Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Pengaruh Perlakuan Bahan Sebelum Penyulingan Terhadap Rendemen dan Karakteristik Minyak Nilam
(Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, 1989-07) Hernani dan Risfaheri
Perlakuan pendahuluan terhadap bahan sebelum pe- nyulingan, bertujuan untuk mempertinggi rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan. Rancangan yang digunakan adalah rancangan split-plot yang terdiri atas dua faktor per- lakuan dan dua kali ulangan. Faktor A, yaitu lama penje- muran terdiri atas 3 taraf: 2 jam (A1), 4 jam (A2) dan 6 jam (A3). Faktor B, yaitu lama pelayuan setelah penjemur- an terdiri atas 3 taraf: 3 hari (B1), 6 hari (B2) dan 9 hari (B3). Penyulingan dilakukan secara dikukus dilengkapi de- ngan sistem kohobasi. Pengamatan yang dilakukan meliputi rendemen dan karakteristik minyak serta analisis secara kro- matografi gas dengan kondisi: kolom 10% Carbowax 20 M, gas Nitrogen dengan kecepatan alir 40 ml/men, detektor FID/250°C, suhu injektor 250°C, sistem terprogram 80°C/ 5°C/menit/200°C.
Item
Pengaruh Air Kelapa Terhadap Pertumbuhan Satek Panili
(Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, 1989-07) Robet Asnawi, M. Prama Yufdi, dan M. Tohir Soemantri
Penelitian ini dilakukan di rumah kaca Sub Balai Pe- nelitian Tanaman Rempah dan Obat Natar (Lampung), de- ngan tujuan untuk mengetahui pengaruh air kelapa sebagai zat pengatur tumbuh terhadap pertumbuhan setek panili. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan susunan faktorial. Faktor yang diuji adalah kepekatan la- rutan air kelapa (0, 50, 75, dan 100%), serta lama perendam- an setek panili dalam larutan tersebut (0, 2, 4, dan 6 jam). Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan air kelapa muda sebagai zat pengatur tumbuh dapat meningkatkan per- tumbuhan akar dan tunas setek panili satu ruas berdaun tunggal yang ditunjukkan oleh peningkatan panjang akar, panjang tunas dan bobot kering tunas. Hasil perlakuan ter- baik adalah perendaman setek panili dalam larutan air ke- lapa muda dengan kepekatan 50% selama empat jam.
Item
Karakteristik Minyak Daun Sapuko
(Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, 1989-07) Salya Sait dan Enny Hawani Lubis
Sapuko (Leptospermum flavescens, Smith) banyak tum- buh secara liar di Sulawesi Selatan. Minyak dari daun me- miliki aroma yang mirip dengan aroma minyak dari Lepto- spermum citratum var "A". Untuk membuktikan hal terse- but, minyak sapuko dianalisis dengan kromatografi gas. Ha- silnya menunjukkan bahwa komponen utama minyak ter- sebut adalah linalil asetat (21.13%), beta terpineol (15.41%), terpineol-4 (14.16%) dan borneol (6.77%). Di samping itu, beberapa komponen yang menentukan varietas dari tumbuh- an tersebut, yaitu sitronelal, neral, geranial dan geraniol. Kan- dungan sitronelal dan sitral minyak sapuko sangat rendah. serta sifat putaran optiknya menunjukkan bahwa minyak sa- puko bukan dari L. flavescens var citratum tetapi varietas lain dari species tersebut.
Item
Pengaruh Kelengasan Tanah Terhadap Pertumbuhan Bibit Empat Varietas Lada
(Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, 1989-07) Ujang Suparman dan M. Prama Yufdy
Percobaan tentang pengaruh kelengasan tanah terhadap pertumbuhan setek empat varietas lada telah dilakukan di Sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Natar. Ke- lengasan tanah yang diuji terdiri atas empat taraf yaitu 40, 60, 80 dan 100% kapasitas lapang. Varietas yang diuji ada- lah Natar 1, Natar 2, Petaling 1 dan Petaling 2. Perlakuan disusun secara faktorial dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pertumbuhan setek lada yang terbaik adalah pada kelengasan tanah antara 80% hingga 100% kapasitas lapang. Ditinjau dari berat kering tunas untuk varietas Petaling 1 dan 2, ke- lengasan 100% ternyata lebih baik dari 80% kapasitas lapang. Sedangkan varietas Natar 1 dan 2 memiliki pertum- buhan yang sama pada kelengasan 80% dan 100% kapasi- tas lapang dan tidak berbeda pula dengan pertumbuhan Petaling 1 dan 2 pada kelengasan 80% kapasitas lapang. Per- tumbuhan empat varietas lada yang diuji tidak menunjuk- kan perbedaan yang nyata.
Item
Daya Tahan Hidup Phytophthora Palmivora (Butler) Pada Beberapa Tingkat Kelengasan Tanah
(Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Industri, 1989-07) Dyah Manohara DKK
Daya tahan hidup Phytophthora palmivora diuji dalam tanah Latosol asal Bogor dan Podsolik asal Bangka dengan kelengasan berturut-turut 40, 60, 80 dan 100% kapasitas lapang. Daya tahan patogen yang diuji meliputi daya tahan hidup sebagai propagul dan kemampuannya mengkolonisasi bagian tanaman lada serta daya tahan hidup sebagai saprob. Pada tanah Bogor (Latosol) dengan kelengasan 100% ka- pasitas lapang, propagul patogen mampu bertahan hidup lebih dari 20 minggu, sedang pada tanah asal Bangka (Pod- solik) daya tahan hidup yang sama dicapai pada kelengasan 60% kapasitas lapang. Sebagai saprob pada daun lada, P. palmivora ini dapat bertahan hidup selama 11 minggu pada kelengasan antara 60-100% kapasitas lapang. Pada batang lada jamur ini mampu bertahan hidup sebagai saprob selama 8 minggu dalam tanah latosol dengan kelengasan 60-80% dan 10 minggu dalam tanah podsolik dengan kelengasan 60% kapasitas lapang. Pada akar lada, ternyata jamur tersebut sama sekali tidak dapat bertahan hidup sebagai saprob. Ke- mampuan kolonisasi propagul patogen pada akar lebih baik dibandingkan dengan pada batang dan daun. Kolonisasi jamur berlangsung dengan baik pada tanah yang kelengas- annya lebih dari 40% kapasitas lapang