Repositori Kementerian Pertanian
Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:
- terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
- berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
- tidak berkala (leaflet, poster, infografis)
Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.
Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Communities in Repositori
Select a community to browse its collections.
Now showing 1 - 10 of 10
Recent Submissions
Item
Penerapan Teknologi Integrasi Tanaman-Ternak pada Lahan Kering Iklim Kering di NTT
(IAARD Press, 2014-11-04) Seran, Yohanes Leki; Kote, Medo
Sistem pertanian yang diterapkan oleh masyarakat di NTT sebagian besar merupakan sistem pertanian lahan kering dengan menerapkan sistem pertanian perladangan berpindah. Pemanfaatan lahan kering oleh petani di NTT masih berada pada tingkatan subsisten dengan tingkat produksi rendah, sementara sistem pemeliharaan ternak sapi umumnya mengandalkan sumber pakan ternak dari rumput di padang penggembalaan alam. Oleh karena itu, upaya perbaikan teknologi yang diterapkan pada sistem usahatani di daerah lahan kering beriklim kering dapat dilakukan melalui perbaikan sistem usahatani terpadu tanaman-ternak. Penelitian ini bertujuan: (1) mengintroduksi model sistem pertanian terpadu yang dapat menyediakan bahan pangan di wilayah kering berikim kering dan (2) meningkatkan produktivitas sistem usahatani di lahan kering. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Malaka/Belu pada tahun 2013. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan on farm research yang melibatkan petani secara aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) sistem yang diperkenalkan dapat mengintegrasikan tanaman dan ternak dalam suatu sistem usahatani terpadu,
di mana limbah pertanian diolah menjadi pakan konsentrat yang bermanfaat; (2) proses pembuatan pakan konsentrat dari limbah akan menggunakan fasilitas yang disiapkan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Belu; (3) ternak sapi penggemukan yang diaplikasikan pakan konsentrat sejumlah 10 ekor dan lainnya sebagai pembanding dalam penelitian ini yang disediakan oleh petani; (4) rata-rata pertambahan bobot badan harian adalah 0,4 kg/ekor/hari. Produktivitas kacang hijau dapat mencapai 1,1 t/ha dan produksi biomassa kacang hijau sebanyak 2,43 t/ha
Item
Pemanfaatan Limbah Usaha Ternak Sapi Perah untuk Biogas Mendukung Kemandirian Energi di Perdesaan: Kasus di Desa Bendosari, Malang, Jawa Timur
(IAARD Press, 2014-11-04) Purwantini, Tri Bastuti
Dengan semakin langkanya energi tidak terbarukan, maka diperlukan solusi dengan memanfaatkan sumber-sumber energi baru yang terbarukan. Limbah usahaternak merupakan biomassa yang dapat diolah menjadi biogas. Mengingat jumlah populasi ternak yang diusahakan di perdesaan cukup banyak, maka peluang pengembangan teknologi biogas sangat terbuka lebar. Tujuan tulisan ini adalah mengkaji peluang pengembangan biogas di perdesaan dengan basis peternakan sapi perah. Data yang digunakan dalam tulisan ini adalah bagian dari data penelitian Patanas yang dilakukan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Analisis data dilakukan secara deskriptif. Usaha ternak sapi perah merupakan andalan pendapatan kedua setelah usahatani pada lahan tegalan (basis sayuran). Kisaran penguasaan sapi perah berkisar 1-8 ekor per rumah tangga, atau rata-rata 3 ekor. Dengan kondisi tersebut, maka rata-rata pendapatan atas biaya tunai dari usahaternak sapi perah adalah sekitar Rp11,48 juta per tahun. Bila memperhitungkan biaya nontunai seperti pakan, potensi selisih nilai sapi selama setahun, maka pendapatan rumah tangga dari peternakan sapi perah lebih rendah. Sekitar 69% rumah tangga contoh mengusahakan ternak sapi perah, namun jumlah ternak yang limbahnya diolah menjadi biogas baru 16% dari total populasi. Dengan memanfaatkan kotoran ternak sapi perah berarti akan menambah pendapatan peternak. Selain memperoleh biogas, peternak juga memperoleh hasil sampingan berupa pupuk organik yang berkualitas. Reaktor biogas yang disarankan untuk dikembangkan adalah model digester fixtum yang mempunyai daya tahan relatif lama dibanding tipe lainnya
Item
Integrasi Pengembangan Integrasi Tanaman Jagung dengan Ternak Ruminansia
(IAARD Press, 2014-11-04) Syafruddin
Kebutuhan daging meningkat setiap tahun dan saat ini sebagian masih harus diimpor. Upaya yang dilakukan untuk swasembada daging adalah meningkatkan populasi ternak dalam negeri. Salah satu kendala utama peningkatan populasi ternak ruminansia adalah ketersedian pakan, terutama pada musim kemarau. Pemanfaatan biomassa jagung merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi masalah ketersediaan pakan. Program pengembangan jagung di Indonesia adalah untuk swasembada berkelanjutan dan pada tahun 2014 ditargetkan produksi jagung sebesar 20,83 juta ton biji. Produksi jagung sebesar itu akan menghasilkan potensi biomassa sebesar 20,83–36,8 juta ton yang dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak. Biomassa jagung dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan kotoran ternak dijadikan pupuk kandang/organik, menghasilkan sistem integrasi yang bebas limbah. Integrasi tanaman jagung-ternak di samping meningkatkan pendapatan usahatani dari hasil jagung dan ternak, juga meningkatkan efisiensi usahatani karena masing-masing mempunyai limbah yang dapat saling memanfaatkan. Dalam mengintegrasikan pengembangan jagung dengan ternak diperlukan
pengelolaan tanaman jagung yang tepat untuk memperoleh biomassa pakan yang tinggi tanpa menyebabkan penurunan hasil biji, di samping bebas residu pestisida. Di samping itu, diperlukan pengolahan biomassa agar ketersediaan dan mutu nutrisi pakan terjamin selama pertumbuhan ternak.
Item
Implementasi Sistem Integrasi Pertanian-Energi Berbasis Limbah Perkebunan dengan Sumber Daya Hayati di Sulawesi Tenggara
(IAARD Press, 2014-11-04) Rusdi
Penggunaan teknologi produksi dengan pendekatan ekologi atau disebut teknologi ramah lingkungan adalah teknologi pemanfaatan sumber daya energi dari satu subsistem usahatani terpadu, saling menguntungkan, dan menghasilkan produk terbarukan yang bernilai ekonomi. Teknologi tersebut terbukti mampu mendukung peningkatan kesuburan tanah dan mengurangi degradasi lahan akibat erosi dan aliran permukaan dan mampu menekan serangan organisme pengganggu tanaman, sehingga ada keberlanjutan dan peningkatan pendapatan usahatani. Salah satu teknologi yang telah diterapkan oleh petani di Sulawesi Tenggara menyangkut pemanfaatan sumber daya energi berbasis limbah perkebunan dan bioproduk dari agen hayati adalah teknologi biokontrol dan biopestisida dari golongan jamur Aspergillus niger dan Trichoderma. Aspergillus niger digunakan pada fermentasi cangkang kakao untuk menurunkan kadar serat kasar dan menetralkan kadar theobromim sehingga meningkatkan kadar nutrisi protein yang dibutuhkan oleh ternak sapi. Trichoderma digunakan untuk mengendalikan penyakit busuk pangkal batang pada tanaman lada. Bahan untuk memproduksi Aspergillus niger terdiri dari isolat Aspergillus niger 0,5% dan media pembawa (Urea 1% + SP-36 0,25% + KCl 0,25% + gula pasir 1% + air 10 liter), sedangkan bahan untuk memproduksi Trichoderma terdiri dari isolat Trichoderma 10% dan
media pembawa (dedak 30% + serbuk gergaji 30% + rumput alang-alang 30%). Berdasarkan hasil uji laboratorium diperoleh kandungan serat kasar yang difermentasi tanpa Aspergillus niger adalah 33,70%, sedangkan yang fermentasi menggunakan Aspergillus niger adalah 3,89% atau turun sebesar 29,81%. Di samping itu, kandungan protein meningkat dari 7,40% tanpa Aspergillus niger menjadi 13,88% dengan Aspergillus niger. Sementara, kajian di lapangan menunjukkan bahwa biopestisida Trichoderma setelah 2 tahun aplikasi mampu menurunkan intensitas serangan penyakit busuk pangkal batang sebesar 40%.
Item
Keberlanjutan agroindustri penggilingan padi skala besar di Kabupaten Subang, Jawa Barat
(Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, 2023-06) Dewi, Norma; Noor, Trisna Insan; Trimo, Lucyana
Produksi beras dalam negeri sebagai sumber utama bagi ketersediaan pangan pokok di suatu daerah. Dalam rantai produksi beras, usaha penggilingan padi memiliki posisi penting sebagai sumber stok beras terbesar kedua setelah yang disimpan di rumah tangga. Dalam tahun 2012-2020 jumlah usaha penggilingan padi nasional mengalami penurunan dari 182.199 unit menjadi 169.789 unit, atau turun 6,81%. Dalam periode yang sama, usaha penggilingan padi skala besar menurun sebesar 49,11%, dari 2.075 unit usaha menjadi 1.056 unit. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat keberlanjutan usaha penggilingan padi skala besar di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Metode analisis yang digunakan adalah mix method dan alat analisis menggunakan MDS dengan pendekatan RAP-RICEMILL. Hasil penelitian menunjukkan dimensi ekologi mempunyai indeks 68,42 (cukup berkelanjutan), dimensi ekonomi indeks 67,71 (cukup berkelanjutan), dimensi sosial indeks 48,34 (kurang berkelanjutan), dimensi teknologi indeks 61,31 (cukup berkelanjutan), dimensi hukum dan kelembagaan indeks 59,94 (cukup berkelanjutan). Berdasarkan hasil penelitian ini direkomendasikan perlunya dilakukan komunikasi antara pemerintah dengan para pelaku usaha penggilingan sehingga berbagai kebijakan yang diberlakukan tidak merugikan para pelaku usaha, petani maupun konsumen. Selain itu disarankan perlu mengaktifkan asosiasi penggilingan padi dalam memfasilitasi pengembangan usaha penggilingan, pemanfaatan hasil samping seperti bekatul dan sekam untuk meraih nilai ekonomi yang lebih tinggi, perluasan jaringan pemasaran, dan pengembangan kemitraan dengan petani untuk pasokan gabah. Penggilingan padi perlu meningkatkan kapasitas dan menggunakan teknologi yang lebih modern agar dapat menghasilkan kualitas beras yang bagus dengan biaya operasional yang rendah.
DOI: https://doi.org/10.21082/akp.v21i1.57-74