Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Bahan Ajar Pelatihan Pengawas Kesehatan Masyarakat Veteriner
(2026-07-31) Tim Divisi Kesmavet BBPKH Cinagara
Produk pangan yang ASUH memerlukan kontribusi dari berbagai pihak yang
mana dalam prosesnya ada peran serta seorang pengawas kesmavet dan
asisten pengawas kesmavet, peran serta asisten pengawas kesmavet tidak
hanya melakukan pengawasan saja namun juga memastikan hasil olahan
pangan yang beredar aman, sehat ,utuh dan halal.
Unit usaha adalah suatu tempat untuk menjalankan kegiatan
memproduksi, menangani, mengedarkan, menjual, menjajakan,
memasukkan dan/atau mengeluarkan produk hewan secara teratur dan
terus-menerus untuk tujuan komersial.
Pengawas kesmavet memiliki pengertian yaitu petugas teknis pada dinas
yang membidangi fungsi kesmavet yang telah mengikuti pelatihan dan
ditugaskan sebagai pengawas kesehatan masyarakat veteriner,yang
memiliki profesi sebagai dokter hewan dan memiliki tanggung jawab dalam
mengawasi dari hulu sampai ke hilir suatu produk hewan. Sehingga
diharapkan dengan adanya bahan ajar ini akan memberikan wawasan
terkait acuan ataupun aturan dasar bagi seorang pengawas kesmavet
dalam melaksanakan peran dan fungsinya.
Item
Bahan Ajar Persiapan Sertifikasi Pengendalian Penyakit Paramedik Veteriner
(BBPKH Cinagara, 2021-09-01) Sri Gatiyono
Bahan ajar ini terdiri dari beberapa pokok bahasan yang
menjelaskan secara rinci hal-hal mengenai nekropsi atau bedah bangkai,
yaitu:
1. Tehnik nekropsi atau bedah bangkai pada hewan
Pada prinsipnya nekropsi atau bedah bangkai adalah
mengeluarkan organ-organ tubuh yang mengalami kelainan-kelainan
patologi anatomis akibat terinfeksi oleh pathogen dari penyakit
tertentu. Bila menggunakan hewan yang sudah mati tidak boleh
lebih dari 6 (enam) jam setelah mati, karena pada hewan tersebut
terdapat mikroorganisme yang mencemari tubuh hewan dan ada
proses autolysis yaitu penghancuran sendiri organ-organ tubuh
hewan tersebut. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian supaya hasil
pemeriksaan bedah bangkai menjadi akurat, antara lain: jenis
penyakit, kondisi hewan, umur hewan, jumlah sampel dan tempat
pelaksanaan. Selain itu, penilaian pemeriksaan bedah bangkai
berdasarkan perubahan-perubahan pada organ-organ tubuh hewan
yang diperiksa, yaitu ukuran organ, warna organ, tepi organ, bidang
sayatan dan konsistensi. Prosedur yang harus dilakukan bila akan
melakukan bedah bangkai ada 3 (tiga) yaitu:
1). Anamnese selengkapnya untuk mengetahui gambaran
penyakit yang ada.
2). Pemeriksaan gejala klinis untuk mendapatkan gambaran
tanda-tanda penyakit yang menginfeksi hewan
3). Pemeriksaan kelainan pasca mati/perubahan-perubahan
patologi anatomis dari organ-organ tubuh hewan.
2. Pemeriksaan Gejala Klinis dan Patologi Anatomis
Pemeriksaan gejala klinis meliputi antara lain: penampilan
hewan, apakah lincah atau lesu, gejala gangguan pernafasan, seperti
ngorok, bersin-bersin, keluar lender, gangguan pencernaan, apakah
mencret atau tidak, kalau mencret waran apa dan bagaimana
konsistensinya, gangguan saraf, sperti torikolis pada ungags,
lumpuh, atau tremor, gangguan reproduksi, seperti kualitas dan
kuantitas produksi telur pada unggas, endometritis atau prolapses
uteri, dll. pada hewan ruminansia.
Pemeriksaan bedah bangkai merupakan langkah selanjutnya
untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas dalam mengamati
perubahan-perubahan organ-organ tubuh. Pengamatan terhadap
perubahan organ tubuh seperti warna , ukuran, bentuk, kekenyalan
ataupun perubahan lainnya seperti peradangan.
Organ-organ tubuh yang perlu diamati, antara lain:
pemeriksaan otot dan kulit, organ pernafasan seperti rongga hidung,
sinus, kantong udara, laring, trachea, brokhus dan paru-paru; Organ
pencernaan seperti mulut, esophagus, tembolok, proventrikulus,
ventrikulus atau gizzard, usus, hati dan pancreas; organ sirkulasi
darah seperti jantung, organ limfoid seperti bursa fabrisius, thymus
dan peyer patches pada unggas dan limpa; organ reproduksi seperti ovarium, oviduct, dll. organ saraf seperti otak, dan saraf yang ada
didalam tubuh; organ urinaria seperti ginjal dan organ lainnya
seperti rongga perut, lemak perut, dll.
Item
Info Literasi: Anggur Tropis Indonesia: Saatnya Menguasai Pasar Domestik
(Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, 2026-07-30) Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian
Item
Info Teknologi: Pengairan Basah-Kering (AWD): Strategi Efektif Menjaga Air Tanah pada Musim Kemarau
(Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, 2026-07-29) Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian
Item
Analisis Kelayakan Usahatani Kumis Kucing (Orthosiphon grandiflarus) di Kabupaten Sukabumi ; buletin litro vol xvi no 2, 2005 hlmn ; 91-102
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-01-01) Ermiati, M. Hasanah dan Sukarman
Penelitian mengenai analisis kelayakan usahatani kumis kucing (Orthosiphon grandiflarus) telah dilakukan di Kampung Cirendeu, Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi pada bulan Maret sampai April 2004. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelayakan usahatani, besar pendapatan petani dan harga minimum yang harus derima oleh petani dari usahatani kumis kucing serta titik impas (BEP). Penelitian dilakukan dengan metode survey. Kampung Cirendeu Desa Girijaya sebagai lokasi penelitian dipilih secara sengaja karena merupakan sentra produksi kumis kucing. Petani responden ditentukan secara acak saderhana sebanyak tiga puluh (30) orang. Besarnya pendapatan petani dari usahatani kumis kucing dianalisis dengan analisis pendapatan, sedangkan kelayakan usahatani dianalisis melalui pendekatan analisis Benefit Cost Ratio (B/C), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Dari hasil analisis diketahui, bahwa besar pendapatan petani dari usahatani kumis kucing, yaitu sebesar Rp. 16.198.757,-/ha/2 tahun atau Rp. 674.948,-/bulan. Sedangkan kelayakan usahatani kumis kucing sampai habis panen (umur 2 tahun), untuk tingkat bunga 15% nilai B/C ratio 3,14, NPV = Rp. 16.198.757,- dan IRR = 52%. Ini berati, bahwa usahatani kumis kucing di Kampung Cirendeu, Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi menguntungkan dan layak untuk dikem- bangkan sedangkan kendala pengembangan yang dihadapi oleh petani, yaitu keter- batasan modal dan sempitnya luas lahan yang dimiliki. Hasil ini penelitian diharapkan akan dapat dijadikan sebagai
acuan dalam pengembangan tanaman kumis kucing selanjutnya.
Kata kunci: Orthosiphon grandiflarus, kelayakan usahatani