Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Kajian Aplikasi Pemupukan Urea Pada Padi Sawah Oleh Petani Kabupaten Asahan-Sumatera Utara
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Hastuty Siregar, Idri; Jonharnas,; Khairiah
Abstrak Survey mengenai aplikasi pemupukan urea telah dilakukan di 2 (dua) kecamatan yaitu Meranti dan Rawang Panca Arga, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, pada bulan September sampai Oktober 2015. Parameter yang diamati adalah metode penebaran pupuk, waktu pemupukan, frekuensi pemupukan, dosis pemupukan urea cara petani serta hubungan pengairan berselang terhadap pemupukan urea. Berdasarkan metode aplikasi pemupukan diperoleh data bahwa 100% petani melakukan pemupukan dengan sistem tebar langsung di permukaan tanah. Berdasarkan waktu pemupukan, 87% petani melakukan pemupukan urea sekitar jam 6.30 – 8.30 WIB, 5% petani memupuk pada jam 11.30WIB serta 7% memupuk di sore hari yaitu jam 16.30 WIB. 85% petani menakar sendiri pupuk urea sesuai kebiasaan mereka sedangkan 5% lainnya sesuai rekomendasi bagan warna daun.100% petani responden melakukan pemupukan secara bertahap. Pemberian informasi mengenai manajemen pemupukan urea yang tepat sangat diperlukan petani dalam upaya meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyerapan urea oleh padi sawah. Oleh karena itu, peran lembaga penyuluhan pertanian sangat diperlukan untuk memberikan penyuluhan terkait manajemen pemupukan urea yang tepat pada padi sawah. Abstract Studies about the application of urea has been done in two (2) districts namely Meranti and Rawang Panca Arga, Asahan, North Sumatera, in September and October 2015. Observed parameters were method of fertilizer application, time of application, fertilizer application frequency, doses of urea and irrigation system at the site study in relation to support efficiency use of urea. Data showed that 100% of farmers broadcasted urea fertilizer directly to the soil surface, 87% of farmers applied urea at 6:30 to 8:30 AM, 5% of farmers applied urea at 11.30 PM and 7% farmers applied in the afternoon at 16.30 PM. 85% of farmers applied doses of urea based on their experience and custom while 5% relied on the recommendation of leaf color chart. 100% of farmers applied split fertilization. Providing information about the right strategy to apply urea will improve the N use efficiency uptake by paddy. Therefore, the role of agricultural extension is needed to disseminate information in relation to manage urea application properly on rice field.
Item
Karakterisasi Tingkat Pengisian Gabah Pada Input Pemupukan dan Tipe Varietas Yang Berbeda
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Agustiani, Nurwulan; Zaqiah MH
Abstrak Pengisian gabah yang tidak optimal merupakan salah satu masalah budidaya yang mampu menurunkan produksi hingga 20-30%. Pemupukan juga menjadi factor lain yang mempengaruhi pengisian gabah. Pemberian hara pupuk yang tidak tepat jenis, jumlah dan waktu aplikasi akan berpengaruh terhadap tingkat pengisian. Telah dilakukan penelitian di Rumah Kaca Kebun Penelitian BB Padi Sukamandi dengan tujuan penelitian untuk mengetahui karakter masing-masing varietas dalam pengisian gabah khususnya pada pengaruhnya terhadap input pemupukan yang dilakukan. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua kali ulangan. Faktor 1 yaitu pengelolaan hara pupuk (P) meliputi kontrol (P1), pupuk organik/kandang (P2) dan anorganik baik unsur makro (N, P, dan K) (P3) maupun unsur mikro (Zn, Cu, dan S) (P4). Sedangkan faktor 2 yaitu tipe varietas padi (V) terdiri dari varietas Inbrida Inpari 6 (V1) dan varietas Hibrida Hipa 8 (V2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Varietas Inpari 6 dan Hipa 8 sama-sama tergolong varietas dengan tipe anakan sedang namun Hipa 8 mempunyai jumlah gabah rata-rata per malai yang lebih banyak dibanding Inpari Meskipun demikian, bobot per satuan gabah tertinggi Inpari 6 masih lebih berat dibanding Hipa 8, yaitu pada interval 301-350 x 10-4 gram sebesar 22,1% gabah per malai, sedangkan gabah hampa (0-50 x 10-4 gram) dibawah 20%. Sementara pada Hipa 8, bulir gabah terberat hanya pada kisaran 251-300 x 10-4 gram per gabah sebanyak 7,8% dengan gabah hampa yang cukup tinggi yaitu sebesar 30,8% pada interval 0-50 x 10-4 gram per satuan gabah. (2) Pada Inpari 6, aplikasi pupuk NPK disertai dengan pupuk kandang diketahui dapat meningkatkan kemampuan pengisian gabah per malai. Penambahan pupuk kandang tidak menyebabkan peningkatan gabah hampa per malai, sementara itu penambahan NPK dapat menurunkan persen gabah hampa sebanyak 6% dan sebaran bobot gabah tertinggi dengan adanya pemberian pupuk NPK bergeser dari interval 251-300 x 10-4 gram pada kondisi tanpa pemupukan naik menjadi range 301-350 x 10-4 gram dengan peningkatan persentase jumlah gabah yang cukup signifikan sebesar 15,3%, dan (3) Pada Hipa 8, peningkatan kemampuan pengisian gabah dapat dilakukan dengan pemberian pupuk NPK disertai tambahan pupuk mikro Zn, Cu, dan S. Kombinasi pupuk NPK dan mikro dapat menurunkan persen gabah hampa per malai dari 32,3% menjadi 20,6%, serta meningkatkan persen jumlah gabah pada interval bobot 201-250 x 10-4 gram dari 32,5% menjadi 45,5%. Abstract Limitation on grain filling is one issue that it can lower rice production by 20-30%. Fertilization is another factor affecting grain filling. Application problem covered with type, quantity and time of application will influence the filling level. Research objectives was to determine the character of each variety in the grain filling character, especially the effect of fertilization input. The results showed that (1) Variety Inpari 6 and Hipa 8 were both classified by type of tiller number, Hipa 8 had higher number grains per panicle more than Inpari 6. Nevertheless, the highest grain weight per grain of Inpari 6 higher than Hipa 8, i.e. in the interval 301-350 x 10-4 grams of 22.1% of the grains per panicle, while unfilled grain (0-50 x 10-4 g) was below 20%. While on Hipa 8 the highest level of filled grain in the range of 251-300 x 10-4 grams per grain as much as 7.8% unfilled grain quite high at 30.8% at the interval of 0-50 x 10-4 grams per grain. (2) On Inpari 6, NPK fertilizer application accompanied by manure was recommended to improve the grain filling ability per panicle. The addition of manure does not cause an increasing unfilled grain per panicle, while the addition of NPK can reduce unfilled grain as much as 6% and the highest grain weight distribution of NPK fertilizer shifted from the interval 251-300 x 10-4 grams in conditions without fertilization rose to range 301-350 x 10-4 grams with an increased percentage by 15.3%, and (3) on Hipa 8, the improved grain filling ability can be done by giving NPK fertilizer with micro-Zn, Cu, and S. the combination of NPK fertilizers and micronutrients may decrease the percent of unfilled grains per panicle from 32.3% to 20.6%, as well as increasing the number of filled grains weight in the interval 201-250 x 10-4 grams of 32.5% to 45.5 %.
Item
Governing animal welfare through organizational roles: an ex-ante analysis of the Animal Welfare Officer under the Minister of Agriculture Regulation No. 32/2025
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2026-06-30) Syihabuddin, Muhammad Yasin; Putra, Ahmad Romadhoni Surya; Shantosi, Ahmad; Alya, Abidah Thorifatus
Animal welfare has become an increasingly important governance issue in livestock systems, driven by growing public concern, regulatory development, and demands for more credible oversight across production chains. In this context, Indonesia’s Minister of Agriculture Regulation No. 32 of 2025 introduces the Animal Welfare Officer (AWO) as an internal compliance actor within livestock-related operations. Using qualitative documentary analysis, this study evaluates the AWO role as a policy instrument for embedding animal welfare compliance in practice, examining it as an internal governance mechanism within Indonesia’s newly enacted animal welfare regulation. This study contributes to the literature by providing one of the first ex-ante analyses of the Animal Welfare Officer as an internal regulatory intermediary within Indonesia's emerging animal welfare governance framework. The findings show that the regulation recognizes the AWO as an important internal compliance actor, but several key design elements remain insufficiently specified. Compared with the more explicit regulatory construction of animal welfare auditors, the AWO framework provides less clarity on eligibility, competency standardization, and institutionalized training pathways. The regulation also gives limited attention to safeguards for internal reporting, escalation, and consistent implementation across farm, transport, and slaughter contexts. These gaps may undermine the credibility of implementation, especially in multilevel governance settings characterized by uneven institutional readiness and human resource capacity. The study findings recommended that nationally recognized competency specifications, tiered training pathways, stronger collaboration with universities and professional associations, and clearer accountability safeguards be implemented.
Item
Info Literasi: Wereng Batang Cokelat, Hama kecil Berdampak Kerugian Besar
(Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, 2026-07-23) Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian
Item
Kajian Status Mekanisasi Pertanian Mendukung Program Swasembada Padi di Provinsi Papua
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2017-12-01) Nurhasanah, Ana; Budiharti, Uning; Nursani, Daragantina; Wulandari, Septi
Abstrak Konsekuensi dari negara dengan jumlah penduduk yang besar berdampak pada tingginya pemenuhan kebutuhan pangan yang merupakan kebutuhan pokok. Salah satu permasalahan substantif yang dihadapi dalam percepatan pencapaian swasembada pangan adalah semakin berkurangnya jumlah dan mahalnya upah tenaga kerja pertanian serta kurangnya mekanisasi pertanian (alat dan mesin pertanian). Dengan penerapan alsintan dalam kegiatan usaha tani dapat memberikan mutu hasil yang lebih baik dan lebih efisien serta efektif. Selain itu melalui pemanfaatan alsintan, dapat mendukung upaya pemecahan masalah kelangkaan tenaga kerja di sektor pertanian yang banyak terjadi di daerah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status mekanisasi pertanian (alsin produksi padi) di Provinsi Papua untuk mendukung swasembada pangan nasional. Survey data alsin produksi padi ini dilakukan dalam rangka kegiatan identifkasi status mekanisasi serta pemetaan mekanisasi berbasis GIS dalam upaya peningktan produksi padi tahun 2016. Responden dipilih secara purposive sampling. Survey dilakukan di Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura, Merauke, Keerom dan Nabire. Dari hasil survey dapat diketahui bahwa penggunaan alsin produksi padi yang sudah banyak digunakan adalah traktor roda dua, RMU, thresher serta combine harvester, sedangkan alsin traktor roda 4 dan dryer sangat terbatas dan hanya ada di kabupaten Merauke. Traktor roda 2 yang umum digunakan adalah yang bertenaga diesel 8,5 HP, sedangkan thresher bertenaga 6,5 HP. Hasil analisa menunjukkan bahwa tingkat kecukupan alsintan di Provinsi Papua baik tingkat kabupaten maupun tingkat kecamatan pada tahun 2015 rata-rata jenuh. Walaupun demikian alsintan akan sangat banyak diperlukan terkait target pembukaan lahan sawah 9 juta hektar hingga tahun 2025. Untuk mempermudah penyebaran informasi, status mekanisasi pertanian ini dapat secara langsung diakses di katam.info. Abstract The consequenced of a country with a large population is the high food needs which is a basic requirement. Substantive problems encountered in accelerating the achievement of food self-sufficiency one of which is the reduction in the number and high labour costs, and lack of agricultural mechanization (agricultural tools and machines). With the implementation of agricultural machinery in farming activities can provide better quality results and more efficient and effective process. In addition, through the use of agricultural machinery support the efforts to solving the problem of scarcity of labour in the agricultural sector which are prevalent in the area. This study aims to study the status of agricultural mechanization (in rice production) in Papua province to support national food self-sufficiency. Survey data of rice production machinery is carried out within the framework of the identification and mapping of mechanization status based on GIS in an effort to increase rice production in 2016. Respondents were selected by purposive sampling. The survey was conducted in Jayapura, Kota Jayapura, Merauke, Keerom and Nabire. From the survey results can be seen that the use of rice production machinery is already widely used two-wheel tractors, RMU, threshers and combine harvester, while the 4-wheel tractor and dryer is very limited and only exists in the Merauke district. 2-wheel tractor that is commonly used is the diesel-powered 8.5 HP, while thresher powered by 6.5 HP. The analysis shows that sufficient levels of agricultural machinery in Papua province both district and sub-district level in 2015 the average saturated. Nevertheless, agricultural machinery would very necessary regarding the target opening 9 million hectares of paddy fields by 2025. To facilitate the dissemination of information, the status of agricultural mechanization can be directly accessed at katam.info.