Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Turiman Pagole Tumpangsari Padi Gogo dengan Kedelai
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2021) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Penerapan teknologi Tumpangsari Tanaman (Turiman) Pagole antara padi gogo dan kedelai merupakan solusi strategis untuk mengatasi efisiensi penggunaan lahan serta defisit kedelai nasional melalui optimalisasi lahan kering. Sistem ini diperkenalkan dalam dua pilihan pengaturan populasi, yaitu Model 6-3 (6 baris padi gogo : 3 baris kedelai) dan Model 4-3 (4 baris padi gogo : 3 baris kedelai) dengan penggunaan varietas unggul seperti Inpago 10 dan Dega 1 serta pemupukan berimbang berbasis pembenahan tanah. Hasil pengujian di IP2TP Kendalpayak menunjukkan produktivitas gabah padi gogo masing-masing mencapai 3,2 t/ha (Model 6-3) dan 2,7 t/ha (Model 4-3), disertai tambahan hasil kedelai sebesar 1,1 t/ha dan 1,4 t/ha. Secara finansial, kedua model ini terbukti ekonomis dan layak dikembangkan dengan nilai nisbah B/C sebesar 0,5 serta memberikan keuntungan bersih berturut-turut sebesar Rp9.086.500,00/ha dan Rp8.896.500,00/ha. Lebih lanjut, penerapan teknologi Turiman Pagole di tujuh provinsi sentra padi gogo di Indonesia berpotensi menambah luas areal tanam efektif kedelai hingga 396.500 ha serta memberikan kontribusi produksi signifikan bagi ketahanan pangan nasional.
Item
Terknologi Budi Daya Kacang Tanah pada Lahan Masam
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Pengembangan budi daya kacang tanah di lahan masam menghadapi kendala berupa tingkat keasaman tanah serta ancaman hama penting penggerek polong (Etiella zinckenella) yang dapat menurunkan hasil hingga 30–70%. Untuk mengatasi masalah tersebut, penerapan paket teknologi terpadu yang memadukan varietas toleran lahan masam, bahan amelioran, pupuk hayati, serta pemupukan NPK yang tepat terbukti mampu meningkatkan produktivitas polong kering hingga lebih dari 2,0 t/ha. Selain perbaikan hara, pengendalian hama menggunakan kombinasi biopestisida Biolec (3 kali) dan insektisida sihalotrin (1 kali) berhasil meningkatkan hasil polong kering mencapai 1,744 t/ha. Penerapan teknologi budi daya ini disesuaikan dengan pola tanam lokal—seperti penyisipan di antara monokultur ubikayu atau tumpangsari ubikayu dengan padi gogo/jagung serta didukung pemanenan tepat waktu saat matang fisiologis dan penanganan pascapanen yang benar guna menjaga mutu dan potensi hasil secara optimal.
Item
Teknologi Pengedalian Penyakit Kedelai dengan Biofungisida
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Penggunaan biofungisida merupakan teknologi ramah lingkungan yang efektif untuk mengendalikan penyakit utama pada tanaman kedelai, khususnya penyakit tular tanah dan karat daun. Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi telah menguji tiga jenis biofungisida unggulan, yaitu TRICHOL-8 dan BACTAG untuk mengendalikan penyakit layu, hawar daun, serta rebah kecambah (S. rolfsii, R. solani, Pythium sp., dan Fusarium), serta CEKA (berbahan aktif minyak cengkeh hasil penyulingan) untuk menekan infeksi penyakit karat daun. Aplikasi TRICHOL-8 (2–3 g/kg benih) dan BACTAG (100 ml/kg benih) dilakukan sebagai perlakuan salut benih (seed treatment) saat tanam, dilanjutkan dengan penyemprotan BACTAG (100 ml/l) pada 14–35 HST dan CEKA (3 ml/l + perekat) pada 30–65 HST. Hasil validasi lapangan di Kabupaten Pasuruan dan Banyuwangi menunjukkan bahwa penerapan paket biofungisida ini mampu menghasilkan biji kering kedelai berturut-turut sebesar 1,678 t/ha dan 2,028 t/ha, yang kinerjanya setara dan sebanding dengan penggunaan fungisida kimia.
Item
Teknologi Budi Daya Ubi Jalar di Lahan Kering
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Penerapan teknologi budi daya ubi jalar pada agroekologi lahan kering maupun lahan irigasi terbatas terbukti mampu memberikan hasil panen yang optimal dan nilai keuntungan usahatani yang tinggi. Di lahan kering, penggunaan varietas Ayamurasaki dengan pemupukan 5 ton pupuk kandang ditambah 100 kg Urea, 100 kg SP-36, dan 100 kg KCl per hektar berhasil menghasilkan produktivitas sebesar 28,60 t/ha dengan keuntungan bersih mencapai Rp19.540.000,00/ha. Sementara itu, uji performa varietas di lahan irigasi terbatas menunjukkan varietas Kidal mampu menghasilkan bobot ubi tertinggi mencapai 42,08 t/ha, diikuti varietas Shiroyutaka sebesar 41,54 t/ha. Penggunaan pupuk anorganik tunggal Urea (100 kg/ha) juga mencatatkan hasil ubi tertinggi (39,09 t/ha) dibanding jenis pupuk lainnya. Selain dipasarkan segar, varietas seperti Kidal, Shiroyutaka, dan Ayamurasaki memiliki nilai ekonomis tinggi karena diminati industri pengolahan pasta beku untuk memenuhi komoditas ekspor.
Item
Teknologi Budi Daya Kedelai Tumpang sari dengan Jagung
(Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, 2019) Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi
Pengembangan budi daya kedelai di lahan kering beriklim kering bertanah Alfisol menghadapi kendala keterbatasan luas areal dan dominasi pertanaman jagung oleh petani, sehingga sistem tumpangsari menjadi solusi strategis tanpa mengurangi produksi jagung lokal. Penerapan teknologi tumpangsari baris ganda antara jagung (seperti varietas Pertiwi-6) dan kedelai varietas Dena 1 yang toleran naungan berhasil mengoptimalkan penggunaan lahan suboptimal ini. Melalui pemeliharaan terpadu—yang mencakup perlakuan benih, pemupukan berimbang gabungan pupuk organik (kandang 1,5 t/ha) serta anorganik (Urea, SP-36, KCl), dan pengendalian OPT secara berkala—sistem ini terbukti menghasilkan 4,00 t/ha biji kering jagung serta 1,29 t/ha biji kering kedelai. Selain panen biji, sistem tumpangsari ini turut menyediakan produk sampingan berupa biomas kering brangkasan jagung (7,16 t/ha) dan kedelai (2,56 t/ha) yang bernilai ekonomis tinggi sebagai pakan ternak di wilayah kering.