredit. Hasil analisis logit menunjukkan bahwa tingkat pendidikan, jumlah tanggungan, dan status dalam kelompok tani berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani dalam mengakses kredit. Hasil estimasi Average Treatment Effect on the Treated (ATT) menunjukkan bahwa kredit perbankan memberikan dampak positif dan signifikan terhadap keuntungan usaha tani, di mana petani penerima kredit perbankan memperoleh keuntungan rata-rata Rp17,79 juta lebih tinggi dibandingkan dengan petani nonkredit perbankan. Temuan ini menyimpulkan bahwa akses kredit formal terbukti berperan penting dalam meningkatkan kapasitas permodalan dan keuntungan usaha tani tembakau Virginia di NTB. Dengan demikian, perluasan akses kredit perbankan yang lebih inklusif dan adaptif menjadi langkah strategis untuk mendorong peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani.