Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Karakterisasi Morfologi, Anatomi dan Fisiologi Galur Mutan Gandum yang Ditanam di Dataran Rendah Tropik
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2016) Laela Sari; Agus Purwito; Didy Sopandie; Ragapadmi Purnamaningsih; Enny Sudarmonowati
Informasi karakter mutan gandum diperlukan untuk mengetahui sifat unggul mutan dalam program pemuliaan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kriteria seleksi untuk mendapatkan mutan unggul berasal dari tanaman gandum varietas Alibey yang adaptif di dataran rendah. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan SEAMEO-BIOTROP Bogor (± 250 m dpl) dari bulan April 2013 sampai Desember 2013. Materi yang diteliti terdiri atas 16 galur mutan generasi M3 dari perlakuan EMS terhadap varietas Alibey dan varietas Alibey sebagai pembanding. Data diolah menggunakan rancangan pembesaran dan analisis korelasi. Hasil penelitian menunjukkan mutan Alibey berbeda nyata dengan varietas pembanding untuk peubah panjang tangkai malai (8 mutan), bobot biji/malai (1 mutan), bobot 100 biji (4 mutan) dan bobot biji /tanaman (9 mutan). Peubah waktu berbunga, gabah masak/panen, panjang malai, tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah malai, dan luas daun tidak berbeda nyata dibanding mutan Alibey. Penampilan karakter anatomi termasuk ketebalan daun dan ukuran stomata memperlihatkan perbedaan nyata antara tanaman Alibey mutan (AB0.1.60-1-7-1) dan pembanding. Karakter fisiologi menunjukkan perbedaan yang nyata antara mutan dengan pembanding pada jumlah prolin, yaitu pembanding (4,15 ug/gBB), mutan AB-0.1.60-3- 16-1 (263,47 ug/gBB), AB-0.1.60-3-3-2 (235,90 ug/gBB) dan memiliki kadar glukosa yang berbeda yaitu pembanding (132,88 mg/ml), mutan AB-0.1.60-3-16-1 (181,48 mg/ml), AB-0.1.60-3-3-2 (287,41 mg/ml). Mutan Alibey dapat diseleksi berdasarkan karakter panjang tangkai malai (PTM) dan bobot biji/tanaman (BBT). Kedua karakter tersebut menghasilkan lebih banyak mutan dibanding karakter lainnya. Analisis korelasi PTM dan JM pada semua karakter tidak nyata, sedangkan tinggi tanaman berkorelasi nyata dengan bobot biji/malai dan bobot biji/tanaman. Diharapkan beberapa mutan yang dihasilkan dapat beradaptasi di dataran rendah tropis, sehingga menambah keragaman sumber daya genetik gandum di Indonesia untuk adaptasi di dataran rendah.
Item
Peningkatan Produktivitas Padi di Lahan Sawah Tadah Hujan dengan Aplikasi Pupuk Organik Mol dan Kompos
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2021) Bibit Lilik Lestari; Moh Ardani
Membudidayakan padi di lahan sawah tadah hujan merupakan pilihan yang strategis untuk penyediaan beras nasional. Produktivitas padi pada agroekosistem ini dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, teknik budi daya, dan varietas yang ditanam. Penelitian tentang aplikasi mikroorganisme lokal (pupuk organik MOL) yang dikombinasikan dengan kompos pada berbagai varietas padi sawah tadah hujan telah dilakukan, dengan tujuan untuk mengevaluasi varietas yang responsif terhadap penggunaan MOL + kompos dalam meningkatkan produktivitas padi. Penelitian dilakukan di Desa Kamal, Kecamatan Arjasa, Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada November 2017 - Maret 2018. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor I adalah kombinasi MOL+ kompos (M) yang terdiri atas empat level yaitu M1: kontrol (tanpa MOL dan kompos), M2: 10 cc MOL/I air, disemprotkan setiap 10 hari sekali, M3: Kompos 5 t/ha, M4: 10 cc MOL/I air + 5 t/ ha kompos. Faktor II adalah varietas (V) yang terdiri atas V1: Sintanur, V2: Bojonegoro, V3: Semilir, V4: Sidomuncul. Parameter uji terdiri atas tinggi tanaman, jumlah anakan, kerapatan gabah per malai, berat basah gabah per rumpun, dan berat kering gabah per rumpun. Data dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan uji Duncan 5%. Hasil penelitian menunjukkan aplikasi MOL + kompos meningkatkan tinggi tanaman, jumlah anakan per rumpun, dan kerapatan gabah per malai pada semua varietas. Varietas yang memberikan hasil tertinggi adalah Bojonegoro.
Item
Laju Pertumbuhan Intrinsik dan Neraca Hidup Wereng Cokelat pada Tanaman Padi Akibat Perubahan Iklim Global
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2016) Baehaki.S.E; Eko Hari Iswanto; Dede Munawar
Penelitian laju pertumbuhan intrinsik dan neraca hidup wereng cokelat dilaksanakan di rumah kasa Balai Besar Penelitian Tanaman Padi pada tahun 2012 menggunakan dua varietas padi, yaitu Pelita 1/1 dan Inpari 13. Penelitian bertujuan mengevaluasi pengaruh iklim global terhadap perkembangan wereng cokelat di Sukamandi, Subang, Jawa Barat, setelah tiga dasawarsa sejak penelitian pertama tahun 1984. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan wereng cokelat di Sukamandi pada tahun 2012 sangat berbeda dengan tahun 1984. Laju pertumbuhan intrinsik wereng cokelat pada varietas Pelita 1/1 adalah r = 0,2285 atau 2,22 kali lipat dan pada Inpari 13 adalah r = 0,2209 atau 2,14 kali lipat dalam tiga dasawarsa. Lama waktu satu generasi pada Pelita I/1 dan Inpari 13 lebih singkat 0,81-0,83 kali lipat. Indeks daya bertahan hidup wereng cokelat pada Pelita I/1 mencapai 5,3 kali lipat dan indeks daya bertahan hidup pada Inpari 13 mencapai 5,8 kali lipat dibanding tiga dasawarsa yang lalu. Pada varietas Pelita I/1 tahun 2012 nisbah wereng betina dan wereng jantan adalah 74%: 26%, sedangkan pada varietas Inpari 13 adalah 70,8%: 29,2%. Berdasarkan laju pertumbuhan intrinsik dan neraca hidup wereng cokelat populasi lapang di Sukamandi telah berubah selama tiga dasawarsa. Implikasi dari penelitian ini, dinamika populasi wereng cokelat telah berubah mengarah kepada perkembangan yang lebih tinggi dan dipengaruhi oleh perubahan iklim global.
Item
Efisiensi Penggunaan Pupuk NPK melalui Pemanfaatan Cendawan Mikoriza Arbuskular pada Jagung
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Musfal; Delvian; A. Jamil
Hasil jagung di tingkat petani masih rendah. Upaya peningkatan hasil dan efisiensi penggunaan pupuk melalui pemanfaatan cendawan mikoriza (CMA) adalah salah satu alternatif. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 hingga Februari 2008 di rumah kasa KP Pasar Miring, Sumatera Utara. Percobaan disusun menurut rancangan acak lengkap berfaktor. Sebagai faktor utama adalah CMA (0, 5, 10, 15 dan 20 g/pot) faktor kedua tingkat rekomendasi pupuk dari PHSL jagung di Tiga Binanga (0, 25, 50, 75 dan 100% dari 1,30-0,64-0,80 g/pot urea-SP36-KCI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur N adalah faktor pembatas utama dalam peningkatan hasil jagung di Tiga Binanga. Pemberian CMA yang diikuti oleh pemberian pupuk pada dosis yang lebih rendah meningkatkan efisiensi agronomis pada tingkat yang lebih tinggi. Hasil tertinggi diperoleh pada pemberian 100% pupuk dan 20 g CMA/pot. Pemberian 75% pupuk dan 5 g CMA/pot memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan pemberian 100% pupuk.
Item
Stabilitas dan Hasil Beberapa Galur Harapan Kedelai
(Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, 2009) Ayda Krisnawati; M. Muchlish Adie
Di Indonesia kedelai dibudidayakan pada lingkungan yang beragam sehingga diperlukan varietas berdaya hasil optimal pada berbagai lingkungan. Tujuan penelitian adalah untuk menilai stabilitas 10 galur harapan kedelai di 12 lokasi. Bahan penelitian terdiri atas 10 galur harapan kedelai yaitu SHRW60/100H-21-16- 33-9, SHRW60/100-36-47-45-16, SHRW60/100-37-4-46-17.. SHRW60/100-37-4-47-18, SHRW60/100-39-5-48-19, SHRW60/ 100H-154-131-36-78-1, SHRW60/100H-136-42-160-33, SHRW60/ 100H-154-131-36-78-2, A/W-C-6-60, dan A/W-C-6-62 serta dua varietas pembanding berukuran biji besar (Burangrang dan Anjasmoro). Penelitian dilaksanakan pada MT 2008 di 12 lokasi. Rancangan percobaan yang digunakan di setiap lokasi penelitian adalah acak kelompok, 12 perlakuan, dan setiap perlakuan diulang empat kali. Setiap galur ditanam pada petak berukuran 2,8 m x 4,5 m, jarak tanam 40 cm x 15 cm, dua tanaman per rumpun. Stabilitas dan adaptabilitas galur-galur yang diuji dihitung menurut metode analisis AMMI. Kisaran hasil 12 galur adalah 1,94-2,39 tha, dengan rata-rata 2,11 t/ha. Varietas pembanding Burangrang memiliki daya hasil (2,22 t/ha) lebih tinggi daripada Anjasmoro (2,17 t/ha). Hasil tertinggi dimiliki oleh galur Aochi/W.C.6.62, yaitu 2,39 t/ha. Hasil analisis gabung memperlihatkan bahwa lokasi dan galur, serta interaksinya sangat nyata untuk hasil biji. Artinya, galur tertentu akan tumbuh baik pada lingkungan tertentu, tetapi belum tentu baik bila ditanam pada lingkungan yang lain. Penggunaan model AMMI (Additive Main Effects and Multiplicative Interaction) untuk analisis data hasil kedelai menunjukkan bahwa galur Shr.W.60/IAC.100-39- 5-48-19 teridentifikasi stabil (beradaptasi luas), sedangkan sebelas galur lainnya tidak stabil (beradaptasi spesifik lokasi). Galur Shr.W.60/IAC.100-39-5-48-19 memiliki hasil lebih tinggi daripada varietas pembanding Anjasmoro, dan hampir sama dengan varietas Burangrang. Galur Aochi/W.C.6.62 yang berdaya hasil paling tinggi dan beradaptasi spesifik lokasi. Galur Shr.W.60/IAC.100-39-5-48- 19 dapat diusulkan untuk dilepas sebagai varietas unggul berdaya hasil tinggi.