Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
MASALAH TANAMAN PALA DI ACEH SELATAN : Warta balittro No. 45 Tahun 2002
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Wikardi, E.A.; Siswanto
Tanaman pala (Myristica fragrans L.) merupakan salah satu komoditas rempah BALITTRO yang belum banyak mendapat perhatian. Tanaman pala merupakan tanaman asli Indonesia, dengan sumber genetik berasal dari Maluku. Sejak tahun 700 Sebelum Masehi pala telah diperdagangkan sebagai bumbu masak, karena aromanya yang wangi dan semerbak (=fragrans) Seiring dengan pencabutan monopoli perdagangan pala tahun 1870, penanaman palapun menyebar kewilayah lain, seperti Sulawesi, Jawa, Sumatera dll. Setelah perang dunia kedua Inggeris dan Perancis mengembangkannya di kepulauan Karibia, namun hanya di Granada berkembang dengan baik. Saat ini Granada merupakan pesaing ekspor pala Indonesia, yang dari dahulu 80% kebutuhan dunia disuplai oleh Indonesia.
Item
MEMBANGUN KERJASAMA DENGAN MITRA DALAM KOMERSIALISASI TEKNOLOGI : Warta balittro No. 45 Tahun 2002
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Taryono
paradigma pembangunan pertanian saat ini adalah pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing dan berkelanjutan, berkerakyatan dan terdesentralisasi. Untuk menuju ke arah agribisnis yang berdayasaing tidak cukup apabila kita hanya mengandalkan sumberdaya saja atau modal saja, tetapi harus didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Hal ini terlihat dari realita saat ini di mana kita mempunyai sumberdaya yang melimpah seperti lahan, air dan plasma nutfah, tetapi pertanian kita tidak mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri seperti beras, jagung, kedelai, kacang tanah, gula, dan lain-lain, termasuk benihnya masih harus diimpor.
Item
MENGENAL EKOSISTEM MANGROVE DAN PELUANGNYA SEBAGAI SUMBER BAHAN OBAT ALAM : Warta balittro No. 45 Tahun 2002
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Muhamad, Herry
Sebagai salah satu negara tropis terluas di dunia, Indonesia dikaruniai oleh Sang Pencipta dengan kekayaan alam yang melimpah. Kekayaan flora yang dimiliki Indonesia tidak kurang dari 30.000 jenis tumbuhan (10% dari banyaknya jenis flora dunia). Banyak diantaranya telah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya sejak ratusan tahun silam. Salah satu manfaat yang bisa dirasakan adalah sebagai sumber bahan obat, kosmetika maupun jamu. Menurut Sutarjadi (1994), kegiatan pemanfaatan tumbuhan sebagai sumber obat sudah dilakukan oleh masyarakat di Indonesia sejak zaman dahulu. Steinman dalam Sutarjadi (1994) bahkan menyatakan bahwa dalm gambar-gambar relief yang terdapat pada candicandi Borobudur, Prambanan, Penataran, Sukuh dan Tegalwangi Warta BALITTRO No. 45 Th. 2002 ditemukan gambar-gambar pohon kamboja, maja keling, tengkawang, buni, pucung, nyamplung, nagasari/cangkok kurung, cendana wangi, cendana jenggi, kembang sepatu, sukun, jamblang, kecubung dan lain-lain. Menurut Zuhud dan Haryanto (1994), tidak kurang dari 1260 jenis tumbuhan obat terdapat di hutan tropika Indonesia. Dari jenis tumbuhan sebanyak itu menurut Sangat, et al. (2000) telah digunakan secara turun temurun oleh + 370 etnis/suku asli yang hidup dan tinggal di sekitar kawasan tersebut, beberapa diantaranya bahkan telah berhasil dikembangkan sebagai fitofarmaka, sebagian lainnya telah berhasil diisolasi berbagai metabolit sekunder yang sangat potensial sebagai bahan baku fitofarmaka.
Item
Pelatihan Kewirausahaan Dalam Pengembangan Inovasi Teknologi Pertanian : Warta balittro No. 45 Tahun 2002
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Taryono
Tantangan Badan Litbang Pertanian ke depan adalah makin dinamisnya perkembangan lingkungan strategis, reformasi peranan sektor pertanian, serta sistem dan usaha agribisnis. Dalam upaya meningkatkan nilai tambah komersial, dari Rapat Kerja Badan Litbang Pertanian telah teridentifikasi beberapa hal berikut: (a) kurang tersedianya teknologi yang siap dikomersialkan, (b) terbatasnya program Litbang yang menyentuh aspek bisnis dan berpotensi komersial, (c) fasilitas penelitian untuk menuju era komersialisasi dengan fasilitas yang terakreditasi dan berstandar internasional belum memadai, dan (d) budaya "enterpreneurship" dari peneliti yang masih belum searah dengan paradigma nilai tambah komersial (Badan Litbang Pertanian, 2001). Sejalan dengan keinginan untuk mewujudkan dan meningkatkan proses litbang dalam era komersialisasi, Badan Litbang Pertanian telah melakukan serangkaian promosi dan ekspose teknologi hasil penelitian baik dalam pameran maupun seminar.
Item
RUMAН КАСА KITA NASIBMU KINI : Warta balittro No. 45 Tahun 2002
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2002-06-01) Rukmana, Dadang
instalasi Penelitian Rumah 1 Kaca merupakan salah satu sarana penunjang untuk kegiattan penelitian dan keberadaanya sangat diperlukan dalam suatu Balai Penelitian. Oleh karena itu Rumah Kaca perlu mendapat perhatian yang serius, baik mengenai kondisi fisik bangunan maupun pemanfaatannya. Fungsi rumah kaca di Balittro diantaranya selain untuk mengoleksi berbagai jenis tanaman rempah dan obat, juga untuk melayani kegiatan penelitian mulai dari persemaian, pembibitan/ perbanyakan bibit sampai skrining hama dan реnyakit dan lain-lain. Hasil perbanyakan kultur jaringan, hasil persilangan (hibridisasi) baik secara konvensional melalui persilangan seksual maupun melalui fusi protoplas, sebelum ditanam di lapangan terlebih dahulu perlu diaklimitasi di rumah kaca untuk penyesuaian kondisi lingkungan.