Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Info Literasi: Anggur Tropis Indonesia: Saatnya Menguasai Pasar Domestik
(Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, 2026-07-30) Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian
Item
Info Teknologi: Pengairan Basah-Kering (AWD): Strategi Efektif Menjaga Air Tanah pada Musim Kemarau
(Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, 2026-07-29) Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian
Item
Analisis Kelayakan Usahatani Kumis Kucing (Orthosiphon grandiflarus) di Kabupaten Sukabumi ; buletin litro vol xvi no 2, 2005 hlmn ; 91-102
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-01-01) Ermiati, M. Hasanah dan Sukarman
Penelitian mengenai analisis kelayakan usahatani kumis kucing (Orthosiphon grandiflarus) telah dilakukan di Kampung Cirendeu, Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi pada bulan Maret sampai April 2004. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelayakan usahatani, besar pendapatan petani dan harga minimum yang harus derima oleh petani dari usahatani kumis kucing serta titik impas (BEP). Penelitian dilakukan dengan metode survey. Kampung Cirendeu Desa Girijaya sebagai lokasi penelitian dipilih secara sengaja karena merupakan sentra produksi kumis kucing. Petani responden ditentukan secara acak saderhana sebanyak tiga puluh (30) orang. Besarnya pendapatan petani dari usahatani kumis kucing dianalisis dengan analisis pendapatan, sedangkan kelayakan usahatani dianalisis melalui pendekatan analisis Benefit Cost Ratio (B/C), Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR). Dari hasil analisis diketahui, bahwa besar pendapatan petani dari usahatani kumis kucing, yaitu sebesar Rp. 16.198.757,-/ha/2 tahun atau Rp. 674.948,-/bulan. Sedangkan kelayakan usahatani kumis kucing sampai habis panen (umur 2 tahun), untuk tingkat bunga 15% nilai B/C ratio 3,14, NPV = Rp. 16.198.757,- dan IRR = 52%. Ini berati, bahwa usahatani kumis kucing di Kampung Cirendeu, Desa Girijaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi menguntungkan dan layak untuk dikem- bangkan sedangkan kendala pengembangan yang dihadapi oleh petani, yaitu keter- batasan modal dan sempitnya luas lahan yang dimiliki. Hasil ini penelitian diharapkan akan dapat dijadikan sebagai acuan dalam pengembangan tanaman kumis kucing selanjutnya. Kata kunci: Orthosiphon grandiflarus, kelayakan usahatani
Item
Penyulingan dan Analisis Beberapa Jenis Minyak Gandapura ; buletin litro vol xvi no 2, 2005 hlmn 83-90
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-01-01) Ma'mun
Minyak gandapura dihasilkan dari daun dan gagang tanaman gandapura (Gaultheria sp.) melalui proses penyulingan. Komponen utama minyak ini adalah senyawa metilsalisilat yang banyak digunakan dalam industri-industri obat- obatan, bahan pewangi, industri makanan dan minuman. Penelitian dilakukan di laboratorium Pengolahan Hasil Balittro pada bulan Juli sampai September 2003. Metilsalisilat dapat juga dibuat secara sintesis dengan reaksi esterifikasi antara metanol dan asam salisilat dengan katalis asam sulfat pekat. Indonesia hingga saat ini masih mengimpor baik minyak gandapura maupun sintetisnya, sementara penyulingan minyak gandapura lokal masih dilakukan secara kecil-kecilan menggunakan alat yang sangat sederhana. Tanaman gandapura tumbuh di daerah pegunungan di Jawa dan Sumatera namun belum dibudidayakan. Percobaan penyulingan minyak gandapura dilakukan pada jenis gandapura daun lebar (G. fragrantissima) asal dataran tinggi Dieng Wonosobo Jawa Tengah dan asal Gunung Gede Jawa Barat, jenis daun kecil (G. procumben) asal Sukamulya Jawa Barat. Minyak karakteristik fisika kimianya dan dibanding- kan dengan minyak gandapura hasil penyulingan lokal, minyak impor dan minyak sintetis. Hasil percobaan menunjuk- kan bahwa gandapura jenis daun lebar asal Gunung Gede rendemen minyaknya lebih tinggi dari jenis yang lain, yaitu 1,20%, akan tetapi kandungan metilsalisilatnya hanya 85,15%. Sedangkan jenis daun lebar asal Dieng Wonosobo menghasilkan minyak sebesar 0,8% dengan kadar metilsalisilat lebih tinggi, yaitu 97,40%. Gandapura jenis yang dihasilkan dievaluasi daun kecil memiliki rendemen minyak maupun kandungan metilsalisilat yang sangat rendah, masing-masing 0,05% dan 38,20%. Penyulingan gandapura lokal hanya menghasilkan minyak 0,10% dengan kandungan metilsalisilat 82,23%. Kandung- an metilsalisilat tertinggi terdapat pada minyak asal impor, yaitu 98,40%, sementara dalam minyak sintetis 97,00%. Hasil evaluasi karakteristik fisika kimia minyak, menunjukkan bahwa minyak hasil percobaan dari jenis daun lebar asal Dieng Wonosobo hampir menyerupai minyak asal impor dan memenuhi persyaratan Standar Nasional Indonesia. Kata kunci: Minyak gandapura, penyulingan, analisis
Item
Jenis-jenis Hama dan Serangannya Pada Tanaman Nilam ; buletin litro vol xvi no 2, 2005 hlmn 76-82
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2005-01-01) Michellia Darwis
Secara umum tanaman nilam (Pogostemon cablin Benth) di Indonesia masih diusahakan secara tradisional. Beberapa aspek budidaya masih perlu mendapat perhatian, diantaranya pengendalian organisme pengganggu tanaman. Telah dilakukan observasi jenis- jenis hama tanaman nilam di Kebun Percobaan (KP.) Sukamulya, dari bulan Agustus 2004 sampai dengan bulan Januari 2005. Penelitian lanjutan dilakukan di rumah kaca dan laboratorium hama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor, yaitu mengenai pengaruh populasi lundi terhadap kematian bibit tanaman nilam. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan 6 perlakuan dan 4 ulangan. Lundi yang diperlakukan adalah instar ketiga dari hasil pemeliharaan dan bibit nilam dipergunakan adalah varietas Sidikalang umur ± 1 bulan. Setiap bibit nilam diinvestasikan 1, 2, 3, 4 dan 5 ekor lundi. Bibit tanpa investasi lundi disertakan sebagai kontrol. Hasil pengamatan menunjukkan hama yang menyerang tanaman nilam adalah belalang (Valanga sp) dan kutu daun (Myzus persicae), rayap (Coptotermes sp) dan bekicot (Achatin sp) serta lundi (Exopholis hypoleuca) dengan tingkat serangan rendah sampai tinggi. Akibat serangan lundi mengakibatkan kematian tanaman nilam di lapang sebanyak 1.800 tanaman dari 15.000 populasi tanaman di KP. Sukamulya. Perlakuan dengan 1, 2, 3, 4 dan 5 ekor lundi/polibag menimbulkan kematian tanaman berturut-turut pada hari ke 14, 13, 10, 7 dan 7 setelah investasi lundi. Sedangkan pada kontrol (tanpa perlakuan), tidak terdapat tanaman yang mati. Kata kunci: Monitoring hama, inventasi lundi, hari kematian tanaman nilam