Repositori Kementerian Pertanian

Repositori Publikasi Kementerian Pertanian merupakan kumpulan koleksi digital dari publikasi terbitan lingkup Kementerian Pertanian. Publikasi terdiri dari:

  • terbitan berkala ilmiah (scientific journal, scientific periodical)
  • berkala semi ilmiah (semi populer jurnal)
  • tidak berkala (leaflet, poster, infografis)

Repositori dikelola oleh Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi ilmiah sebagai bagian dari komitmen pelayanan publik Kementerian Pertanian dalam penyediaan informasi pertanian.

Guna meningkatkan mutu layanan yang lebih baik, kami mengharap kesediaan Saudara berkenan mengisi Survey Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terkait layanan Repositori Publikasi Kementerian Pertanian pada link berikut ini https://pustaka.bppsdmp.pertanian.go.id/surveypustakadigital/.

Image by nikitabuida on Freepik
 

Recent Submissions

Item
Sistem Usaha Tani Berbasis Padi
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Wardana, I Putu; M. Toha, Husin; Sembiring, Hasil; M. Fagi, Achmad
Pendahuluan Pengentasan dan pengurangan kemiskinan merupakan program pemerintah, maka selalu dianggarkan dari tahun ke tahun. Dalam dua-tiga tahun terakhir program tersebut diwujudkan dalam bentuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada orang-orang miskin dan penjualan beras murah untuk orang-orang miskin (raskin). Kedua bantuan tersebut merefleksikan pelaksanaan komponen pertama dan kedua dari the Millenium Development Goals (MDG), yaitu: (1) mengurangi separuh jumlah penduduk dunia yang kelaparan, dan (2) mengurangi separuh jumlah penduduk yang berpenghasilan kurang dari US$ 1,0 per hari. Bantuan keuangan dan kemudahan akses penduduk miskin ke pangan pokok beras belum memenuhi sasaran keempat dan kelima dari MDG, yaitu: (1) mengurangi laju kematian anak balita (di bawah umur 5 tahun) sebanyak dua per tiga, dan (2) mengurangi tiga per empat rasio kematian ibu. Sasaran keempat dan kelima dari MDG itu erat kaitannya dengan malnutrisi yang diakibatkan oleh gizi makanan yang rendah, diistilahkan sebagai hidden hunger. International Plant Genetic Resources (IPGRI) dan Global Facilitation Unit for Underutilized Species (GFUS) bekerja sama dengan M.S. Swaminathan Research Foundation, menginventarisasi jenis-jenis tanaman sayuran dan sumber karbohidrat lokal-tradisional yang kaya vitamin dan mineral, yang dapat dimasukkan ke dalam menu makanan sehari-hari. Jenis-jenis tanaman itu dapat ditanam di lahan usaha tani penduduk, termasuk di pekarangan. Lahan usaha tani penduduk dapat berupa lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan, lahan kering berombak/berlereng, lahan rawa lebak, dan lahan pasang surut. Di daerah aliran sungai (DAS) Jratunseluna (Jragung, Tuntang, Serang, Lusi, dan Juana) di Jawa Tengah, dan di DAS Brantas, rata-rata dari 12 komunitas memiliki lahan sawah, lahan kering, dan pekarangan dengan proporsi berbeda (Tabel 1). Data penguasaan lahan usaha tani ini menunjukkan adanya peluang untuk menanam jenis tanaman hortikultura (tradisional atau baru) dan untuk memelihara ternak ruminansia besar atau kecil dan unggas.
Item
Pengembangan Agroindustri Padi
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Thahir, Ridwan; Rachmat, Ridwan; Suismono
Pendahuluan Kebijakan pengembangan padi nasional selama lebih dari tiga dasawarsa yang lalu lebih terfokus kepada upaya peningkatan produksi melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi. Akhir-akhir ini telah disadari pentingnya insentif bagi petani yang mampu meningkatkan kualitas beras. Hal ini memberi gambaran bahwa perhatian sudah mulai terfokus kepada agroindustri, selain peningkatan produktivitas dan produksi padi. Ke depan, kebijakan pembangunan pertanian tanaman pangan tidak terjebak ke dalam peningkatan produktivitas dan produksi padi semata. Upaya peningkatan produktivitas padi harus sejalan dengan usaha untuk membangun kemampuan mengolah produk samping. Agroindustri padi yang menghasilkan produk berdaya saing tinggi adalah industri padi yang mampu menghasilkan beras giling dan produk samping yang bernilai tinggi pula. Pemanfaatan plasma nutfah padi yang mempunyai sifat-sifat khusus untuk pengembangan produk-produk baru dari gabah, sekam, jerami, dan sifat fungsional beras perlu dirintis. Penelitian dan inovasi di bidang penanganan dan pengolahan, baik untuk tujuan konsumsi rumah tangga, maupun pakan, energi terbarukan, dan bahan baku kimia dari padi akan semakin diperlukan. Tulisan ini membahas peranan unit penggilingan dalam menggerakkan agroindustri padi dan potensi pengembangannya. Rasional yang digunakan adalah: (a) padi tetap menjadi makanan pokok penduduk Indonesia sehingga produktivitasnya harus ditingkatkan, (b) unit penggilingan padi adalah lembaga penanganan primer yang menentukan keberhasilan konversi padi-beras, dan (c) daya saing unit penggilingan padi dapat ditingkatkan melalui pengolahan hasil sampingnya.
Item
Kedudukan Padi Dalam Perekonomian Indonesia
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Suryana, Achmad; Mardianto, Sudi; Kariyasa, Ketut; Wardana, I Putu
Pendahuluan Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan salah satu hak manusia yang paling asasi dan salah satu faktor penentu ketahanan nasional. Oleh karena itu, kekurangan pangan secara meluas di suatu negara akan menyebabkan kerawanan ekonomi, sosial, dan politik yang dapat menggoyahkan stabilitas. Bagi Indonesia, beras merupakan pangan pokok yang sangat dominan. Pengalaman menunjukkan bahwa kelangkaan penyediaan beras yang menyebabkan melonjaknya harga beras pada tahun 1966 dan 1998, baik secara langsung ataupun tidak langsung, memperparah krisis ekonomi, sosial, dan politik pada saat itu yang berujung pada pergantian pemerintahan. Kebijakan peningkatan kesejahteraan petani padi mempunyai arti yang sangat strategis, mengingat peran beras dalam perekonomian Indonesia masih cukup besar. Ada empat indikator yang dapat digunakan untuk menilai peran tersebut yaitu: (a) usaha tani padi menghidupi sekitar 20 juta keluarga petani dan buruh tani, serta menjadi urat nadi perekonomian pedesaan; (b) permintaan terhadap beras terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk karena belum berhasilnya program diversifikasi pangan, (c) produksi beras di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan yang fluktuatif akibat bencana alam, serangan hama penyakit, dan kenaikan beras harga pupuk dan pestisida; dan (d) usaha tani padi masih menjadi andalan dalam penyerapan tenaga kerja di pedesaan. Dalam penyediaan domestik, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala internal, khususnya yang berkaitan dengan terbatasnya kapasitas produksi nasional yang disebabkan, antara lain oleh: (a) konversi lahan pertanian ke non pertanian; (b) menurunnya kualitas dan kesuburan tanah akibat degradasi lingkungan dan kerusakan daerah aliran sungai (DAS), (c) semakin terbatas dan tidak pastinya ketersediaan air irigasi untuk mendukung kegiatan usaha tani padi akibat perubahan iklim mikro dan persaingan pemanfaatan sumber daya air dengan sektor permukiman dan industri, (d) kurangnya pemeliharaan jaringan irigasi sehingga sekitar 30% di antaranya mengalami kerusakan; dan (e) semakin tidak pastinya pola hujan akibat perubahan iklim global.
Item
Padi, Tanaman Ekspansif Dari Timur Ke Barat
(Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, 2008-06-01) Tjondronegoro, Sediono M.P.
Pendahuluan Pada umumnya hubungan antara kebudayaan dan khususnya perilaku manusia dengan pembudidayaan tanaman padi dapat dipahami melalui cara dan teknik bercocok tanam. Segi-segi kebudayaan lainnya seperti perlambangan (simbolik), penilaian, dan pemujaan, terekam dalam literatur atau ensiklopedi sejak awal abad ke-20 sampai sekarang. Mungkin karena itulah penting untuk lebih banyak mempelajari, merekam, dan mematau segi-segi kebudayaan tersebut. Mengapa? Sejak awal abad ke-20, padi menghasilkan pangan utama yang dimakan oleh sekitar setengah penduduk dunia. Tidak ada "serealia" (gandum, jagung, dan lain-lain) atau makanan utama lainnya (umbi-umbian) yang penyebaran pembudidayaannya seluas padi. Artinya, dengan jumlah penduduk bumi yang sekitar 6 miliar pada pertengahan abad ke-21, luas pertanaman padi juga perlu bertambah. Seberapa jauh diversifikasi pangan akan mengubah kecenderungan tersebut, sulit diramalkan. Sedikit banyak hal itu akan bergantung pada penurunan tingkat kemiskinan yang sekarang tampaknya masih diderita oleh sekitar 800 juta orang, di antaranya banyak yang makan nasi seperti di India Selatan, Bangladesh, dan Asia Tenggara. Penduduk Afrika yang masih menderita kemiskinan lebih banyak memakan umbi-umbian dan pisang sehingga relatif kurang relevan dengan budi daya padi.
Item
buletin PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT Volume XII No 1,2001 ; buletin litro vol xii no1,2001 hlmn ; 1-39
(Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, 2001-12-01) Volume xii No 1,2001