Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Keragaan Lima Varietas Unggul Baru Padi Sawah di Sulawesi Tengah
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Basrum; Afif Juradi, Muh; Baso Lompengeng Ishak, Andi
Abstrak Tujuan dari pengkajian ini adalah untuk melihat keragaan kelima varietas unggul baru padi sawah. Pengkajian varietas unggul baru padi sawah melalui pendekatan pengelolaan tanaman terpadu (PTT), telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Sidondo, desa Sidondo 3, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi pada bulan Juli sampai Oktober 2017. Varietas unggul baru yang diujikan 5 varietas yaitu Mekongga, Inpari 24, Inpari 30, Inpari 33 dan Inpari 36. Komponen teknologi yang diterapkan meliputi : Penggunaan varietas unggul baru (VUB), seed treatment dengan Regent 13 ml/5 kg benih, pindah tanam < 20 hari setelah semai (HSS), sistem tanam jajar legowo 2:1 (20x10x40) cm, penggunaan urea 250 kg ha-1 dan phonska 300 kg ha-1. Hasil kajian menunjukkan varietas Inpari 30 memberikan hasil produksi tertinggi yaitu 8,2 t GKP ha-1, Mekongga 7 t GKP ha-1, Inpari 33 6,3 t GKP ha-1 dan Inpari 24 6,6 t GKP ha-1 dan Inpari 36 6,8 t GKP ha-1. Dari ke lima varietas Inpari 30 memiliki respon yang baik terhadap pertumbuhan dan hasil dibanding varietas lainnya, selain potensi hasil tinggi juga di lapang terlihat relatif toleran terhadap penggerek batang, tahan terhadap penyakit bercak coklat dan blas leher. Sesuai dengan produktivitas yang dihasilkan, Inpari 30 layak untuk dikembangkan dalam skala luas di Sulawesi Tengah. Abstract In increasing plants product in field irrigation area that technology innovative must be pushed. The research some to the new high-yielding variety rice field by approach processing plant integrated. This research was done in the village Sidondo, Sigi Biromaru subs district, Sigi regency in July until October 2017. The new high-yielding variety that has experiment of 5 varieties are: Mekongga, inpari 24 variety, inpari 30, inpari 33 and inpari 36. The objective is to see the power of rice plants adaptation to a new high-yielding variety in field irrigation. Component technology is used: using a new high-yielding variety, centreman with regent 13 ml/5 kp germ, act planting 18 days after seedling Sistem planting is line legowo, use urea 250 kg/ha and phonska 300 kg/ha. The research showed eaten Inpari 30 variety give a high outcome production is 8,2 ton/ha unhulled paddy separated from the stalk’s dry harvest/ha. By the 5 of variety, inpari 30 has good respond to the growth than the other variety. Besides it has high result potency and enduring to stem borer-based experiment in location and then endure to hama brown spot, and neck blass, tasty results are suitable with farmer appetize and consume than the other variety.
Item
Evaluasi Daya Hasil dan Mutu Beras Beberapa Galur Harapan Padi Gogo
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Puji Lestari, Angelita; Hairmansis, Aris; Hermanasari, Rini; Yullianida; Suwarno
Abstrak Pengujian daya hasil pendahuluan dilakukan untuk melihat potensi hasil galur-galur harapan padi gogo generasi lanjut serta mutu berasnya. Percobaan uji daya hasil pendahuluan dilaksanakan di Taman Bogo, Lampung pada Musim Hujan 2016 dan di Mirit, Kebumen pada Musim Hujan 2016. Materi yang digunakan adalah sebanyak 30 galur dan lima varietas pembanding yaitu Inpago 6, Inpago 8, Situpatenggang, Situbagendit, dan Limboto. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil gabah dipengaruhi oleh genotipe serta interaksi genotipe dan lingkungan. Sebanyak tujuh galur berumur genjah dibandingkan varietas pembanding yang berumur paling genjah yaitu Situpatenggang. Terdapat delapan galur padi gogo yang memberikan hasil gabah setara dengan varietas pembanding terbaik Limboto. Berdasarkan analisis korelasi bobot 1.000 butir, jumlah gabah isi, jumlah gabah total dan tinggi tanaman menunjukkan korelasi nyata dan positif terhadap hasil. Rata-rata ukuran beras galur yang diuji tergolong panjang, bentuk sedang dengan pengapuran sedikit atau jernih kadar amilosa sedang serta tekstur nasi pulen. Abstract The preliminary yield trial was conducted to study the potential of advanced generations of upland rice line and rice quality. This experiment was conducted in Taman Bogo, Lampung on Wet Season 2016 and in Mirit, Kebumen on Wet Season 2016. Material used were 30 lines and five varieties of comparison ie Inpago 6, Inpago 8, Situpatenggang, Situbagendit, and Limboto. The experimental design used was a Randomized Complete Block Design with three replications. Results showed that grain yield was influenced by genotype and genotype environment interaction. A total of seven lines had shorter flowering duration compared to the most mature check variety Situpatenggang. There were eight lines that had comparable grain yield to the best varieties, Limboto. Based on the correlation analysis weights 1,000 grains, the number of grain contents, total grain number and plant height showed a significance and positive correlation to the grain yield. The average grain size was long, medium chalkiness and medium amylose content and tender rice texture.
Item
Ekspresi di Lapang Galur-galur BC1F4 dan BC2F3 Persilangan Code × NIL-QTSN4 dan CODE × NIL-QDTH8 Untuk Perbaikan Potensi Hasil
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Prasetiyono, Joko; Tasliah,; Ma sumah,; R. Trijatmiko, Kurniawan
Abstrak Peningkatan produksi padi nasional memerlukan varietas baru dengan hasil tinggi. Code merupakan varietas unggul yang memiliki gen ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri, masih memiliki peluang untuk ditingkatkan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi galur-galur BC1F4 dan BC2F3 persilangan Code × NIL-qTSN4 dan Code × NIL-qDTH8 di lapang. Penelitian ini dilakukan di KP Sukamandi, Balai Besar Penelitian Padi (Sukamandi, Jawa Barat) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (Bogor, Jawa Barat) pada bulan September 2015 sampai dengan Februari 2016 (musim tanam II). Materi yang digunakan adalah tetua Code, NIL-qTSN4, NIL-qDTH8, 17 galur BC1F4 dan 28 galur BC2F3 untuk Code × NIL-qTSN4, 13 galur BC1F4 dan 18 galur BC2F3 untuk Code × NIL-qDTH8. Berdasarkan analisis molekuler menggunakan marka mikrosatelit RM20582 (lokus Xa7), RM17483 dan RM6909 (lokus qTSN4), RM5556 dan RM6838 (lokus qDTH8) sebanyak 2 dari 17 galur BC1F4 (11,77%) dan 11 dari 28 galur BC2F3 (39,29%) Code × NIL-qTSN4 memiliki pola alel yang menyimpang, sehingga tidak diamati karakter agronominya. Demikian juga 1 dari 13 galur BC1F4 (7,69%) dan 5 dari 18 galur BC2F3 (27,78%) Code × NIL-qDTH8 yang menyimpang. Galur Code-qTSN4 memiliki penampilan lebih pendek dibanding Code, jumlah anakan produktif lebih sedikit, panjang malai yang sama, dan memiliki jumlah gabah isi lebih banyak. Persentase pengisian gabah juga lebih tinggi dibanding Code, dan bobot gabah isi jauh lebih banyak dibanding Code. Galur Code-qDTH8 memiliki penampilan lebih pendek, umur lebih genjah, jumlah anakan produktif lebih banyak, malai lebih pendek, namun jumlah gabah isi lebih banyak. Persentase pengisian gabah lebih tinggi dengan bobot gabah isi lebih banyak dibanding Code. Galur-galur Code-qDTH8 memiliki hasil lebih banyak dibanding galur qTSN4 melalui jumlah anakan produktif lebih banyak, meskipun jumlah gabah isinya lebih sedikit. Abstract Increasing national rice production needs new high yield variety. Code is a modern variety that has resistance genes to bacterial leaf blight disease, still needs to increase its production. This study aimed to evaluate BC1 F4 and BC2 F3 lines of Code × NIL-qTSN4 and Code × NIL-qDTH8 crosses in the field. This research was conducted at Sukamandi Field Test, Indonesia Center for Rice Research (Sukamandi, West Java) and the Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (Bogor, West Java) in September 2015 until February 2016 (planting season II). The material used were Code, NIL-qTSN4, NIL-qDTH8, 17 lines of BC1 F4 and 28 lines of BC2 F3 for Code × NIL-qTSN4, 13 lines of BC1 F4 and 18 lines of BC2 F3 for Code × NIL-qDTH8. Based on molecular analysis using microsatellite markers RM20582 (Xa7 locus), RM17483 and RM6909 (qTSN4 locus), RM5556 and RM6838 (qDTH8 locus), 2 of 17 BC1 F4 lines (11.77%) and 11 of 28 lines BC2 F3 (39.29%) Code × NIL-qTSN4 had a distorted allele pattern, so it was not observed its agronomic character. As well, 1 of 13 BC1 F4 lines (7.69%) and 5 of 18 BC2 F3 lines (27.78%) Code × NIL-qDTH8 were deviated also. Code-qTSN4 lines had shorter performance than Code, fewer productive tillers, same panicle length, and more grain content. The percentage of grain filling was also higher than Code, and the weight of the grain content was much higher than the Code. Code-qDTH8 lines had shorter appearance, more early maturity, more productive tiller number, shorter length of panicle, but more number of grain contents. The percentage of grain filling was higher with weight of grain more than Code. Code-qDTH8 lines had yield more than Code-qTSN4 lines through more productive tillers number, although the number of grain content was less.
Item
Interaksi Genotipe dan Lingkungan Terhadap Penampilan Calon Varietas Padi Hibrida Pada Dua Lokasi
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Kartina, Nita; Pramono Wibowo, Bayu; Apri Rumanti, Indrastuti; Satoto
Abstrak Pengaruh interaksi antara genotipe dan lingkungan merupakan salah satu tantangan bagi pemulia tanaman dalam mengembangkan galur hasil seleksi, di mana galur yang diuji menunjukkan daya hasil yang berbeda di setiap lokasi pengujian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi pengaruh interaksi genotipe dan lingkungan terhadap penampilan calon varietas padi hibrida di dua lokasi. Percobaan dilaksanakan pada musim hujan tahun 2014 di Sragen Jawa Tengah dan Malang Jawa Timur menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Materi yang digunakan adalah 18 calon varietas padi hibrida dan dua varietas pembanding, yaitu Hipa8 dan Ciherang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan, genotipe dan interaksi genotipe dan lingkungan berpengaruh sangat nyata terhadap hasil gabah. . Sebanyak enam hibrida menampilkan hasil gabah melebihi varietas pembanding Ciherang (7.54 ton/ha-1) di dua lokasi pengujian, hibrida tersebut yaitu GMJ6/CRS516 (8.69 ton ha-1), GMJ13/PK60 (8.87 ton/ha-1), /GMJ13/R2 (7.95 ton/ha-1), A6/CRS517 (7.97 ton/ha-1), A7/CRS547 (8.50 ton/ha-1) dan A7/CRS518 (8.60 ton/ha-1). Proporsi keragaman terhadap hasil adalah pengaruh lingkungan, genotipe, dan interaksi lingkungan x genotipe. Abstract The effect of interaction between genotype and environment is one of the challenges for plant breeders in developing selection lines, in which the genotypes showed different results at each location. This research was to determine the effect of genotypes and environment interactions on the appearance of prospective hybrid rice varieties in two locations. The experiment was conducted during the rainy season season of 2014 in Sragen, Central Java and Malang East Java using randomized complete block design (RCBD) with four replications. The material genetic used was 18 hybrid rice genotypes and two check varieties, namely Hipa 8 and Ciherang. The results showed that the environment, genotype and interaction of genotype and environment had a significant effect on grain yield. A total of six hybrids showing grain yield exceeded that of ciherang in two locations. Those hybrids were GMJ6/CRS516 (8.69 ton/ha-1), GMJ13/PK60 (8.87 ton/ha-1), GMJ13/R2 (7.95 ton/ha-1), A6/CRS517 (7.97 ton/ha-1), A7/CRS547 (8.50 ton/ha-1) dan A7/CRS518 (8.60 ton/ha-1). Proportion of variance to yield were location, genotype and location and genotype interaction.
Item
Pemurnian dan Pemutihan - Pelepasan Varietas Padi Lokal
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2018-12-01) Sitaresmi, Trias; Susanto, Untung; Nugraha, Yudhistira; Handoko, Dody; Satoto
Abstrak Penampilan pertanaman padi lokal lebih bervariasi dalam karakteristik agronominya. Penggunaan bahan tanaman yang kurang murni tidak dianjurkan, karena akan menyebabkan kesulitan di dalam menentukan tatacara pengelolaan tanaman yang tepat. Kegiatan perbaikan potensi agronomi varietas lokal melalui pemurnian dan pemutihan diharapkan dapat meningkat nilai guna varietas lokal, terutama terakit dengan ketersediaan benih bermutu. Pemurnian dan pelepasan varietas lokal secara garis besar meliputi kegiatan seleksi dan uji observasi, pendaftaran Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), serta pelepasan varietas. Metode seleksi untuk pemurnian varietas lokal (landrace) dapat dilakukan dengan metode seleksi galur murni atau seleksi massa. Dalam rangka proses pemutihan, perlu dilakukan uji observasi daya hasil dilakukan minimal 2 unit selama musim kemarau dan musim hujan di wilayah pengembangan. Proses pemutihan varietas lokal harus melibatkan instansi penyelenggara pemuliaan. Varietas yang telah diputihkan/dilepas memperoleh legalitas bagi upaya produksi benih bermutu dan bersertifikat. Tulisan ini membahas tentang perkembangan varietas lokal, dan tahapan/proses teknis pemurnian dan pemutihan/pelepasan varietas lokal sehingga diharapkan dapat memberikan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam pemurnian dan pelepasan padi varietas lokal. Abstract Performance of local rice cultivars is more varied in their agronomic characteristics. The use of less uniform plant material is not recommended, as it will lead to 479 difficulties in determining crop management practice. The improvement of agronomic potential of local variety through purification and releasing variety is expected to increase value of local variety, especially with the availability of quality seeds. Purification and release of local varieties activity include selection and observation trial, registration of Plant Variety Protection (PVP), and release of variety. The method of selection for purification of local varieties (landrace) can be done by pure line selection or mass selection methods. It is necessary to conduct observational yield trial at least 2 units during dry season and wet season in origin area. Process of purification to releasing variety needs collaboration with breeders or breeding institutions. Released varieties obtain legality for quality and certified seed production efforts. This paper discusses the development of local varieties, and the technical processes of purification and releasing of local varieties to provide information to interested parties in the purification and releasing of local varieties of rice.